Jumat, 31 Mei 2013

ARTIKEL PEMBELAJARAN GI by Fantasy Learning



ARTIKEL HASIL PENELITIAN

Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Group Investigation By Fantasy Learning Terhadap Hasil Belajar IPS

 









Oleh :
I PUTU SUTRISNA
NIM 0811031367
                       




JURUSAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
 SINGARAJA
2012






PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF GROUP INVESTIGATION BY FANTASI LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR IPS

Oleh
I Putu Sutrisna, 0811031367
Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar

ABSTRAK

Belum optimalnya pembelajaran di sekolah dasar terutama dalam pembelajaran IPS mengakibatkan hasil belajar siswa tidak mencapai hasil optimal. Peran siswa dalam pembelajaran yang hanya sebagai obyek, bukan subjek belajar juga sangat berperan mendorong kemajuan pendidikan di sekolah dasar. Hal tersebut salah satunya disebabkan oleh pengetahuan guru yang kurang dalam mengkemas pembelajaran menjadi pembelajaran yang efektif dan efisien. Salah satunya adalah model pembelajaran kooperatif group investigation by fantasi learning, adalah pembelajaran yang efektif dan efisien yang diharapkan dapat mengoptimalkan hasil belajar siswa.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif group Investigation by fantasy learning  terhadap hasil belajar  IPS siswa kelas V SD No. 2 Cemagi, Kabupaten Badung.
Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SD No. 2 Cemagi Kabupaten Badung tahun ajaran 2012/2013 yang banyaknya 60 orang siswa dan  penelitian ini menggunakan populasi studi.
Data tentang hasil belajar IPS dikumpulkan dengan instrumen berupa tes pilihan ganda biasa dan data tentang proses belajar dikumpulkan melalui teknik observasi sesuai dengan karakter yang dikembangkan. Data ini analisisnya dengan t-test.
Hasil penelitian menunjukkan, terdapat pengaruh yang signifikan antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif group investigation by fantasi learning dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional ( thit = 8,667  >  ttabel = 2,000 ) dengan db = 58 ( Ʃn-2 = 60 – 2 = 58 ) dan taraf signifikansi 5%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif group investigation by fantasi learning berperaruh signifikan terhadap hasil belajar IPS siswa kelas V SD No. 2 Cemagi Kabupaten Badung.

Kata-kata kunci : model pembelajaran,  hasil belajar.






1.      Pendahuluan
Sampai saat ini persoalan pendidikan yang dialami bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan, khususnya pendidikan dasar. Berbagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan telah dan terus dilakukan, mulai dari pelatihan untuk meningkatkan kualitas guru, penyempurnaan kurikulum secara periodik, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan sampai dengan peningkatan manajemen sekolah. Namun, indikator kearah mutu pendidikan belum menunjukkan peningkatan yang signifikan.
Peran siswa dalam konteks pembelajaran konstruktivisme ketika pembelajaran berpusat pada siswa adalah belajar dan mencari sendiri arti dari materi yang mereka pelajari yang merupakan proses penyesuaian konsep dan ide-ide baru dengan kerangka berpikir yang telah ada dalam pikiran mereka dan siswa sendirilah yang bertanggung jawab atas hasil belajarnya. Degeng (2000 ; 7) menyatakan Pada dimensi Kontruktivistik, pembelajaran lebih banyak diarahkan untuk meladeni pertanyaan atau pandangan siswa. Dengan demikian, aktivitas belajar lebih didasarkan pada data primer dan bahan manipulatif dengan penekanan pada keterampilan berpikir kritis, seperti; analisis, membandingkan, generalisasi, memprediksi, dan mengipotesis. Jadi tujuan pembelajaran kontruktivistik sangat menekankan pada proses pembelajaran disamping juga hasil belajar siswa. Suatu tujuan pembelajaran dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan apabila model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diberikan oleh seorang guru. Dengan demikian  pemilihan sebuah model pembelajaran merupakan bagian penting dalam merencanakan atau mendesain pembelajaran, agar terjadi interaksi antara siswa dengan guru, siswa dengan siswa maupun siswa dengan sumber belajar lainnya.
Dalam proses pembelajaran, materi pembelajaran disampaikan dengan metode ceramah, tanya jawab dan tugas individu. Hal ini dilakukan  karena terbatasnya pemahaman guru akan pengetahuan tentang pembelajaran yang inovatif, sehingga pembelajaran dikelas tidak berlangsung optimal. Hal ini dapat dibuktikan dengan hasil belajar  sebelumnya pada tahun ajaran 2011/2012 pada mata pelajaran IPS masih dibawah standar ketuntasan 7,00  dan standar ketuntasan kelas sesuai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 70 persen (Dokumen nilai ulangan umum). Hasil Belajar  siswa dari 60 siswa kelas VA dan VB yang memperoleh nilai diatas 7,00 ada 27 orang, selebihnya 33 siswa masih dibawah standar terendah 7,00. Persoalannya, bukan hanya karena kemampuan siswa yang rendah, namun perlu dikaji faktor yang paling mendasar dalam mempengaruhi rendahnya Hasil Belajar  siswa. Berdasarkan hal tersebut teridentifikasi masalah seperti ; (1) rendahnya hasil belajar IPS siswa kelas Va dan Vb SD No. 2 Cemagi, (2) strategi guru dalam membelajarkan siswa masih belum optimal, (3) guru kurang menguasai model pembelajaran yang inovatif dan kreatif.
Untuk mengatasi persoalan tersebut maka akan dilakukan penelitian sebagai solusi dan memecahkan permasalahan. Untuk mengotimalkan hasil belajar  siswa, perlu diadakan situasi pembelajaran yang menyenangkan dan merangsang minat siswa untuk lebih antusias berperan aktif dalam proses pembelajaran. Untuk mengetahui perubahan ke arah yang lebih baik dipandang perlu dilakukan Penelitian. Pada penelitian ini model pembelajaran kooperatif Group Investigation by fantasy Learning. Vygotsky (dalam Asma ; 40) menekankan bahwa ”children’s cognitive development is promoted and enhanced trough they interactions with more advancet and capable individuals”. Pada seting belajar kooperatif, siswa dihadapkan pada proses berpikir teman sebaya mereka. Model ini tidak hanya menciptakan belajar terbuka untuk seluruh siswa, sehingga terjadi interaksi yang baik antara sesama siswa dan juga antara guru dan siswa. Dengan menerapkan model ini diharapkan tujuan pembelajaran dapat tercapai optimal, yaitu khususnya pada mata pelajaran IPS sesuai dengan standar ketuntasan minimal 7,00, karena dengan model pembelajaran kooperatif Group Investigation by fantasy Learning berpegang teguh dengan paradigma pembelajaran kontruktivistik. Siswa dapat melakukan pembelajaran yang meraka inginkan dan tidak hanya didominasi oleh ceramah guru dengan melalui fantasy learning yang mengajak siswa berkarya wisata, pada suasana yang ingin dipelajari dengan berinteraksi dengan sumber belajar yang disediakan guru. Yang mendasari model pembelajaran kooperatif Group Investigation by fantasy Learning adalah pembelajaran kooperatif Group Investigation.
Group Investigation merupakan  salah satu bentuk model pembelajaran kooperatif  yang menekankan pada partisipasi dan aktivitas siswa untuk mencari sendiri informasi materi pelajaran yang akan dipelajari melalui bahan-bahan yang tersedia, misalnya dari buku pelajaran, gambar, video, atau siswa dapat mencari melalui internet.  Siswa dilibatkan sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Tipe ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok. Model Group Investigation dapat melatih siswa untuk menumbuhkan kemampuan berfikir mandiri. Keterlibatan siswa secara aktif dapat terlihat mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir pembelajaran. Dalam model Group Investigation terdapat tiga konsep utama, yaitu: penelitian atau inquiri, pengetahuan atau knowledge, dan dinamika kelompok atau the dynamic of the learning group, (Winataputra, 2001:75). Penelitian disini adalah proses dinamika siswa memberikan respon terhadap masalah dan memecahkan masalah tersebut. Pengetahuan adalah pengalaman belajar yang diperoleh siswa baik secara langsung maupun tidak langsung. Sedangkan dinamika kelompok menunjukkan suasana yang menggambarkan sekelompok saling berinteraksi yang melibatkan berbagai ide dan pendapat serta saling bertukar pengalaman melaui proses saling beragumentasi. Hal ini juga dikukung oleh pendapat Krismanto (2003:7) yang memberikan penjelasan tentang investigasi, yaitu sebagai kegiatan pembelajaran yang memberikan kemungkinan siswa untuk mengembangkan pemahaman siswa melalui berbagai kegiatan dan hasil yang benar sesuai pengembangan yang dilalui siswa. Investigation berkaitan dengan kegiatan mengobservasi secara rinci dan menilai secara sistematis. Jadi investigasi adalah proses penyelidikan yang dilakukan seseorang, dan selanjutnya orang tersebut mengkomunikasikan hasil perolehannya, dapat membandingkannya dengan perolehan orang lain, karena dalam suatu investigasi dapat diperoleh satu atau lebih hasil. Maka akan terjadi interaksi untuk menemukan satu jawaban yang paling tepat dengan juga bimbingan dari guru dan sumber-sumber belajar yang tersedia.
Namun terkadang ketika siswa menggali informasi siswa merasa bosan hanya dengan buku paket yang di sediakan guru di sertakan LKS saja dan itupun LKS dari penerbit tertentu. Hal ini mengakibatkan siswa hanya aktif beberapa saja yaitu ketua kelompok dan yang membaca buku saja. Munculnya inisiatif untuk mencoba meneliti dan mengembangkan model pembelajaran Group Investigation dengan mengembangkan situasi ketika siswa sedang berinvestigasi menelititopik apa yang akan di pelajari, yaitu dengan menambahkan suasana seakan-akan seluruh anggota kelompok berada pada suasana yang akan diteliti informasinya menggunakan Fantasy Learning. fantasy Learning mengarahkan siswa untuk membuka cakrawala pikirannya, membayangkan berada pada suasana ketika materi tertentu, yang akan dipelajarinya. Melalui penataan dan penyediaan sumber belajar yang mendukung sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal.
Secara mendasar, fantasy bukanlah sesuatu kenyataan sesungguhnya, tetapi dapat menjadi sesuatu yang sebenarnya. Ketika seseorang tidak dapat menjangkau sesuatu yang ingin dialaminya maka dengan fantasy hal tersebut dapat dicapai dan dirasakan. Tentunya hal tersebut hanya dirasakan oleh individu tersebut karena setiap individu memiliki daya fantasy yang berbeda. Wiki Pedia (2012) mengungkapkan fantasy adalah suatu yang berhubungan dengan khayalan atau dengan sesuatu yang tidak benar-benar ada dan hanya ada dalam benak atau pikiran saja. Webster's New World Dictionary (dalam blog dramaswati), sedikit banyak berkaitan dengan serangkaian citra atau gambaran, seperti yang muncul dalam lamunan, yang biasanya mengandung sejumlah hasrat yang tidak terpenuhi.  fantasy merupakan kemampuan jiwa untuk membentuk tanggapan-tanggapan atau bayangan-bayangan baru. Dengan kekuatan fantasy manusia dapat melepaskan diri dari keadaan yang dihadapinya dan menjangkau ke depan, ke keadaan-keadaan yang mendatang, maupun peristiwa peristiwa masa lampau.
Dramaswati (2010) menjelaskan,nmacam-macam fantasy yaitu (a) fantasy yang menciptakan atau kreatif merupakan bentuk atau jenis fantasy yang menciptakan sesuatu. fantasy model ini banyak dimilki oleh seniman, desainer juga anak-anak, (b) fantasy yang dituntun atau terpimpin, yaitu merupakan bentuk atau jenis fantasy yang dituntun oleh fihak lain. Misal seorang yang melihat film, orang ini dapat meliputi apa yang dilihatnya dan dapat berfantasi tentang keadaan atau tempat-tempat lain dengan perantaraan film itu, sehingga dengan demikian fantasinya dituntun atau dipimpin oleh film tersebut. Sehingga fantasy sebagai stimulus terhadap apa yang pernah dirasakan oleh siswa pada lingkungan sekitarnya.
Bila dari caranya orang berfantasi, fantasy dapat dibedakan menjadi tiga yaitu; (a) fantasy yang mengabstraksi, yaitu cara orang berfantasi dengan mengabstraksikan beberapa bagian, sehingga ada bagian-bagian yang dihilangkan. Misal anak yang belum pernah melihat gurun pasir, maka untuk menjelaskan maka dipakailah bayangan hasil persepsi yaitu lapangan. Bayangan lapangan ini dipakai sebagai loncatan untuk menjelaskan gurun pasir tersebut. Dalam anak berfantasi gurun pasir itu, banyak bagian-bagian lapangan yang diabstraksikan. Dalam berfantasi gurun pasir dibayangkan seperti lapangan, tetapi tanpa pohon-pohon disekitarnya, dan tanahnya itu melulu pasir semua, bukan rumput. (b) fantasy yang mendeterminasi, yaitu cara orang berfantasi dengan mendeterminasi terlebih dahulu. Misal anak belum pernah melihat harimau, hewan yang telah mereka kenal kucing, maka kucing digunakan sebagai bahan untuk memberikan pengertian tentang harimau. Dalam berfantasi harimau, dalam bayangan seperti kucing, tetapi bentuknya besar. (c) fantasy yang mengombinasi, yaitu individu berfantasi dengan cara mengombinasikan pengertian atau bayangan-bayangan yang ada pada individu bersangkutan. Misalnya berfantasi tentang ikan duyung, yaitu kepalanya kepala seorang wanita, tetapi badannya badan ikan. Jadi adanya kombinasi dari kepala manusia badan ikan. fantasy yang mengombinasi inilah yang banyak digunakan. Misal ingin membuat rumah dengan mengombinasikan rumah model eropa dengan atap model jerami.
Fantasi bila dibandingkan dengan kemampuan-kemampuan jiwa yang lain, fantasy lebih bersifat subjektif. Ketika individu berfantasi bayang atau tanggapan-tanggapan yang telah ada dalam dirinya memegang peran yang sangat penting. Bayangan yang ditimbulkan karena fantasy disebut bayangan fantasi. Bayangan fantasy berlainan dengan bayangan persepsi. Bayangan persepsi merupakan hasil dari persepsi, sedang bayangan fantasy adalah hasil dari fantasi. Oleh karena dengan kekuatan fantasy orang dapat menjangkau ke depan, maka fantasy mempunyai arti yang penting dalam kehidupan manusia. Jadi ketika fantasy diarahkan kedalam kegiatan pembelajaran maka suasana yang tidak mungkin kita jangkau misalnya suasana masa lampau kita dapat pimpin atau arahkan fantasy siswa ke masa tersebut dengan perantara yang sesuai. Siswa akan sangat merasa tertarik dengan pembelajaran tersebut karena masa anak sekolah dasar sebagian besar senang berfantasi.
Jadi Fantasy Learning adalah belajar untuk mencapai suatu kompetensi melalui bantuan fantasy yang dimiliki masing-masing individu dengan bantuan media atau sumber belajar yang relevan, masalnya cerita atau dongeng, video atau film, gambar-gambar, rekaman suara, dan benda tiga dimensi.

2. Metode Penelitian
Penelitian ini  dilaksanakan pada siswa kelas V SD No. 2 Cemagi, Kabupaten Badung Semester 2 Tahun Pelajaran 2011/2012. Pada dasarnya penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif Group Investigation by Fantasy Learning terhadap hasil belajar IPS, dengan memanipulasi variabel bebas yaitu pembelajaran kooperatif Group Investigation by Fantasy Learning, dan variable terikatnya adalah hasil belajar IPS siswa kelas V SD No. 2 Cemagi. Penelitian ini  di lakukan oleh peneliti langsung dalam mengajar baik di kelas kontrol dan juga di kelas eksperimen. Guru bidang studi IPS  terus mendampingi dari awal persiapan eksperimen sampai pengakhiran eksperimen. Desain eksperimen yang digunakan adalah random terhadap kelas. Penelitian ini didahului dengan pengacakan / random kelas eksperimen dan kontrol dengan tanpa memberikan free test hanya post tes saja, dapat di lihat pada pola berikut.
           Desain Penelitian
R
            E             X              O2


            K              -              O2
  
(Arikunto, 2010; 126)   
Langkah-langkah yang ditempuh dalam penelitian ini terdiri dari tiga tahapan, yaitu persiapan, pelaksanaan dan pengakhiran eksperimen.
Populasi penelitian ini adalah siswa kelas V SD No.2 Cemagi yang terdiri dari kelas V A dan Kelas V B yang banyaknya 60 orang siswa. Populasi terdiri atas 2 kelas yaitu VA 30 orang siswa dan kelas VB 30 orang siswa. yang kemudian di kelompokkan menjadi kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Jadi pada penelitian ini menggunakan penelitian populasi sebab seluruh siswa kelas V SD No. 2 Cemagi menjadi kajian penelitian ini. Variabel-variabel dalam penelitian ini terdiri dari;  (1) Variabel bebas yang dimaksud pada penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif group investigation by fantasy learning dan model pembelajaran konvensional.  (2) Variabel terikat yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hasil belajar IPS siswa yang terdiri dari gabungan antara nilai kognitif dan afektif siswa. nilai kognitif siswa diperoleh dari post tes yang diberikan pada akhir perlakuan pada kelompok kontol dan kelompok eksperimen. Dan nilai afektif siswa diperoleh dari observasi keseharian siswa pada saat mengikuti pembelajaran. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data tentang hasil belajar IPS adalah (1) tes obyektif,  dan (2) lembar observasi.
Tes hasil belajar IPS yang digunakan dalam penelitian ini disusun oleh peneliti sendiri. Sebelum tes tersebut digunakan terlebih dahulu; (a)  tes di uji validitas, dari hasil peritungan dengan r-tabel 0,4 terdapat 30 soal yang kurang dari  r-tabel (0,4) dan 30 butir soal lebih dari r-tabel (0,4) yaitu soal nomor 2, 3, 4, 6, 7, 9, 10, 13, 14, 15, 16, 17, 20, 21, 22, 23, 25, 26, 29, 34, 36, 40, 44, 51, 52, 55, 56, 58, 59, 60. Sedangkan sisanya tidak digunakan karena tidak valid. (b) Saya beda,  sesuai kriteria di atas hasil analisis menunjukan hasil sebagai berikut. Terdapat 17 butir soal dengan kriteria sangat baik (2, 4, 7, 10, 14, 15, 16, 21, 23, 26, 29, 36, 40, 51, 59), 5 butir soal dengan kriteria baik (6, 20, 25, 44, 55), 8 butir soal dengan kriteria cukup (3, 9, 13, 22, 52, 56, 58, 60), dan tidak ada soal yang tersamuk ke dalam kriteria jelek ataupun sangat jelek. (c) Tingkat Kesukaran, sesuai klasifikasi diatas dan analisis yang dilakukan didapatkan terdapat 0 butir soal yang termasuk dalam klasifikasi terlalu sukar, 3 butir soal yang termasuk dalam klasifikasi sukar (9, 56, 58), 23 butir soal yang termasuk dalam klasifikasi sedang (2, 4, 6, 7, 10, 13, 14, 15, 16, 17, 21, 22, 23, 25, 26, 29, 34, 36, 40, 44, 51, 52, 56, 59), 4 butir soal yang termasuk dalam klasifikasi mudah (3, 20, 55, 60), dan tidak terdapat soal yang termasuk dalam klasifikasi terlalu mudah. (d) Uji Reliabilitas, didapatkan r11 = 0,71, dan rtabel = 0,361 maka r11 > rtabel itu artinya bahwa soal tes pilihan ganda pada penelitian ini tergolong reliabel.
Untuk ananisis data hasil belajar digunakan analisis prasyarat seperti normalitas data, dan homogenitas varians, dilanjutkan dengan uji hipotesis penelitian dengan rumus uji-t.

3. Hasil Dan Pembehasan
A. Hasil Penelitian
            Pemaparan hasil penelitian ini meliputi: (1) deskripsi umum hasil penelitian, (2) analisis data dan pengujian hipotesis.
1)      Deskripsi Umum Hasil Penelitian
            Deskripsi umum hasil penelitian ini memaparkan tentang rata-rata skor (M), dan standar deviasi (SD) hasil belajar IPS siswa kelas V SD No. 2 Cemagi kabupaten Badung yang diperoleh dari tes pilihan ganda  dengan 4 piliahan jawaban, untuk pengetahuan (kognitif) dan dari lembar observasi untul sikap (apektif) membentuk nilai akhir untuk dianalisis. Dari data tes hasil belajar dengan 30 butir soal yang dilakukan setelah 8  kali perlakuan, tes diberikan pada tanggal 10 mei 2012, dan lembar observasi untuk melihat sikap dan karakter siswa dilakukan secara keseharian dalam pembelajaran dikelas. Banyak siswa pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol masing-masing adalah 30 siswa, data tes hasil belajar dikombinasikan dengan hasil/nilai sikap, yaitu 60% untuk hasil belajar kognitif (tes) dan 40% nilai sikap (observasi) selama mengikuti pembelajaran data hasil belajar yang telah dikombinasikan ini yang dianalisis, sehingga dapat dibaca dengan mudah berikut nilai rata-rata (M), Varian (S)  dan sandar deviasi (SD) yang dimasukan ke dalam tabel 1
Tabel 01. Tabel nilai rata-rata, varian, dan standar deviasi hasil belajar IPS siswa Kelas V SD No. 2 Cemagi.
Model Pembelajaran
Jumlah siswa tiap kelompok
Nilai Rata-rata
Varian
Standar Deviasi
MPGIFL
30
82,20
11,40
3,30
MPK
30
74,40
13,60
3,60

Berdasarkan tabel 01 Nilai rata-rata hasil belajar IPS siswa dari post tes nilai kognitif dikombinasikan dengan nilai apektif untuk kelompok MPGIFL (model pembelajaran group investigation by fantasy learning) adalah 82,20 dengan varian sebesar 11,40 dan standar deviasi 3,30. Sedangkan nilai rata-rata hasil belajar IPS siswa dari post tes nilai kognitif yang dikombinasikan dengan nilai apektif untuk kelompok MPK (model pembelajaran konvensional) adalah 74,40 dengan varian 13,60 dan standar deviasi 3,60. Secara umum, kelompok kolompok MPGIFL memiliki rata-rata hasil belajar IPS yang lebih tinggi dari pada kelompok MPK.

2) Analisis dan Pengujian Hipotesis
Uji Normalitas
            Uji normalitas dilakukan untuk menguji apakah suatu distribusi empiric mengikuti ciri-ciri distribusi normal atau untuk menyelidiki bahwa f0 (frekuensi observasi) dari gejala yang diselidiki tidak menyimpang secara signifikan dari fh (frekuensi harapan) dalam distribusi normal teoritik dengan ketentuan h0 : f0 = fh dan Hi : f0 ≠ fh. Uji Normalitas data dilakukan terhadap hasil belajar IPS siswa baik kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol.
Pada penelitian ini uji normalitas data dilakukan dengan analisis Chi-Square dengan rumus:
      (Winarsunu, 2010; 88)
Berdasarkan analisis yang dilakukan, pada tabel 02 di bawah ini disajikan hasil uji coba sebaran data menggunakan rumus chi kuadrat tersebut.

Tabel 02. Tabel Hasil Uji Normalitas Sebaran Data
NO
Kelompok data Hasil Belajar
X02
Nilai Kritis dengan Taraf signifikan 5%
Status
1
Eksperimen
2,18
11,07
Normal
2
Kontrol
2,38
11,07
Normal

Adapun kaidah pengujian adalah jika X02 < X2tabel maka data berdistribusi normal, sedangkan jika X02 > X2tabel maka data tidak berdistribusi normal.
Dari hasil perhitungan dengan menggunakan rumus chi kuadrat, hasil belajar IPS kelompok eksperimen (X02) adalah sebesar 2,18 pada taraf signifikan 5% dan dk = 5 (6-1) dan diketahui X2tabel = 11,7, ini berarti bahwa X02 < X2tabel maka data hasil belajar IPS pada kelompok eksperimen berdistribusi normal. Sedangkan chi kuadrat data hasil belajar IPS kelompok Kontrol (X02) adalah sebesar 2,38 pada taraf signifikan 5% dan dk = 5 (6-1) dan diketahui X2tabel = 11,7, ini berarti bahwa X02 < X2tabel maka data hasil belajar IPS pada kelompok kontrol juga berdistribusi normal. Berdasarkan data hasil belajar IPS terbukti baik kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol berada pada distribusi normal.

Uji Homogenitas Varians antar Kelompok
            Uji homogenitas varians dilakukan terhadap variansi pasangan antar kelompok. H0 : S12 = S22 dan Hi : S12 ≠ S22. Rumus yang digunakan adalah uji-F dengan kriteria data homogen jika F0 < Ftabel. Rangkuman hasil uji homogenitas ditampilkan pada tabel 03.






Tabel 03. Tabel Uji Homogenitas Varians antar Kelompok Eksperimen dengan Kelompok Kontrol.
Kelompok Penelitian
F0
Nilai Ftabel dengan Taraf signifikan 5%
Status
Hasil belajar IPS kelompok kontrol dan eksperimen
1,14
1,84
Homogen

            Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa dengan db 30/30 dan taraf signifkan 5% diketahui Ftabel = 1,84, dan F0 hasil belajar IPS kelompok eksperimen dan kelompok kontrol adalah 1,14. Ini berarti F0 < Ftabel, sehingga hasil belajar IPS siswa dikatagorikan Homogen.

Menguji Hipotesis Penelitian
      Dari Hasil uji prasyarat yaitu uji normalitas dan homogenitas diperoleh bahwa data dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol berdistribusi normal dan homogen. Berdasarkan hal tersebut, maka akan dilanjutkan pada pengujian hipotesis. Adapun hipotesis nol (H0) yang akan di uji menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada hasil belajar IPS anatara kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran denga model pembelajaran kooperatif group investigation by fantasy learning dengan kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran konvensional pada Siswa kelas V SD No. 2 Cemagi.  
Dari hasil perhitungan uji-t, diperoleh thitung sebesar 8,667 untuk mengetahui signifikansinya, maka perlu dikonsultasikan dengan nilai ttabel. Dengan df = 58 ( Ʃn-2 = 60 – 2 = 58 ) dan taraf signifikansi 5% diperoleh nilai ttabel = 2,000. Karena thitung lebih dari nilai ttabel (8,667 > 2,000), maka hipotesis nol (H0) ditolak. Ini berarti model pembelajaran kooperati group investigation by fantasy learning berpengaruh terhadap hasil belajar IPS siswa kelas V SD No. 2 Cemagi Kabupaten Badung.
            Untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif group investigation by fantasy learning pada pembelajaran IPS siswa kelas V sekolah dasar, dapat dilihat dari nilai rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen dengan nilai rata-rata kelompok kontrol. Karena nilai rata-rata hasil belajar IPS siswa kelompok eksperimen lebih tinggi dari nilai rata-rata hasil belajar IPS siswa kelompok kontrol (82,20 > 74,40), maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran group investigation by fantasy learning dapat mengoptimalkan hasil belajar IPS siswa kelas V SD No. 2 Cemagi Kabupaten Badung.

B. Pembahasan Hasil Penelitian
            Berdasarkan hasil analisis data menggunakan uji-t di atas diketahui thitung sebesar 8,667 dengan df = 58 ( Ʃn-2 = 60 – 2 = 58 ) dan taraf signifikansi 5% diperoleh nilai ttabel = 2,000. Dari hasil perhitungan tersebut diketahui  thitung > ttabel, ini berarti hasil penelitian adalah signifikan.
            Jadi dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan antara kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif group investigation by fantasy learning dengan kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional. Hal tersebut dapat dilihat dari tingginya perbedaan hasil belajar antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol. Pada nilai rata-rata hasil tes kognitif dan afektif kelompok eksperimen diketahui lebih tinggi dari pada nilai rata-rata hasil tes kognitif dan afektif kelompok kontrol yaitu 82,20 untuk kelompok eksperimen dan 74,40 untuk kelompok kontrol. Hal ini menunjukan adanya perbedaan yang signifikan hasil belajar antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol.
            Perbedaan yang signifikan hasil belajar antara pembelajaran kooperatif group investigation by fantasy learning dengan pembelajaran konvensional dapat disebabkan adanya perbedaan sintak, sumber belajar dan metode ajar dari kedua pembelajaran. Sintak pembelajaran group investigation by fantasy learning sangat jelas dan konsisten yaitu; (1) memusatkan perhatian siswa, (2) pemilihan topik, (3) membentuk kelompok, (4) merencanakan tugas, (5) membuat penyelidikan, (6) mempresentasikan tugas/laporan, (7) evaluasi pembelajaran. Hal tersebut sesuai dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang lebih banyak mengarah pada aktivitas belajar siswa dalam memenuhi kepentingan pencapaian proses dan halil belajar. Sedangkan pembelajaran konvensional tidak menggunakan sintak yang pasti sesuai yang hanya menyesuaikan dengan keinginan guru pada saat membelajarkan siswa. sehingga siswa cenderung hanya sebagai pelaku belajar yang fasif.
            Dilihat dari proses pembelajaran inti melalui fantasy learning  membuat pembelajaran lebih bermakna di dukung dengan sumber belajar yang beragam untuk dapat menuntun fantasy siswa kearah materi yang diinginkan membuat siswa antusias dalam mengikuti pembelajaran. Siswa yang antusias dalam mengikuti pembelajaran akan menunjukan sikap dan perilaku positif yang berakibat tercapainya proses dan hasil belajar siswa yang optimal.

4. Penutup
Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif group investigation by fantasi learning mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar IPS siswa kelas V SD No. 2 Cemagi. Hal ini terbukti dari tingginya hasil belajar siswa kelas VA SD No. 2 Cemagi selaku kelompok eksperimen setelah mengikuti pembelajaran kooperatif group investigation by fantasi learning, dibandingkan dengan siswa kelas VB SD No. 2 Cemagi selaku kelompok kontrol setelah mengikuti pembelajaran konvensional.
Berdasarkan simpulan tersebut di atas dan dalam upaya untuk mengoptimalkan hasil belajar IPS, dikemukakan saran yaitu, hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif group investigation by fantasi learning hasil belajaranya lebih tinggi dibandingkan dengan pembelajaran konvensional. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat menerapkan model pembelajaran kooperatif group investigation by fantasi learning dalam pembelajaran di kelas sehingga hasil belajar siswa dapat tercapai dengan optimal.

 

 

Daftar  Pustaka


Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur  Penelitian  Suatu  Pendekatan  Praktek Edisi Revisi 2010. Jakarta : Rineka Cipta.
Dramaswati. 2010. Perkembangan dan pengertian fantasi. Tersedia pada  http://psikologi45.blogspot.com/2010/06/perkembangan-pengertian-dan-fantasi.html (diakses pada 8 desember 2011).
Krismanto. 2003. Model Pembelajaran Kooperatif Group Investigation. Tersedia Pada http://gurumuda.blogspot.com/2010/04/20/model-pembelajaran-group-invesigation/ (diakses 22 juni 2010).
Winarsunu. 2010. Statistik dalam Penelitian Psikologi dan Pendidikan. Malang: Universitas Negeri  Malang.
Wikipedia. 2012. Pengertian fantasi. Tersedia pada http://id.wikipedia.org/wiki/Fantasi (diakses pada 24 februari 2012).
 Udin S. Winataputra. 2001. Model Pembelajaran Inovatif. Tersedia pada http://gurumuda.blogspot.com/2010/04/20/model-pembelajaran-group-invesigation/ (diakses 22 juni 2010).

Jumat, 31 Mei 2013

ARTIKEL PEMBELAJARAN GI by Fantasy Learning



ARTIKEL HASIL PENELITIAN

Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Group Investigation By Fantasy Learning Terhadap Hasil Belajar IPS

 









Oleh :
I PUTU SUTRISNA
NIM 0811031367
                       




JURUSAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
 SINGARAJA
2012






PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF GROUP INVESTIGATION BY FANTASI LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR IPS

Oleh
I Putu Sutrisna, 0811031367
Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar

ABSTRAK

Belum optimalnya pembelajaran di sekolah dasar terutama dalam pembelajaran IPS mengakibatkan hasil belajar siswa tidak mencapai hasil optimal. Peran siswa dalam pembelajaran yang hanya sebagai obyek, bukan subjek belajar juga sangat berperan mendorong kemajuan pendidikan di sekolah dasar. Hal tersebut salah satunya disebabkan oleh pengetahuan guru yang kurang dalam mengkemas pembelajaran menjadi pembelajaran yang efektif dan efisien. Salah satunya adalah model pembelajaran kooperatif group investigation by fantasi learning, adalah pembelajaran yang efektif dan efisien yang diharapkan dapat mengoptimalkan hasil belajar siswa.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif group Investigation by fantasy learning  terhadap hasil belajar  IPS siswa kelas V SD No. 2 Cemagi, Kabupaten Badung.
Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SD No. 2 Cemagi Kabupaten Badung tahun ajaran 2012/2013 yang banyaknya 60 orang siswa dan  penelitian ini menggunakan populasi studi.
Data tentang hasil belajar IPS dikumpulkan dengan instrumen berupa tes pilihan ganda biasa dan data tentang proses belajar dikumpulkan melalui teknik observasi sesuai dengan karakter yang dikembangkan. Data ini analisisnya dengan t-test.
Hasil penelitian menunjukkan, terdapat pengaruh yang signifikan antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif group investigation by fantasi learning dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional ( thit = 8,667  >  ttabel = 2,000 ) dengan db = 58 ( Ʃn-2 = 60 – 2 = 58 ) dan taraf signifikansi 5%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif group investigation by fantasi learning berperaruh signifikan terhadap hasil belajar IPS siswa kelas V SD No. 2 Cemagi Kabupaten Badung.

Kata-kata kunci : model pembelajaran,  hasil belajar.






1.      Pendahuluan
Sampai saat ini persoalan pendidikan yang dialami bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan, khususnya pendidikan dasar. Berbagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan telah dan terus dilakukan, mulai dari pelatihan untuk meningkatkan kualitas guru, penyempurnaan kurikulum secara periodik, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan sampai dengan peningkatan manajemen sekolah. Namun, indikator kearah mutu pendidikan belum menunjukkan peningkatan yang signifikan.
Peran siswa dalam konteks pembelajaran konstruktivisme ketika pembelajaran berpusat pada siswa adalah belajar dan mencari sendiri arti dari materi yang mereka pelajari yang merupakan proses penyesuaian konsep dan ide-ide baru dengan kerangka berpikir yang telah ada dalam pikiran mereka dan siswa sendirilah yang bertanggung jawab atas hasil belajarnya. Degeng (2000 ; 7) menyatakan Pada dimensi Kontruktivistik, pembelajaran lebih banyak diarahkan untuk meladeni pertanyaan atau pandangan siswa. Dengan demikian, aktivitas belajar lebih didasarkan pada data primer dan bahan manipulatif dengan penekanan pada keterampilan berpikir kritis, seperti; analisis, membandingkan, generalisasi, memprediksi, dan mengipotesis. Jadi tujuan pembelajaran kontruktivistik sangat menekankan pada proses pembelajaran disamping juga hasil belajar siswa. Suatu tujuan pembelajaran dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan apabila model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diberikan oleh seorang guru. Dengan demikian  pemilihan sebuah model pembelajaran merupakan bagian penting dalam merencanakan atau mendesain pembelajaran, agar terjadi interaksi antara siswa dengan guru, siswa dengan siswa maupun siswa dengan sumber belajar lainnya.
Dalam proses pembelajaran, materi pembelajaran disampaikan dengan metode ceramah, tanya jawab dan tugas individu. Hal ini dilakukan  karena terbatasnya pemahaman guru akan pengetahuan tentang pembelajaran yang inovatif, sehingga pembelajaran dikelas tidak berlangsung optimal. Hal ini dapat dibuktikan dengan hasil belajar  sebelumnya pada tahun ajaran 2011/2012 pada mata pelajaran IPS masih dibawah standar ketuntasan 7,00  dan standar ketuntasan kelas sesuai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 70 persen (Dokumen nilai ulangan umum). Hasil Belajar  siswa dari 60 siswa kelas VA dan VB yang memperoleh nilai diatas 7,00 ada 27 orang, selebihnya 33 siswa masih dibawah standar terendah 7,00. Persoalannya, bukan hanya karena kemampuan siswa yang rendah, namun perlu dikaji faktor yang paling mendasar dalam mempengaruhi rendahnya Hasil Belajar  siswa. Berdasarkan hal tersebut teridentifikasi masalah seperti ; (1) rendahnya hasil belajar IPS siswa kelas Va dan Vb SD No. 2 Cemagi, (2) strategi guru dalam membelajarkan siswa masih belum optimal, (3) guru kurang menguasai model pembelajaran yang inovatif dan kreatif.
Untuk mengatasi persoalan tersebut maka akan dilakukan penelitian sebagai solusi dan memecahkan permasalahan. Untuk mengotimalkan hasil belajar  siswa, perlu diadakan situasi pembelajaran yang menyenangkan dan merangsang minat siswa untuk lebih antusias berperan aktif dalam proses pembelajaran. Untuk mengetahui perubahan ke arah yang lebih baik dipandang perlu dilakukan Penelitian. Pada penelitian ini model pembelajaran kooperatif Group Investigation by fantasy Learning. Vygotsky (dalam Asma ; 40) menekankan bahwa ”children’s cognitive development is promoted and enhanced trough they interactions with more advancet and capable individuals”. Pada seting belajar kooperatif, siswa dihadapkan pada proses berpikir teman sebaya mereka. Model ini tidak hanya menciptakan belajar terbuka untuk seluruh siswa, sehingga terjadi interaksi yang baik antara sesama siswa dan juga antara guru dan siswa. Dengan menerapkan model ini diharapkan tujuan pembelajaran dapat tercapai optimal, yaitu khususnya pada mata pelajaran IPS sesuai dengan standar ketuntasan minimal 7,00, karena dengan model pembelajaran kooperatif Group Investigation by fantasy Learning berpegang teguh dengan paradigma pembelajaran kontruktivistik. Siswa dapat melakukan pembelajaran yang meraka inginkan dan tidak hanya didominasi oleh ceramah guru dengan melalui fantasy learning yang mengajak siswa berkarya wisata, pada suasana yang ingin dipelajari dengan berinteraksi dengan sumber belajar yang disediakan guru. Yang mendasari model pembelajaran kooperatif Group Investigation by fantasy Learning adalah pembelajaran kooperatif Group Investigation.
Group Investigation merupakan  salah satu bentuk model pembelajaran kooperatif  yang menekankan pada partisipasi dan aktivitas siswa untuk mencari sendiri informasi materi pelajaran yang akan dipelajari melalui bahan-bahan yang tersedia, misalnya dari buku pelajaran, gambar, video, atau siswa dapat mencari melalui internet.  Siswa dilibatkan sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Tipe ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok. Model Group Investigation dapat melatih siswa untuk menumbuhkan kemampuan berfikir mandiri. Keterlibatan siswa secara aktif dapat terlihat mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir pembelajaran. Dalam model Group Investigation terdapat tiga konsep utama, yaitu: penelitian atau inquiri, pengetahuan atau knowledge, dan dinamika kelompok atau the dynamic of the learning group, (Winataputra, 2001:75). Penelitian disini adalah proses dinamika siswa memberikan respon terhadap masalah dan memecahkan masalah tersebut. Pengetahuan adalah pengalaman belajar yang diperoleh siswa baik secara langsung maupun tidak langsung. Sedangkan dinamika kelompok menunjukkan suasana yang menggambarkan sekelompok saling berinteraksi yang melibatkan berbagai ide dan pendapat serta saling bertukar pengalaman melaui proses saling beragumentasi. Hal ini juga dikukung oleh pendapat Krismanto (2003:7) yang memberikan penjelasan tentang investigasi, yaitu sebagai kegiatan pembelajaran yang memberikan kemungkinan siswa untuk mengembangkan pemahaman siswa melalui berbagai kegiatan dan hasil yang benar sesuai pengembangan yang dilalui siswa. Investigation berkaitan dengan kegiatan mengobservasi secara rinci dan menilai secara sistematis. Jadi investigasi adalah proses penyelidikan yang dilakukan seseorang, dan selanjutnya orang tersebut mengkomunikasikan hasil perolehannya, dapat membandingkannya dengan perolehan orang lain, karena dalam suatu investigasi dapat diperoleh satu atau lebih hasil. Maka akan terjadi interaksi untuk menemukan satu jawaban yang paling tepat dengan juga bimbingan dari guru dan sumber-sumber belajar yang tersedia.
Namun terkadang ketika siswa menggali informasi siswa merasa bosan hanya dengan buku paket yang di sediakan guru di sertakan LKS saja dan itupun LKS dari penerbit tertentu. Hal ini mengakibatkan siswa hanya aktif beberapa saja yaitu ketua kelompok dan yang membaca buku saja. Munculnya inisiatif untuk mencoba meneliti dan mengembangkan model pembelajaran Group Investigation dengan mengembangkan situasi ketika siswa sedang berinvestigasi menelititopik apa yang akan di pelajari, yaitu dengan menambahkan suasana seakan-akan seluruh anggota kelompok berada pada suasana yang akan diteliti informasinya menggunakan Fantasy Learning. fantasy Learning mengarahkan siswa untuk membuka cakrawala pikirannya, membayangkan berada pada suasana ketika materi tertentu, yang akan dipelajarinya. Melalui penataan dan penyediaan sumber belajar yang mendukung sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal.
Secara mendasar, fantasy bukanlah sesuatu kenyataan sesungguhnya, tetapi dapat menjadi sesuatu yang sebenarnya. Ketika seseorang tidak dapat menjangkau sesuatu yang ingin dialaminya maka dengan fantasy hal tersebut dapat dicapai dan dirasakan. Tentunya hal tersebut hanya dirasakan oleh individu tersebut karena setiap individu memiliki daya fantasy yang berbeda. Wiki Pedia (2012) mengungkapkan fantasy adalah suatu yang berhubungan dengan khayalan atau dengan sesuatu yang tidak benar-benar ada dan hanya ada dalam benak atau pikiran saja. Webster's New World Dictionary (dalam blog dramaswati), sedikit banyak berkaitan dengan serangkaian citra atau gambaran, seperti yang muncul dalam lamunan, yang biasanya mengandung sejumlah hasrat yang tidak terpenuhi.  fantasy merupakan kemampuan jiwa untuk membentuk tanggapan-tanggapan atau bayangan-bayangan baru. Dengan kekuatan fantasy manusia dapat melepaskan diri dari keadaan yang dihadapinya dan menjangkau ke depan, ke keadaan-keadaan yang mendatang, maupun peristiwa peristiwa masa lampau.
Dramaswati (2010) menjelaskan,nmacam-macam fantasy yaitu (a) fantasy yang menciptakan atau kreatif merupakan bentuk atau jenis fantasy yang menciptakan sesuatu. fantasy model ini banyak dimilki oleh seniman, desainer juga anak-anak, (b) fantasy yang dituntun atau terpimpin, yaitu merupakan bentuk atau jenis fantasy yang dituntun oleh fihak lain. Misal seorang yang melihat film, orang ini dapat meliputi apa yang dilihatnya dan dapat berfantasi tentang keadaan atau tempat-tempat lain dengan perantaraan film itu, sehingga dengan demikian fantasinya dituntun atau dipimpin oleh film tersebut. Sehingga fantasy sebagai stimulus terhadap apa yang pernah dirasakan oleh siswa pada lingkungan sekitarnya.
Bila dari caranya orang berfantasi, fantasy dapat dibedakan menjadi tiga yaitu; (a) fantasy yang mengabstraksi, yaitu cara orang berfantasi dengan mengabstraksikan beberapa bagian, sehingga ada bagian-bagian yang dihilangkan. Misal anak yang belum pernah melihat gurun pasir, maka untuk menjelaskan maka dipakailah bayangan hasil persepsi yaitu lapangan. Bayangan lapangan ini dipakai sebagai loncatan untuk menjelaskan gurun pasir tersebut. Dalam anak berfantasi gurun pasir itu, banyak bagian-bagian lapangan yang diabstraksikan. Dalam berfantasi gurun pasir dibayangkan seperti lapangan, tetapi tanpa pohon-pohon disekitarnya, dan tanahnya itu melulu pasir semua, bukan rumput. (b) fantasy yang mendeterminasi, yaitu cara orang berfantasi dengan mendeterminasi terlebih dahulu. Misal anak belum pernah melihat harimau, hewan yang telah mereka kenal kucing, maka kucing digunakan sebagai bahan untuk memberikan pengertian tentang harimau. Dalam berfantasi harimau, dalam bayangan seperti kucing, tetapi bentuknya besar. (c) fantasy yang mengombinasi, yaitu individu berfantasi dengan cara mengombinasikan pengertian atau bayangan-bayangan yang ada pada individu bersangkutan. Misalnya berfantasi tentang ikan duyung, yaitu kepalanya kepala seorang wanita, tetapi badannya badan ikan. Jadi adanya kombinasi dari kepala manusia badan ikan. fantasy yang mengombinasi inilah yang banyak digunakan. Misal ingin membuat rumah dengan mengombinasikan rumah model eropa dengan atap model jerami.
Fantasi bila dibandingkan dengan kemampuan-kemampuan jiwa yang lain, fantasy lebih bersifat subjektif. Ketika individu berfantasi bayang atau tanggapan-tanggapan yang telah ada dalam dirinya memegang peran yang sangat penting. Bayangan yang ditimbulkan karena fantasy disebut bayangan fantasi. Bayangan fantasy berlainan dengan bayangan persepsi. Bayangan persepsi merupakan hasil dari persepsi, sedang bayangan fantasy adalah hasil dari fantasi. Oleh karena dengan kekuatan fantasy orang dapat menjangkau ke depan, maka fantasy mempunyai arti yang penting dalam kehidupan manusia. Jadi ketika fantasy diarahkan kedalam kegiatan pembelajaran maka suasana yang tidak mungkin kita jangkau misalnya suasana masa lampau kita dapat pimpin atau arahkan fantasy siswa ke masa tersebut dengan perantara yang sesuai. Siswa akan sangat merasa tertarik dengan pembelajaran tersebut karena masa anak sekolah dasar sebagian besar senang berfantasi.
Jadi Fantasy Learning adalah belajar untuk mencapai suatu kompetensi melalui bantuan fantasy yang dimiliki masing-masing individu dengan bantuan media atau sumber belajar yang relevan, masalnya cerita atau dongeng, video atau film, gambar-gambar, rekaman suara, dan benda tiga dimensi.

2. Metode Penelitian
Penelitian ini  dilaksanakan pada siswa kelas V SD No. 2 Cemagi, Kabupaten Badung Semester 2 Tahun Pelajaran 2011/2012. Pada dasarnya penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif Group Investigation by Fantasy Learning terhadap hasil belajar IPS, dengan memanipulasi variabel bebas yaitu pembelajaran kooperatif Group Investigation by Fantasy Learning, dan variable terikatnya adalah hasil belajar IPS siswa kelas V SD No. 2 Cemagi. Penelitian ini  di lakukan oleh peneliti langsung dalam mengajar baik di kelas kontrol dan juga di kelas eksperimen. Guru bidang studi IPS  terus mendampingi dari awal persiapan eksperimen sampai pengakhiran eksperimen. Desain eksperimen yang digunakan adalah random terhadap kelas. Penelitian ini didahului dengan pengacakan / random kelas eksperimen dan kontrol dengan tanpa memberikan free test hanya post tes saja, dapat di lihat pada pola berikut.
           Desain Penelitian
R
            E             X              O2


            K              -              O2
  
(Arikunto, 2010; 126)   
Langkah-langkah yang ditempuh dalam penelitian ini terdiri dari tiga tahapan, yaitu persiapan, pelaksanaan dan pengakhiran eksperimen.
Populasi penelitian ini adalah siswa kelas V SD No.2 Cemagi yang terdiri dari kelas V A dan Kelas V B yang banyaknya 60 orang siswa. Populasi terdiri atas 2 kelas yaitu VA 30 orang siswa dan kelas VB 30 orang siswa. yang kemudian di kelompokkan menjadi kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Jadi pada penelitian ini menggunakan penelitian populasi sebab seluruh siswa kelas V SD No. 2 Cemagi menjadi kajian penelitian ini. Variabel-variabel dalam penelitian ini terdiri dari;  (1) Variabel bebas yang dimaksud pada penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif group investigation by fantasy learning dan model pembelajaran konvensional.  (2) Variabel terikat yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hasil belajar IPS siswa yang terdiri dari gabungan antara nilai kognitif dan afektif siswa. nilai kognitif siswa diperoleh dari post tes yang diberikan pada akhir perlakuan pada kelompok kontol dan kelompok eksperimen. Dan nilai afektif siswa diperoleh dari observasi keseharian siswa pada saat mengikuti pembelajaran. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data tentang hasil belajar IPS adalah (1) tes obyektif,  dan (2) lembar observasi.
Tes hasil belajar IPS yang digunakan dalam penelitian ini disusun oleh peneliti sendiri. Sebelum tes tersebut digunakan terlebih dahulu; (a)  tes di uji validitas, dari hasil peritungan dengan r-tabel 0,4 terdapat 30 soal yang kurang dari  r-tabel (0,4) dan 30 butir soal lebih dari r-tabel (0,4) yaitu soal nomor 2, 3, 4, 6, 7, 9, 10, 13, 14, 15, 16, 17, 20, 21, 22, 23, 25, 26, 29, 34, 36, 40, 44, 51, 52, 55, 56, 58, 59, 60. Sedangkan sisanya tidak digunakan karena tidak valid. (b) Saya beda,  sesuai kriteria di atas hasil analisis menunjukan hasil sebagai berikut. Terdapat 17 butir soal dengan kriteria sangat baik (2, 4, 7, 10, 14, 15, 16, 21, 23, 26, 29, 36, 40, 51, 59), 5 butir soal dengan kriteria baik (6, 20, 25, 44, 55), 8 butir soal dengan kriteria cukup (3, 9, 13, 22, 52, 56, 58, 60), dan tidak ada soal yang tersamuk ke dalam kriteria jelek ataupun sangat jelek. (c) Tingkat Kesukaran, sesuai klasifikasi diatas dan analisis yang dilakukan didapatkan terdapat 0 butir soal yang termasuk dalam klasifikasi terlalu sukar, 3 butir soal yang termasuk dalam klasifikasi sukar (9, 56, 58), 23 butir soal yang termasuk dalam klasifikasi sedang (2, 4, 6, 7, 10, 13, 14, 15, 16, 17, 21, 22, 23, 25, 26, 29, 34, 36, 40, 44, 51, 52, 56, 59), 4 butir soal yang termasuk dalam klasifikasi mudah (3, 20, 55, 60), dan tidak terdapat soal yang termasuk dalam klasifikasi terlalu mudah. (d) Uji Reliabilitas, didapatkan r11 = 0,71, dan rtabel = 0,361 maka r11 > rtabel itu artinya bahwa soal tes pilihan ganda pada penelitian ini tergolong reliabel.
Untuk ananisis data hasil belajar digunakan analisis prasyarat seperti normalitas data, dan homogenitas varians, dilanjutkan dengan uji hipotesis penelitian dengan rumus uji-t.

3. Hasil Dan Pembehasan
A. Hasil Penelitian
            Pemaparan hasil penelitian ini meliputi: (1) deskripsi umum hasil penelitian, (2) analisis data dan pengujian hipotesis.
1)      Deskripsi Umum Hasil Penelitian
            Deskripsi umum hasil penelitian ini memaparkan tentang rata-rata skor (M), dan standar deviasi (SD) hasil belajar IPS siswa kelas V SD No. 2 Cemagi kabupaten Badung yang diperoleh dari tes pilihan ganda  dengan 4 piliahan jawaban, untuk pengetahuan (kognitif) dan dari lembar observasi untul sikap (apektif) membentuk nilai akhir untuk dianalisis. Dari data tes hasil belajar dengan 30 butir soal yang dilakukan setelah 8  kali perlakuan, tes diberikan pada tanggal 10 mei 2012, dan lembar observasi untuk melihat sikap dan karakter siswa dilakukan secara keseharian dalam pembelajaran dikelas. Banyak siswa pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol masing-masing adalah 30 siswa, data tes hasil belajar dikombinasikan dengan hasil/nilai sikap, yaitu 60% untuk hasil belajar kognitif (tes) dan 40% nilai sikap (observasi) selama mengikuti pembelajaran data hasil belajar yang telah dikombinasikan ini yang dianalisis, sehingga dapat dibaca dengan mudah berikut nilai rata-rata (M), Varian (S)  dan sandar deviasi (SD) yang dimasukan ke dalam tabel 1
Tabel 01. Tabel nilai rata-rata, varian, dan standar deviasi hasil belajar IPS siswa Kelas V SD No. 2 Cemagi.
Model Pembelajaran
Jumlah siswa tiap kelompok
Nilai Rata-rata
Varian
Standar Deviasi
MPGIFL
30
82,20
11,40
3,30
MPK
30
74,40
13,60
3,60

Berdasarkan tabel 01 Nilai rata-rata hasil belajar IPS siswa dari post tes nilai kognitif dikombinasikan dengan nilai apektif untuk kelompok MPGIFL (model pembelajaran group investigation by fantasy learning) adalah 82,20 dengan varian sebesar 11,40 dan standar deviasi 3,30. Sedangkan nilai rata-rata hasil belajar IPS siswa dari post tes nilai kognitif yang dikombinasikan dengan nilai apektif untuk kelompok MPK (model pembelajaran konvensional) adalah 74,40 dengan varian 13,60 dan standar deviasi 3,60. Secara umum, kelompok kolompok MPGIFL memiliki rata-rata hasil belajar IPS yang lebih tinggi dari pada kelompok MPK.

2) Analisis dan Pengujian Hipotesis
Uji Normalitas
            Uji normalitas dilakukan untuk menguji apakah suatu distribusi empiric mengikuti ciri-ciri distribusi normal atau untuk menyelidiki bahwa f0 (frekuensi observasi) dari gejala yang diselidiki tidak menyimpang secara signifikan dari fh (frekuensi harapan) dalam distribusi normal teoritik dengan ketentuan h0 : f0 = fh dan Hi : f0 ≠ fh. Uji Normalitas data dilakukan terhadap hasil belajar IPS siswa baik kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol.
Pada penelitian ini uji normalitas data dilakukan dengan analisis Chi-Square dengan rumus:
      (Winarsunu, 2010; 88)
Berdasarkan analisis yang dilakukan, pada tabel 02 di bawah ini disajikan hasil uji coba sebaran data menggunakan rumus chi kuadrat tersebut.

Tabel 02. Tabel Hasil Uji Normalitas Sebaran Data
NO
Kelompok data Hasil Belajar
X02
Nilai Kritis dengan Taraf signifikan 5%
Status
1
Eksperimen
2,18
11,07
Normal
2
Kontrol
2,38
11,07
Normal

Adapun kaidah pengujian adalah jika X02 < X2tabel maka data berdistribusi normal, sedangkan jika X02 > X2tabel maka data tidak berdistribusi normal.
Dari hasil perhitungan dengan menggunakan rumus chi kuadrat, hasil belajar IPS kelompok eksperimen (X02) adalah sebesar 2,18 pada taraf signifikan 5% dan dk = 5 (6-1) dan diketahui X2tabel = 11,7, ini berarti bahwa X02 < X2tabel maka data hasil belajar IPS pada kelompok eksperimen berdistribusi normal. Sedangkan chi kuadrat data hasil belajar IPS kelompok Kontrol (X02) adalah sebesar 2,38 pada taraf signifikan 5% dan dk = 5 (6-1) dan diketahui X2tabel = 11,7, ini berarti bahwa X02 < X2tabel maka data hasil belajar IPS pada kelompok kontrol juga berdistribusi normal. Berdasarkan data hasil belajar IPS terbukti baik kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol berada pada distribusi normal.

Uji Homogenitas Varians antar Kelompok
            Uji homogenitas varians dilakukan terhadap variansi pasangan antar kelompok. H0 : S12 = S22 dan Hi : S12 ≠ S22. Rumus yang digunakan adalah uji-F dengan kriteria data homogen jika F0 < Ftabel. Rangkuman hasil uji homogenitas ditampilkan pada tabel 03.






Tabel 03. Tabel Uji Homogenitas Varians antar Kelompok Eksperimen dengan Kelompok Kontrol.
Kelompok Penelitian
F0
Nilai Ftabel dengan Taraf signifikan 5%
Status
Hasil belajar IPS kelompok kontrol dan eksperimen
1,14
1,84
Homogen

            Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa dengan db 30/30 dan taraf signifkan 5% diketahui Ftabel = 1,84, dan F0 hasil belajar IPS kelompok eksperimen dan kelompok kontrol adalah 1,14. Ini berarti F0 < Ftabel, sehingga hasil belajar IPS siswa dikatagorikan Homogen.

Menguji Hipotesis Penelitian
      Dari Hasil uji prasyarat yaitu uji normalitas dan homogenitas diperoleh bahwa data dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol berdistribusi normal dan homogen. Berdasarkan hal tersebut, maka akan dilanjutkan pada pengujian hipotesis. Adapun hipotesis nol (H0) yang akan di uji menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada hasil belajar IPS anatara kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran denga model pembelajaran kooperatif group investigation by fantasy learning dengan kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran konvensional pada Siswa kelas V SD No. 2 Cemagi.  
Dari hasil perhitungan uji-t, diperoleh thitung sebesar 8,667 untuk mengetahui signifikansinya, maka perlu dikonsultasikan dengan nilai ttabel. Dengan df = 58 ( Ʃn-2 = 60 – 2 = 58 ) dan taraf signifikansi 5% diperoleh nilai ttabel = 2,000. Karena thitung lebih dari nilai ttabel (8,667 > 2,000), maka hipotesis nol (H0) ditolak. Ini berarti model pembelajaran kooperati group investigation by fantasy learning berpengaruh terhadap hasil belajar IPS siswa kelas V SD No. 2 Cemagi Kabupaten Badung.
            Untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif group investigation by fantasy learning pada pembelajaran IPS siswa kelas V sekolah dasar, dapat dilihat dari nilai rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen dengan nilai rata-rata kelompok kontrol. Karena nilai rata-rata hasil belajar IPS siswa kelompok eksperimen lebih tinggi dari nilai rata-rata hasil belajar IPS siswa kelompok kontrol (82,20 > 74,40), maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran group investigation by fantasy learning dapat mengoptimalkan hasil belajar IPS siswa kelas V SD No. 2 Cemagi Kabupaten Badung.

B. Pembahasan Hasil Penelitian
            Berdasarkan hasil analisis data menggunakan uji-t di atas diketahui thitung sebesar 8,667 dengan df = 58 ( Ʃn-2 = 60 – 2 = 58 ) dan taraf signifikansi 5% diperoleh nilai ttabel = 2,000. Dari hasil perhitungan tersebut diketahui  thitung > ttabel, ini berarti hasil penelitian adalah signifikan.
            Jadi dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan antara kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif group investigation by fantasy learning dengan kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional. Hal tersebut dapat dilihat dari tingginya perbedaan hasil belajar antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol. Pada nilai rata-rata hasil tes kognitif dan afektif kelompok eksperimen diketahui lebih tinggi dari pada nilai rata-rata hasil tes kognitif dan afektif kelompok kontrol yaitu 82,20 untuk kelompok eksperimen dan 74,40 untuk kelompok kontrol. Hal ini menunjukan adanya perbedaan yang signifikan hasil belajar antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol.
            Perbedaan yang signifikan hasil belajar antara pembelajaran kooperatif group investigation by fantasy learning dengan pembelajaran konvensional dapat disebabkan adanya perbedaan sintak, sumber belajar dan metode ajar dari kedua pembelajaran. Sintak pembelajaran group investigation by fantasy learning sangat jelas dan konsisten yaitu; (1) memusatkan perhatian siswa, (2) pemilihan topik, (3) membentuk kelompok, (4) merencanakan tugas, (5) membuat penyelidikan, (6) mempresentasikan tugas/laporan, (7) evaluasi pembelajaran. Hal tersebut sesuai dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang lebih banyak mengarah pada aktivitas belajar siswa dalam memenuhi kepentingan pencapaian proses dan halil belajar. Sedangkan pembelajaran konvensional tidak menggunakan sintak yang pasti sesuai yang hanya menyesuaikan dengan keinginan guru pada saat membelajarkan siswa. sehingga siswa cenderung hanya sebagai pelaku belajar yang fasif.
            Dilihat dari proses pembelajaran inti melalui fantasy learning  membuat pembelajaran lebih bermakna di dukung dengan sumber belajar yang beragam untuk dapat menuntun fantasy siswa kearah materi yang diinginkan membuat siswa antusias dalam mengikuti pembelajaran. Siswa yang antusias dalam mengikuti pembelajaran akan menunjukan sikap dan perilaku positif yang berakibat tercapainya proses dan hasil belajar siswa yang optimal.

4. Penutup
Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif group investigation by fantasi learning mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar IPS siswa kelas V SD No. 2 Cemagi. Hal ini terbukti dari tingginya hasil belajar siswa kelas VA SD No. 2 Cemagi selaku kelompok eksperimen setelah mengikuti pembelajaran kooperatif group investigation by fantasi learning, dibandingkan dengan siswa kelas VB SD No. 2 Cemagi selaku kelompok kontrol setelah mengikuti pembelajaran konvensional.
Berdasarkan simpulan tersebut di atas dan dalam upaya untuk mengoptimalkan hasil belajar IPS, dikemukakan saran yaitu, hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif group investigation by fantasi learning hasil belajaranya lebih tinggi dibandingkan dengan pembelajaran konvensional. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat menerapkan model pembelajaran kooperatif group investigation by fantasi learning dalam pembelajaran di kelas sehingga hasil belajar siswa dapat tercapai dengan optimal.

 

 

Daftar  Pustaka


Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur  Penelitian  Suatu  Pendekatan  Praktek Edisi Revisi 2010. Jakarta : Rineka Cipta.
Dramaswati. 2010. Perkembangan dan pengertian fantasi. Tersedia pada  http://psikologi45.blogspot.com/2010/06/perkembangan-pengertian-dan-fantasi.html (diakses pada 8 desember 2011).
Krismanto. 2003. Model Pembelajaran Kooperatif Group Investigation. Tersedia Pada http://gurumuda.blogspot.com/2010/04/20/model-pembelajaran-group-invesigation/ (diakses 22 juni 2010).
Winarsunu. 2010. Statistik dalam Penelitian Psikologi dan Pendidikan. Malang: Universitas Negeri  Malang.
Wikipedia. 2012. Pengertian fantasi. Tersedia pada http://id.wikipedia.org/wiki/Fantasi (diakses pada 24 februari 2012).
 Udin S. Winataputra. 2001. Model Pembelajaran Inovatif. Tersedia pada http://gurumuda.blogspot.com/2010/04/20/model-pembelajaran-group-invesigation/ (diakses 22 juni 2010).