Selasa, 25 Februari 2014

MENGUPAYAKAN KUALITAS HASIL BELAJAR SISWA DENGAN MENGOPTIMALKAN PERAN MODEL PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATION YANG DIFASILITASI MEDIA POWER POINT



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting menciptakan insan manusia yang cerdas, kompetitif,  serta kreatif oleh karena itu pembaharuan dalam dunia pendidikan perlu dilakukan untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas. Tujuan pendidikan nasional sesuai dengan undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Untuk mencapai tujuan, yakni terbentuknya manusia-manusia yang mampu menemukan jati dirinya, manusia-manusia dengan ciri-ciri sebagaimana dikemukakan di atas, memerlukan kerja serius, efisien, sistimatis dan materi atas komponen-komponen yang relevan. Dengan demikian, diharapkan tujuan yang bersifat sangat umum dan luas itu mendapat bentuk yang nyata. Pemikiran mengenai cara tersebut akan menghasilkan satu bentuk organisasi beserta pengaturannya, yang secara umum disebut kurikulum. Kurikulum ini menjadi pedoman praktis dalam upaya melaksanakan tercapainya tujuan pengajaran (Sardiman, 2008:23).
Fokus kegiatan pembelajaran di sekolah adalah interaksi pendidik dan peserta didik dalam mempelajari suatu materi pembelajaran yang telah tersusun dalam suatu kurikulum. Dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran para pendidik tidak hanya menguasai bahan atau materi ajar, tentu perlu pula mengetahui bagaimana cara materi ajar itu disampaikan dan bagaimana pula karakteristik peserta didik yang menerima materi pembelajaran tersebut. Kegagalan pendidik dalam menyampaikan materi ajar, bukan karena pendidik kurang menguasai bahan, tetapi karena pendidik tidak tahu bagaimana cara menyampaikan materi pembelajaran tersebut dengan baik dan tepat. Sehingga peserta didik dapat belajar dengan suasana yang menyenangkan dan juga membuat peserta didik menjadi nyaman. Agar peserta didik dapat belajar dengan suasana menyenangkan dan juga nyaman, maka pendidik perlu memiliki pengetahuan tentang model dan teknik-teknik pembelajaran dengan memahami teori-teori belajar dan teknik-teknik mengajar yang baik dan tepat (Sarjono, 2003:31). Salah satu model pembelajaran yang tepat diterapkan adalah model pembelajaran kooperatif tipe group investigation.
Group Investigation merupakan  salah satu bentuk model pembelajaran kooperatif  yang menekankan pada partisipasi dan aktivitas siswa untuk mencari sendiri informasi materi pelajaran yang akan dipelajari melalui bahan-bahan yang tersedia, misalnya dari buku pelajaran, gambar, video, atau siswa dapat mencari melalui internet.  Siswa dilibatkan sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Tipe ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok. Model Group Investigation dapat melatih siswa untuk menumbuhkan kemampuan berfikir mandiri. Keterlibatan siswa secara aktif dapat terlihat mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir pembelajaran. Dalam model Group Investigation terdapat tiga konsep utama, yaitu: penelitian atau inquiri, pengetahuan atau knowledge, dan dinamika kelompok atau the dynamic of the learning group, (Winataputra, 2001:75). Penelitian disini adalah proses dinamika siswa memberikan respon terhadap masalah dan memecahkan masalah tersebut. Pengetahuan adalah pengalaman belajar yang diperoleh siswa baik secara langsung maupun tidak langsung. Sedangkan dinamika kelompok menunjukkan suasana yang menggambarkan sekelompok saling berinteraksi yang melibatkan berbagai ide dan pendapat serta saling bertukar pengalaman melaui proses saling beragumentasi. Hal ini juga dikukung oleh pendapat Krismanto (2003:7) yang memberikan penjelasan tentang investigasi, yaitu sebagai kegiatan pembelajaran yang memberikan kemungkinan siswa untuk mengembangkan pemahaman siswa melalui berbagai kegiatan dan hasil yang benar sesuai pengembangan yang dilalui siswa. Investigation berkaitan dengan kegiatan mengobservasi secara rinci dan menilai secara sistematis. Jadi investigasi adalah proses penyelidikan yang dilakukan seseorang, dan selanjutnya orang tersebut mengkomunikasikan hasil perolehannya, dapat membandingkannya dengan perolehan orang lain, karena dalam suatu investigasi dapat diperoleh satu atau lebih hasil. Maka akan terjadi interaksi untuk menemukan satu jawaban yang paling tepat dengan juga bimbingan dari guru dan sumber-sumber belajar yang tersedia.
Keunggulan kooperatif Group Investigation adalah (1) dalam pembelajaran kooperatif dengan metode Group Investigation berpusat pada siswa, guru hanya bertindak sebagai fasilitator atau konsultan sehingga siswa berperan aktif dalam pembelajaran. (2)  pembelajaran yang dilakukan membuat suasana saling bekerjasama dan berinteraksi antar siswa dalam kelompok tanpa memandang latar belakang, setiap siswa dalam kelompok memadukan berbagai ide dan pendapat, saling berdiskusi dan beragumentasi dalam memahami suatu pokok bahasan serta memecahkan suatu permasalahan yang dihadapi kelompok. (3) pembelajaran kooperatif dengan metode Group Investigation siswa dilatih untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi, semua kelompok menyajikan suatu presentasi yang menarik dari berbagai topik yang telah dipelajari, semua siswa dalam kelas saling terlihat dan mencapai suatu perspektif yang luas mengenai topik tersebut. (4) adanya motivasi yang mendorong siswa agar aktif dalam proses belajar mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir pembelajaran. Jadi melalui pembelajaran kooperatif dengan metode Group Investigation suasana belajar terasa lebih efektif, kerjasama kelompok dalam pembelajaran ini dapat membangkitkan semangat siswa untuk memiliki keberanian dalam mengemukakan pendapat dan berbagi informasi dengan teman lainnya dalam membahas materi pembelajaran.
Selain model pembelajaran yang inovatif dalam membelajarkan siswa tentunya perlu fasilitas penunjang yang dapat mengoptimalkan hasil belajar, seperti media power point.  PowerPoint sebagai salah satu media yang menarik digunakan untuk membelajarkan siswa. PowerPoint sebagai media pembelajaran sangat efektif digunakan untuk menunjang proses pembelajaran. Melalui PowerPoint sebagai media pembelajaran, guru dapat mengemas pembelajaran yang sangat menarik dengan komposisi warna dan animasi yang digunakan. Fasilitas yang penting untuk membuat program presentasi lebih menarik adalah fasilitas animasi. Fasilitas animasi memungkinkan gambar atau obyek tampil bervariasi. Disesuaikan dengan salah satu topik pembelajaran yang akan diinvestigasi.
Jadi dalam makalah ini akan di kaji lebih dalam tentang model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation dengan fasilitas power point.

B.     Rumusan masalah
Adapun rumusan masalah pada makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Apa hakekat Pembelajaran kooperatif tipe GI?
2.      Apa hakekat media power point?
3.      Bagaimana langkah – langkah pembelajaran kooperatif tipe GI dengan fasilitas power point ?

C.    Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk :
1.      Memahami  hakekat Pembelajaran kooperatif tipe GI
2.      Memahami  hakekat media power point
3.      Memahami langkah – langkah pembelajaran kooperatif tipe GI dengan fasilitas power point







BAB II
PEMBAHASAN

A.    Model Pembelajaran Kooperatif Group Investigation
Orang pertama yang merintis menggunakan model ini adalah John Dewey. Dewey memandang bahwa kerjasama dalam kelas sebagai prasyarat untuk mengatasi berbagai persoalan kehidupan yang kompleks dalam demokrasi. Kelas merupakan bentuk kerjasama dimana guru dan siswa membangun proses pembelajaran dengan perencanaan yang baik berdasarkan berbagai pengalaman, kapasitas, dan kebutuhan mereka masing-masing. Siswa adalah partisipan aktif dalam segala aspek kehidupan sekolah, dengan membuat keputusan-keputusan yang menentukan tujuan kemana mereka bekerja. Kelompok menyediakan sarana sosial bagi proses ini. Perencanaan kelompok menurut salah satu model untuk menjamin keterlibatan siswa secara maksimal. Asma (2006;61) mengungkapkan,
“model group investigation (investigasi kelompok) berasal dari premis bahwa dalam bidang sosial maupun intelektual, proses pembelajaran disekolah menggabungkan nilai-nilai yang didapatnya”.Investigasi kelompok tidak dapat di implementasikan dalam lingkungan pendidikan yang tidak mendukung dialog antar personal atau yang mengabaikan dimensi afektif sosial pembelajaran kelas. Interaksi kooperatif dan komunikasi diantaran teman – teman kelas dapat dicapai paling efektif dalam kelompok kecil, dimana pergaulan antara teman – teman sebaya dapat dipertahankan.aspek sosial afektif kelompok, pertukaran intelektualnya, dan makna pokok pelajaran itu merupakan sumber utama dari usaha – usaha siswa untuk belajar.
Keberhasilan pelaksanaan investigasi kelompok sangat tergantung dengan latihan – latihan berkomunikasi dan berbagi keterampilan sosial lain yang dilakukan sebelumnya. Tahap ini merupakan peletakan dasar (laying the groundwork) bagi pembentukan kelompok (team building) guru dan siswa melakukan berbagai macam kegiatan yang bersifat akademik dan non akademik yang dapat menunjang terbentuknya norma – norma perilaku kooperatif yang sesuai dan dapat dibawa ke dalam kelas. Didalam kelompok yang solid akan dapat memperoleh informasi, fakta, data yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Aisyah, (2006) mengungkapkan, “secara harfiah investigasi diartikan sebagai penyelidikan dengan mencatat atau merekam fakta-fakta, melakukan peninjauan dengan tujuan memperoleh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang suatu peristiwa atau sifat”. Selanjutnya Krismanto (2003) mendefinisikan investigasi atau penyelidikan sebagai kegiatan pembelajaran yang memberikan kemungkinan siswa untuk mengembangkan pemahaman siswa melalui berbagai kegiatan dan hasil yang benar sesuai pengembangan yang dilalui siswa. Investigation berkaitan dengan kegiatan mengobservasi secara rinci dan menilai secara sistematis. Jadi investigasi adalah proses penyelidikan yang dilakukan seseorang, dan selanjutnya orang tersebut mengkomunikasikan hasil perolehannya, dapat membandingkannya dengan perolehan orang lain, karena dalam suatu investigasi dapat diperoleh satu atau lebih hasil. Dengan demikian akan dapat dibiasakan untuk lebih mengembangkan rasa ingin tahu. Hal ini akan membuat siswa untuk lebih aktif berpikir dan mencetuskan ide-ide atau gagasan, serta dapat menarik kesimpulan berdasarkan hasil diskusinya di kelas. Model investigasi kelompok merupakan model pembelajaran yang melatih para siswa berpartisipasi dalam pengembangan sistem sosial dan melalui pengalaman, secara bertahap belajar bagaimana menerapkan metode ilmiah untuk meningkatkan kualitas masyarakat. Model ini merupakan bentuk pembelajaran yang mengkombinasikan dinamika proses demokrasi dengan proses inquiry akademik. Melalui negosiasi siswa-siswa belajar pengetahuan akademik dan mereka terlibat dalam pemecahan masalah sosial. Dengan demikian kelas harus menjadi sebuah miniatur demokrasi yang menghadapi masalah-masalah dan melalui pemecahan masalah, memperoleh pengetahuan dan menjadi sebuah kelompok sosial yang lebih efektif.
Pembelajaran di sekolah dasar harus menitik beratkan pada aktivitas siswa, memperhatikan karakteristik siswa, perkembangan siswa serta situasi lingkungan sekitar. Winataputra (1992:39) mengungkapkan, bahwa model group investigation atau investigasi kelompok dapat digunakan dalam berbagai situasi dan dalam berbagai bidang studi serta berbagai tingkat usia. Pada dasarnya model ini dirancang untuk membimbing para siswa mendefinisikan masalah, mengeksplorasi berbagai cakrawala mengenai masalah tertentu, mengumpulkan data yang relevan, mengembangkan dan mengetes hipotesis. Pada pembelajaran ini guru seyogyanya mengarahkan, membantu para siswa menemukan informasi, dan berperan sebagai salah satu sumber belajar, yang mampu menciptakan lingkungan sosial yang dicirikan oleh lingkungan demokrasi dan proses ilmiah. Sifat demokrasi dalam kooperatif group investigation ditandai oleh keputusan-keputusan yang dikembangkan atau setidaknya diperkuat oleh pengalaman kelompok dalam konteks masalah yang menjadi titik sentral kegiatan belajar. Guru dan siswa memiliki status yang sama dihadapan masalah yang dipecahkan dengan peranan yang berbeda. Jadi tanggung jawab utama guru adalah memotivasi siswa untuk bekerja secara kooperatif dan memikirkan masalah sosial yang berlangsung dalam pembelajaran serta membantu siswa mempersiapkan sarana pendukung. Sarana pendukung yang dipergunakan untuk melaksanakan model ini adalah segala sesuatu yang menyentuh kebutuhan para pelajar untuk dapat menggali berbagai informasi yang sesuai dan diperlukan untuk melakukan proses pemecahan masalah kelompok. Suyatno (2011; 56) mengungkapkan “group investigation merupakan pembelajaran koopertaif yang melibatkan kelompok  dimana siswa bekerja menggunakan inquiry kooperatif, perencanaan, proyek, dan diskusi kelompok, dan kemudian mempresentasikan penemuan mereka kepada kelas.
Investigasi kelompok ini sangat cocok untuk kajian – kajian yang bersifat terpadu yang berkaitan dengan pemerolehan, analisis, dan sintesis informasi untuk menyelesaikan masalahi  – masalah multi dimensi. Tugas akademik harus dapat merangsang berbagai macam masukan (kontribusi) dari seluruh anggota kelompok, dan tidak dirancang hanya untuk memperoleh jawaban – jawaban terhadap pernyataan – pernyataan factual (siapa, apa, kapan, dan sebagainya). Misalnya, investigasi kelompok cocok sekali untuk mengajarkan tentang sejarah dan kebudayaan suatu Negara. Secara umum guru dan siswa menetapkan topik yang luas, dan kemudian dipecah – pecah oleh siswa menjadi beberapa subtopik. Subtopik – subtopik ini merupakan hasil pertumbuhan dari berbagai latar belakang dan minat siswa, sekaligus sebagai pertukaran berbagai gagasan diantara para siswa.
Sebagai bagian dari investigasi, para siswa mencari dan menemukan informasi dari berbagai macam sumber di dalam dan di luar kelas. Sumber – sumber berupa buku, orang, instituti yang dapat memberikan pandangan, masukan, gagasan, opini, data, solusi, atau posisi tentang persoalan yang sedang dikaji. Kemudian para siswa mengevaluai dan mensintesiskan semua informasi yang disampaikan oleh masing-masing kelompok dan akhirnya dapat menghasilkan produk berupa laporan kelompok. Dalam melaksanakan model investigasi kelompok (group investigation), guru berfungsi sebagai narasumber dan fasilitator. Guru berkeliling diantar kelompok – kelompok yang sedang mengerjakan tugas mereka, dan memberikan bimbingan pada kelompok yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugasnya sambil memberikan penilaian proses.
B.  Media Power Point dalam Pembelajaran Group Investigation
Microsoft PowerPoint merupakan program aplikasi persentasi dalam komputer (Susilana, 2007: 99). Sebagai program aplikasi presentasi yang populer, Microsoft PowerPoint paling banyak digunakan untuk berbagai kepentingan persentasi, baik persentasi produk, meeting, seminar, lokakarya, dan dalam pembelajaran. Dengan menggunakan PowerPoint, kita dapat membuat persentasi secara professional dan bahkan jika perlu hasil persentasi dapat ditempatkan di server web untuk diakses sebagai bahan pembelajaran atau informasi yang lainnya. Selain penggunaannya mudah, program PowerPoint dapat diintegrasikan dengan Microsoft yang lainnya seperti Word, Excel, access dan sebagainya (Susilana, 2007: 99)



Menurut Indriana, (2011:16) “media pengajaran mencakup bahan-bahan konvensional seperti papan tulis, buku pegangan, bagan, slide, objek-objek nyata, dan rekaman video atau film”.Salah satu media pembelajaran yang  menarik minat siswa untuk belajar adalah media presentasi powerpoint.
Lebih lanjut Andi, (2011 :96) mengemukakan bahwa :
Media PowerPoint merupakan salah satu bagian dari Microsoft Office.Sejarah PowerPoint berawal pada akhir tahun 1983 dan di penghujung tahun 1987, Forethought dan PowerPoint dibeli oleh Microsoft.Pada tahun 1990 lahirlah PowerPoint persi Windows untuk pertama kali. Di tahun yang samapowerpoint juga resmi bergabung dalam keluarga Microsoft Office.

Microsoft Office PowerPoint adalah sebuah program komputer untuk presentasi yang dikembangkan oleh Microsoft di dalam paket aplikasi kantor. Selain Microsoft Office, Microsoft Word, Excel,Access masih ada beberapa programlainnya.Aplikasi ini sangat banyak digunakan, apalagi oleh kalangan perkantoran dan pembisnis, para pendidik, siswa, dan trainer untuk memudahkan dalam presentasi (Andi, 2011 :101).
Tujuan metode presentasi adalah untuk melatih siswa mengembangkan kemampuan cara berfikir kritis dan analitis sehingga media ini menjadi salah satu alternatif yang sangat baik untuk menarik minat siswa untuk belajar. Penyajian materi akan lebih menarik jika menggunakan teknologi komputer. Teknologi komputer yang paling sering digunakan adalah Software Microsoft PowerPoint.
PowerPoint terdiri atas sejumlah halaman atau slide.Slide-slide tersebut mengandung teks, gambar, grafis, film, dan objek-objek lain yang dapat disusun secara bebas. Dengan berbagai gambar yang tersaji pada powerpoint, melatih kemampuan siswa untuk mengembangkan kemampuan berimajinasi yang dapat merangsang perkembangan mental dan emosi siswa (Sanjaya, 2010 :42). PowerPoint memfasilitasi penggunaan sebuah gaya yang konsisten dalam sebuah presentasi yang menggunakan template atau master slide. Seorang guru dapat mengemas pembelajaran yang menarik melalui tampilan slide pada powerpoint sehingga apa yang hendak disampaikan oleh guru mampu dimengerti melalui powerpoint.
Berdasarkan uraian diatas tentu sudah di ketahaui begitu banyak ke unggulan media power point. Menurut Herlanti (dalam Munadi, 2010: 150), keunggulan multimedia PowerPoint antara lain: (1) mampu menampilkan objek-objek yang sebenarnya tidak ada secara fisik atau diistilahkan dengan imagery. Secara kognitif pembelajaran dengan menggunakan mental imagery akan meningkatkan retensi siswa dalam mengingat materi-materi pelajaran, (2) Mampu mengembangkan materi pembelajaran terutama membaca dan mendengarkan secara mudah, (3) memiliki kemampuan dalam menggabungkan semua unsur media seperti teks, gambar, video, grafik, tabel, suara dan animasi menjadi satu kesatuan penyajian yang terintegrasi, (4) dapat mengakomodasi peserta didik sesuai dengan modalitas belajarnya terutama bagi mereka yang memiliki tipe visual, auditif, kiestetik, atau yang lainnya. Karena menurut Susilana (2007: 100) secara umum, modalitas belajar siswa dibedakan menjadi tiga tipe, yaitu visual, auditif dan kinestetik.
Program Power Point juga merupakan salah satu software yang dirancang khusus untuk menampilkan program multimedia dengan menarik, mudah dalam pembuatan dan penggunaaannya serta relatif murah karena tidak membutuhkan bahan baku selain alat untuk penyimpanan data (Susilana, 2007: 99).
C. Langkah – langkah model pembelajaran kooperatif tipe GI dengan fasilitas power point.
Fase

Kegiatan Guru
Kegiatan Siswa
Mempusatkan perhatian siswa.

a)   Memotivasi siswa (mem- fokuskan perhatian siswa) dengan cara tanya jawab berkaitan dengan materi dalam kehidupan sehari-hari.
b)   Menyampaikan tujuan pembelajaran
Menjawab pertanyaan guru dan mempokuskan pikiran pada satu pokok materi/bahasan yang ingin di bahas hari ini.

Mengidentifikasi topik dan membagi siswa ke dalam kelompok.
a)      Guru memberikan kesempatan bagi siswa untuk memberi kontribusi apa yang akan mereka selidiki.
b)      Kelompok dibentuk berdasarkan heterogenitas.
1)      Memberikan masukan terhadap topik yang akan di teliti dan di inestigasi sesuai materi yang akan dipelajari.
2)      Membentuk kelompok
Merencanakan tugas.
Mempersiapkan dan menata sumber belajar sebagai sarana siswa berinvestigasi
Kelompok akan membagi sub topik kepada seluruh anggota. Kemudian membuat perencanaan dari masalah yang akan diteliti, bagaimana proses dan sumber apa yang akan dipakai.
Membuat penyelidikan.
Memfasilitasi siswa dengan media power point, membimbing serta mengawasi siswa yang sedang berinvestigasi agar setiap kelompok dapat bekerja optimal.
Siswa mengumpulkan, menganalisis dan mengevaluasi informasi, membuat kesimpulan dan mengaplikasikan bagian mereka ke dalam pengetahuan baru dalam mencapai solusi masalah kelompok.
Mempresentasikan tugas akhir.
a)   Memberikan reinforcement pada kelompok yang penampilannya baik dan memberikan motivasi pada kelompok yang kurang baik.
b)  Memberikan penegasan terhadap masing-masing bahasan dari setiap kelompok.
Siswa mempresentasikan hasil kerjanya. Kelompok lain memberikan tanggapan.
Evaluasi pembelajaran
a)   Membantu siswa melaku- kan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dipeajari.
b)   Bersama siswa menyimpulkan pembelajaran.
c)   Mengevaluasi pembelajaran yang telah dilakukan dengan menggunakan test hasil belajar .
1)   Menyimpulkan materi pemebelajaran yang telah dipelajari.
2)   Menjawab tesi yang diberikan guru.













BAB III
PENUTUP

A.    Simpulan
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa; (1) Model pembelajaran kooperatif tipe GI adalah salah satu model pembelajaran inovatif yang di percaya dapat mengoptimalkan hasil belajar siswa. (2) Media power point  merupakan sebuah program computer yang dapat berperan sebagai media pembelajaran efektif dan efisien.

CERAMAH YANG DIANGGAP KONVENSIONAL NAMUN TETAP AXIS DALAM SETIAP FASE PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DASAR



BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang.

Berbagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan telah dan terus dilakukan, mulai dari pelatihan untuk meningkatkan kualitas guru, penyempurnaan kurikulum secara periodik, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan sampai dengan peningkatan manajemen sekolah. Namun, indikator kearah mutu pendidikan belum menunjukkan peningkatan yang signifikan.  Konsep pendidikan pada dasarnya membuat siswa memiliki kompetensi tamatan sesuai jenjang sekolah, yaitu pengetahuan, nilai, sikap, dan kemampuan melaksanakan tugas atau mempunyai kemampuan untuk mendekatkan dirinya dengan lingkungan alam, lingkungan sosial, lingkungan budaya, dan kebutuhan daerah. Sementara itu, kondisi pendidikan di negara kita dewasa ini, lebih diwarnai oleh pendekatan yang menitik beratkan pada model belajar konvensional seperti ceramah sehingga kurang mampu merangsang siswa untuk terlibat aktif dalam proses belajar mengajar. Suasana belajar seperti itu, semakin menjauhkan peran pendidikan dalam upaya mempersiapkan warga negara yang baik dan masyarakat yang cerdas (Djahiri, 1993) Setiap orang selalu punya kewajiban untuk melakukan tugas tertentu seperti halnya seorang guru di tuntut agar menjalankan kewajiban itu sepenuh tanggung jawab. Setiap kewajiban berisi tugas dan setiap tugas harus di laksanakan.  Tugas yang di laksanakan akan dianggap selesai apabila tujuan yang hendak dicapai sudah terwujud. Seorang guru tersebut harus merasa yakin bahwa jalan yang harus ditempuhnya untuk sampai kepada tujuan dapat dilakukan dengan cara atau metode yang tepat dan cocok untuk diterapkan kepada peserta didiknya. Adapun cara atau metode yang terbaik untuk diterapkan itu banyak sekali tergantung pada karakteristik peserta didik masing-masing. Apapun model pembelajaran yang digunakan dalam proses belajar di kelas, guru pasti menggunakan metode ceramah. Entah mengapa para pendidik di Indonesia tak terlepas dari  metode tersebut walau dia telah menggunakan model pembelajaran inovatif dan menganggap ceramah adalah cara membelajarkan siswa secara konvensional. Dari hal tersebut diatas perlu dikaji secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar agar kita paham walau dianggap konvensional tapi ceramah adalah tulang punggung pembelajaran.


B.   Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang maka rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah mengapa metode ceramah yang dianggap konvensional tetap menjadi tulang punggung pembelajaran di Indonesia ?

C.   Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini ialah untuk mengetahui Mengapa metode ceramah yang dianggap konvensional tetap menjadi tulang punggung pembelajaran di Indonesia.
















BAB II
PEMBAHASAN


A.  Peran Metode Ceramah dalam Pembelajaran

Tiap metode mempunyai karakteristik tertentu dengan segala kelebihan dan kelemahan masing masing. Suatu metode mungkin baik untuk suatu tujuan tertentu, pokok bahasan maupun situasi dan kondisi tertentu, tetapi mungkin tidak tepat untuk situasi yang lain. Demikian pula suatu metode yang dianggap baik untuk suatu pokok bahasan yang disampaikan oleh guru tertentu, kadang-kadang belum tentu berhasil dibawakan oleh guru lain.
Metode berasal dari bahasa Yunani Greek   yakni  Metha   berarti melalui , dan  Hadas artinya cara, jalan, alat atau gaya. Dengan kata lain, metode artinya  jalan atau cara yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, susunan Poerwadarminta, bahwa  metode adalah cara yang teratur dan berpikir baik-baik untuk mencapai suatu maksud. Leish (1976), melalui ceramah, dapat dicapai beberapa tujuan. Dengan metode ceramah, guru dapat mendorong timbulnya inspirasi bagi pendengarnya.
Gage dan Berliner (1981:457), menyatakan metode ceramah cocok untuk digunakan dalam pembelajaran dengan ciri-ciri tertentu. Ceramah cocok untuk penyampaian bahan belajar yang berupa informasi dan jika bahan belajar tersebut sukar didapatkan. Metode pembelajaran ceramah adalah penerangan secara lisan atas bahan pembelajaran kepada sekelompok pendengar untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dalam jumlah yang relatif besar.
Ceramah merupakan penuturan atau penerangan secara lisan oleh guru terhadap kelas. Alat interaksi yang terutama dalam hal ini adalah “berbicara". Dalam ceramahnya kemungkinan guru menyelipkan pertanyaan pertanyaan, akan tetapi kegiatan belajar siswa terutama mendengarkan dengan teliti dan mencatat pokok pokok penting, yang dikemukakan oleh guru; bukan menjawab pertanyaan-pertanyaan siswa.

Metode ceramah yang dianggap sebagai penyebab utama dari rendahnya minat belajar siswa terhadap pelajaran memang patut dibenarkan, tetapi juga anggapan itu sepenuhnya kurang tepat karena setiap metode  atau model pembelajaran baik metode pembelajaran klasik termasuk metode ceramah maupun metode pembelajaran modern sama-sama mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing, yang saling melengkapi satu sama lain.
Metode ceramah itu sendiri pada dasarnya memiliki banyak pengertian dan jenisnya. Berikut ini beberapa pengertian dari metode ceramah, antara lain :
1.      Menurut  Surahmad, ceramah adalah penerangan dan penuturan secara lisan oleh guru terhadap kelasnya, sedangkan peranan murid mendengarkan dengan teliti, serta mencatat yang pokok dari yang dikemukakan oleh guru.
2.      Metode ceramah adalah penyajian informasi secara lisan baik formal maupun informal.
3.      Metode ceramah menurut Gilstrap dan Martin 1975 : ceramah berasal dari bahasa latin yaitu Lecturu, Legu (Legree, lectus) yang berati membaca kemudian diartikan secara umum dengan mengajar sebagai akibat dari guru menyampaikan pelajaran dengan membaca dari buku dan mendiktekan pelajaran dengan penggunaan buku.
4.      Metode ceramah yaitu penerapan dan penuturan secara lisan oleh guru terhadap kelasnya, dengan menggunakan alat bantu mengajar untuk memperjelas uraian yang disampaikan kepada siswa. Metode ceramah ini sering kita jumpai pada proses-proses pembelajaran di sekolah, mulai dari tingkat yang rendah sampai ke tingkat perguruan tinggi, sehingga metode seperti ini sudah dianggap sebagai metode yang terbaik bagi guru untuk melakukan interaksi belajar mengajar. Satu hal yang tidak pernah menjadi bahan refleksi bagi guru adalah tentang peran penggunaan metode ceramah yaitu mengenai minat dan motivasi siswa, bahkan akhirnya juga berdampak pada prestasi siswa.
5.      Metode ceramah juga disebut juga kegiatan memberikan informasi dengan kata-kata. Pengajaran sejarah, merupakan proses pemberian informasi atau materi kepada siswa serta hasil dari penggunaan metode tersebut sering tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Makna dan arti dari materi atau informasi tersebut terkadang ditafsirkan berbeda atau salah oleh siswa. Hal ini karena tingkat pemahaman setiap siswa yang berbeda-beda atau dilain pihak guru sebagai pusat pembelajaran kurang pandai dalam menyampaikan informasi atau  materi kepada siswa. Jenis-jenis metode ceramah, terdiri dari metode ceramah bervariasi, metode ceramah campuran dan metode ceramah asli.
Anggapan-anggapan negatif tentang metode ceramah sudah seharusnya patut diluruskan, baik dari segi pemahaman artikulasi oleh guru maupun penerapannya dalam proses belajar mengajar disekolah. Ceramah adalah sebuah bentuk interaksi melalui penerangan dan penuturan lisan dari guru kepada peserta didik, dalam pelaksanaan ceramah untuk menjelaskan uraiannya, guru dapat menggunakan alat-alat bantu media pembelajaran seperti gambar dan audio visual lainnya. Definisi lain ceramah menurut bahasa berasal dari kata lego (bahasa latin) yang diartikan secara umum dengan “mengajar” sebagai akibat guru menyampaikan pelajaran dengan membaca dari buku dan mendiktekan pelajaran dengan menggunakan buku kemudian menjadi lecture method atau metode ceramah. Definisi metode ceramah diatas, bila langsung diserap dan diaplikasikan tanpa melalui pemahaman terlebih dahulu oleh para guru tentu hasil yang didapat dari penerapan metode ini akan jauh dari harapan, seperti halnya yang terjadi dalam problematika saat ini. Hampir setiap guru sejarah menggunakan metode ceramah yang jauh dari kaidah-kaidah metode ceramah seharusnya.
Metode ceramah dalam proses belajar mengajar sesungguhnya tidak dapat dikatakan suatu metode yang salah. Hal ini dikarenakan model pengajaran ini seperti yang dijelaskan diatas terdiri dari beberapa jenis, yang nantinya dapat dieksploitasi atau dikreasikan menjadi suatu metode ceramah yang menyenangkan, tidak seperti pada metode ceramah klasik yang terkesan mendongeng. Alasan mengapa metode ceramah selalu ada dan menjadi tulang punggung pembelajaran karena  dalam memiliki kelebihan sebagai berikut  :
1)      Guru mudah menguasai kelas.
2)      Mudah mempersiapkan dan melaksanakannya.
3)      Guru mudah menerangkan pelajaran dengan baik.
4)      Lebih ekonomis dalam hal waktu.
5)      Memberi kesempatan pada guru untuk menggunakan pengalaman, pengetahuan dan kearifan.
6)      Dapat menggunakan bahan pelajaran yang luas
7)      Membantu siswa untuk mendengar secara akurat, kritis, dan penuh perhatian.
8)      Jika digunakan dengan tepat maka akan dapat menstimulasikan dan meningkatkan keinginan  belajar siswa dalam bidang akademik.
9)      Mudah mengorganisasikan tempat duduk/kelas.
10)  Dapat diikuti oleh jumlah siswa yang besar.
Dalam lingkungan pendidikan modern, ceramah sebagai metode mengajar telah menjadi salah satu persoalan yang cukup sering diperdebatkan. Sebagian orang menolak sama sekali dengan alasan bahwa cara sebagai metode mengajar kurang efisien dan bertentangan dengan cara manusia belajar. Sebaliknya, sebagian yang mempertahankan berdalih, bahwa ceramah lebih banyak dipakai sejak dulu dan dalam setiap pertemuan di kelas guru tidak mungkin meninggalkan ceramah walaupun hanya sekedar sebagai kata pengantar pelajaran atau merupakan uraian singkat di tengah pelajaran.
Kalau kita teliti lebih lanjut, sebenarnya alasan-alasan tersebut di atas tidaklah sama sekali salah, tetapi juga tidak sama sekali benar. Hal yang sebenarnya adalah bahwa dalam situasi-situasi tertentu, metode ceramah merupakan metode yang paling baik, tetapi dalam situasi lain mungkin sangat tidak efisien. Guru yang bijaksana senantiasa menyadari kondisi-kondisi yang berhubungan situasi pengajaran yang dihadapinya, sehingga ia dapat menetapkan bilamanakah metode ceramah sewajamya digunakan, dan bilakah sebaiknya dipakai metode lain.
Suasana belajar mengajar tidak efektif apabila pola komunikasi yang terjadi hanya satu arah, yakni dari guru kepada siswa. Menurut pandangan modern, efektivitas pemelajaran sangat ditentukan oleh pola komunikasi multitrafic (multitrafic communication). Dalam pola komunikasi multitrafic ini, komunikasi terjadi antara guru dan siswa serta siswa dan siswa. Dengan pola komunikasi seperti ini, antara siswa dan guru maupun siswa dan siswa lainnya terjadi pertukaran (sharing) pengetahuan dan pengalaman sehingga proses belajar mengajar lebih bermakna.
Untuk menciptakan pola semacam ini, guru harus memiliki beberapa keterampilan sebagai berikut:
a)      Memiliki keterampilan bertanya yang meliputi pertanyaan menggiring, pertanyaan untuk merangsang siswa berpikir dan mengemukakan gagasan, pertanyaan mengarahkan, dan pertanyaan yang bersifat mengendalikan arus komunikasi.
b)      Memiliki keterampilan memberikan reward dan bentuk-bentuk penghargaan atas pendapat, gagasan, dan pertanyaan siswa.
c)      Terampil dalam memilih dan mempergunakan metode dan media pembelajaran yang mendukung terjadinya pola komunikasi multitrafic.
d)     Memiliki keterampilan memilih dan menyampaikan permasalahan yang dapat merangsang siswa mau berpikir dan melibatkan emosi dalam pemelajaran.
e)      Memahami dan mampu menerapkan pola pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) dengan segenap metode dan media yang mendukungnya.
Dalam kehidupan sehari-hari di sekolah metode ceramah paling populer dikalangan para pendidik. Sebelum metode lain yang dipakai untuk mengajar, metode ceramah yang paling dulu digunakan, hanya bagaimana menggunakan metode ceramah yang efektif dan efisien. Hal ini  menunjukkan bahwa model pembelajaran apapun tetap membutuhkan metode ceramah. Adapun hal biasa yang dilakukan guru dalam pembelajaran dengan metode ceramah :
a)      Melakukan pendahuluan sebelum bahan baru diberikan dengan cara ; (1) Menjelaskan tujuan lebih dulu kepada peserta didik dengan maksud agar peserta didik mengetahui arah kegiatannya dalam belajar, bahkan tujuan itu dapat membangkitkan motivasi belajar jika bertalian dengan kebutuhan mereka. (2) Setelah itu baru dikemukakan pokok-pokok materi yang akan dibahas. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik melihat luasnya bahan pelajaran yang akan dipelajarinya. (3) Memancing pengalaman peserta didik yang cocok dengan materi yang akan dipelajarinya. Caranya ialah dengan pertanyaan-pertanyaan yang menarik perhatian mereka.

b)   Menyajikan bahan baru dengan memperhatikan faktor-faktor ; (1) Perhatian peserta didik dari awal sampai akhir pelajaran harus tetap terpelihara. Semangat mengajar memberi bantuan sepenuhnya dalam memelihara perhatian peserta didik kepada pelajarannya. (2) Menyajikan pelajaran secara sistematis, tidak berbelit-belit dan tidak meloncat-loncat. (3) Kegiatan belajar mengajar diciptakan secara variatif, jangan membiarkan peserta didik hanya duduk dan mendengarkan, tetapi berilah kesempatan untuk berpikir dan berbuat. Misalnya pelatihan mengerjakan tugas, mengajukan pertanyaan, berdiskusi, atau melihat peragaan. (4) Memberi ulangan pelajaran kepada response, jawaban yang salah dan benar perlu ditanggapi sebaik-baiknya. (5) Membangkitkan motivasi belajar secara terus menerus selama perjalanan berlangsung. Motivasi belajar akan selalu tumbuh jika sesuatu belajar menyenangkan. (6) Menggunakan media pelajaran yang variatif, yang sesuai dengan tujuan pelajaran.

c)    Menutup pelajaran pada akhir pelajaran. Kegiatan perlu diperhatikan pada penutupan itu ; (1) Mengambil kesimpulan dari semua pelajaran yang telah diberikan, dilakukan oleh peserta didik di bawah bimbingan guru. (2) Memberikan kesempatan pada peserta didik untuk menanggapi materi pelajaran yang telah diberikan terutama mengenai hubungan dengan pelajaran lain. (3) Melaksanakan penilaian secara komprehensif untuk mengukur perubahan tingkah laku
Dalam memberikan suatu ceramah seharusnya menggunakan gaya percakapan yang antusias, dan ceramah juga harus disampaikan dengan suara yang cukup nyaring. Banyak guru yang berbicara terlalu lemah, sehingga kelas gaduh. Hal ini dapat menimbulkan frustasi pada siswa yang tidak pandai menangkap arti kata-kata yang di ucapkan oleh guru. Bahaya lain yang tersembunyi yaitu kecenderungan guru-guru yang biasa menggunakan bahasa yang hanya dipahami oleh kalangan tertentu. Ini sering dilakukan untuk menunjukan bahwa mereka cerdas, berpendidikan tinggi. Padahal sebenarnya sebagian besar dari mereka tidak memahaminya. Seharusnya jika ingin menggunakan kata-kata baru, terlebih dahulu seorang guru harus memberikan definisinya. Teknik lain yaitu menggunakan gerakan badan, karena banyak guru dalam pelaksanaan mengajar hanya terpaku di mejanya. Mereka tidak pernah berjalan-jalan diantara tempat duduk siswanya. Penceramah seharusnya bebas bergerak, dengan demikian, ia dapat menarik perhatian siswa-siswanya (seperti sasaran yang bergerak), disamping dapat juga mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh siswa-siswanya.
Selanjutnya, begitu memulai pelajaran tataplah muka para siswa, adakanlah kontak mata, mereka akan lebih tertarik bila melihat gurunya memberikan perhatian kepada mereka. Selain itu perlu juga dihindarkan kebiasaan-kebiasaan bicara yang kiranya dapat mengganggu mereka. Karena bila digunakan secara berlebihan sudah pasti sangat merugikan. Jadi metode ceramah adalah metode yang sangat sederhana, tetapi justru karena kesederhanaannya inilah metode ini paling banyak digunakan, dan metode ceramah ini dapat menjadikan proses belajar menjadi menyenangkan apabila digunakan secara efektif dan efisien.




















BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari paparan diatas dapat disimpulkan bahwa metode ceramah adalah metode yang sangat sederhana, tetapi justru karena kesederhanaannya inilah metode ini paling banyak digunakan, menjadi dasar setiap model pembelajaran karena segala ke praktisannya , tidak memerlukan banyak biaya dan metode ceramah ini dapat menjadikan proses belajar menjadi menyenangkan apabila digunakan secara efektif dan efisien.






















DAFTAR RUJUKAN

Anonim. 2013. http://www.duniapendidikan.com/metode-ceramah.html (diakses pada tanggal 14 desember 2013)
Anonim. 2013. http://www.wikipedia.com/definisi-metode-ceramah.html (diakses pada tanggal 14 desember 2013)
Djahiri, (1993).Landasan falsafah dan teori teknologi pendidikan, Media Kencana,  IKIP Jakarta.




Selasa, 25 Februari 2014

MENGUPAYAKAN KUALITAS HASIL BELAJAR SISWA DENGAN MENGOPTIMALKAN PERAN MODEL PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATION YANG DIFASILITASI MEDIA POWER POINT



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting menciptakan insan manusia yang cerdas, kompetitif,  serta kreatif oleh karena itu pembaharuan dalam dunia pendidikan perlu dilakukan untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas. Tujuan pendidikan nasional sesuai dengan undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Untuk mencapai tujuan, yakni terbentuknya manusia-manusia yang mampu menemukan jati dirinya, manusia-manusia dengan ciri-ciri sebagaimana dikemukakan di atas, memerlukan kerja serius, efisien, sistimatis dan materi atas komponen-komponen yang relevan. Dengan demikian, diharapkan tujuan yang bersifat sangat umum dan luas itu mendapat bentuk yang nyata. Pemikiran mengenai cara tersebut akan menghasilkan satu bentuk organisasi beserta pengaturannya, yang secara umum disebut kurikulum. Kurikulum ini menjadi pedoman praktis dalam upaya melaksanakan tercapainya tujuan pengajaran (Sardiman, 2008:23).
Fokus kegiatan pembelajaran di sekolah adalah interaksi pendidik dan peserta didik dalam mempelajari suatu materi pembelajaran yang telah tersusun dalam suatu kurikulum. Dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran para pendidik tidak hanya menguasai bahan atau materi ajar, tentu perlu pula mengetahui bagaimana cara materi ajar itu disampaikan dan bagaimana pula karakteristik peserta didik yang menerima materi pembelajaran tersebut. Kegagalan pendidik dalam menyampaikan materi ajar, bukan karena pendidik kurang menguasai bahan, tetapi karena pendidik tidak tahu bagaimana cara menyampaikan materi pembelajaran tersebut dengan baik dan tepat. Sehingga peserta didik dapat belajar dengan suasana yang menyenangkan dan juga membuat peserta didik menjadi nyaman. Agar peserta didik dapat belajar dengan suasana menyenangkan dan juga nyaman, maka pendidik perlu memiliki pengetahuan tentang model dan teknik-teknik pembelajaran dengan memahami teori-teori belajar dan teknik-teknik mengajar yang baik dan tepat (Sarjono, 2003:31). Salah satu model pembelajaran yang tepat diterapkan adalah model pembelajaran kooperatif tipe group investigation.
Group Investigation merupakan  salah satu bentuk model pembelajaran kooperatif  yang menekankan pada partisipasi dan aktivitas siswa untuk mencari sendiri informasi materi pelajaran yang akan dipelajari melalui bahan-bahan yang tersedia, misalnya dari buku pelajaran, gambar, video, atau siswa dapat mencari melalui internet.  Siswa dilibatkan sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Tipe ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok. Model Group Investigation dapat melatih siswa untuk menumbuhkan kemampuan berfikir mandiri. Keterlibatan siswa secara aktif dapat terlihat mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir pembelajaran. Dalam model Group Investigation terdapat tiga konsep utama, yaitu: penelitian atau inquiri, pengetahuan atau knowledge, dan dinamika kelompok atau the dynamic of the learning group, (Winataputra, 2001:75). Penelitian disini adalah proses dinamika siswa memberikan respon terhadap masalah dan memecahkan masalah tersebut. Pengetahuan adalah pengalaman belajar yang diperoleh siswa baik secara langsung maupun tidak langsung. Sedangkan dinamika kelompok menunjukkan suasana yang menggambarkan sekelompok saling berinteraksi yang melibatkan berbagai ide dan pendapat serta saling bertukar pengalaman melaui proses saling beragumentasi. Hal ini juga dikukung oleh pendapat Krismanto (2003:7) yang memberikan penjelasan tentang investigasi, yaitu sebagai kegiatan pembelajaran yang memberikan kemungkinan siswa untuk mengembangkan pemahaman siswa melalui berbagai kegiatan dan hasil yang benar sesuai pengembangan yang dilalui siswa. Investigation berkaitan dengan kegiatan mengobservasi secara rinci dan menilai secara sistematis. Jadi investigasi adalah proses penyelidikan yang dilakukan seseorang, dan selanjutnya orang tersebut mengkomunikasikan hasil perolehannya, dapat membandingkannya dengan perolehan orang lain, karena dalam suatu investigasi dapat diperoleh satu atau lebih hasil. Maka akan terjadi interaksi untuk menemukan satu jawaban yang paling tepat dengan juga bimbingan dari guru dan sumber-sumber belajar yang tersedia.
Keunggulan kooperatif Group Investigation adalah (1) dalam pembelajaran kooperatif dengan metode Group Investigation berpusat pada siswa, guru hanya bertindak sebagai fasilitator atau konsultan sehingga siswa berperan aktif dalam pembelajaran. (2)  pembelajaran yang dilakukan membuat suasana saling bekerjasama dan berinteraksi antar siswa dalam kelompok tanpa memandang latar belakang, setiap siswa dalam kelompok memadukan berbagai ide dan pendapat, saling berdiskusi dan beragumentasi dalam memahami suatu pokok bahasan serta memecahkan suatu permasalahan yang dihadapi kelompok. (3) pembelajaran kooperatif dengan metode Group Investigation siswa dilatih untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi, semua kelompok menyajikan suatu presentasi yang menarik dari berbagai topik yang telah dipelajari, semua siswa dalam kelas saling terlihat dan mencapai suatu perspektif yang luas mengenai topik tersebut. (4) adanya motivasi yang mendorong siswa agar aktif dalam proses belajar mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir pembelajaran. Jadi melalui pembelajaran kooperatif dengan metode Group Investigation suasana belajar terasa lebih efektif, kerjasama kelompok dalam pembelajaran ini dapat membangkitkan semangat siswa untuk memiliki keberanian dalam mengemukakan pendapat dan berbagi informasi dengan teman lainnya dalam membahas materi pembelajaran.
Selain model pembelajaran yang inovatif dalam membelajarkan siswa tentunya perlu fasilitas penunjang yang dapat mengoptimalkan hasil belajar, seperti media power point.  PowerPoint sebagai salah satu media yang menarik digunakan untuk membelajarkan siswa. PowerPoint sebagai media pembelajaran sangat efektif digunakan untuk menunjang proses pembelajaran. Melalui PowerPoint sebagai media pembelajaran, guru dapat mengemas pembelajaran yang sangat menarik dengan komposisi warna dan animasi yang digunakan. Fasilitas yang penting untuk membuat program presentasi lebih menarik adalah fasilitas animasi. Fasilitas animasi memungkinkan gambar atau obyek tampil bervariasi. Disesuaikan dengan salah satu topik pembelajaran yang akan diinvestigasi.
Jadi dalam makalah ini akan di kaji lebih dalam tentang model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation dengan fasilitas power point.

B.     Rumusan masalah
Adapun rumusan masalah pada makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Apa hakekat Pembelajaran kooperatif tipe GI?
2.      Apa hakekat media power point?
3.      Bagaimana langkah – langkah pembelajaran kooperatif tipe GI dengan fasilitas power point ?

C.    Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk :
1.      Memahami  hakekat Pembelajaran kooperatif tipe GI
2.      Memahami  hakekat media power point
3.      Memahami langkah – langkah pembelajaran kooperatif tipe GI dengan fasilitas power point







BAB II
PEMBAHASAN

A.    Model Pembelajaran Kooperatif Group Investigation
Orang pertama yang merintis menggunakan model ini adalah John Dewey. Dewey memandang bahwa kerjasama dalam kelas sebagai prasyarat untuk mengatasi berbagai persoalan kehidupan yang kompleks dalam demokrasi. Kelas merupakan bentuk kerjasama dimana guru dan siswa membangun proses pembelajaran dengan perencanaan yang baik berdasarkan berbagai pengalaman, kapasitas, dan kebutuhan mereka masing-masing. Siswa adalah partisipan aktif dalam segala aspek kehidupan sekolah, dengan membuat keputusan-keputusan yang menentukan tujuan kemana mereka bekerja. Kelompok menyediakan sarana sosial bagi proses ini. Perencanaan kelompok menurut salah satu model untuk menjamin keterlibatan siswa secara maksimal. Asma (2006;61) mengungkapkan,
“model group investigation (investigasi kelompok) berasal dari premis bahwa dalam bidang sosial maupun intelektual, proses pembelajaran disekolah menggabungkan nilai-nilai yang didapatnya”.Investigasi kelompok tidak dapat di implementasikan dalam lingkungan pendidikan yang tidak mendukung dialog antar personal atau yang mengabaikan dimensi afektif sosial pembelajaran kelas. Interaksi kooperatif dan komunikasi diantaran teman – teman kelas dapat dicapai paling efektif dalam kelompok kecil, dimana pergaulan antara teman – teman sebaya dapat dipertahankan.aspek sosial afektif kelompok, pertukaran intelektualnya, dan makna pokok pelajaran itu merupakan sumber utama dari usaha – usaha siswa untuk belajar.
Keberhasilan pelaksanaan investigasi kelompok sangat tergantung dengan latihan – latihan berkomunikasi dan berbagi keterampilan sosial lain yang dilakukan sebelumnya. Tahap ini merupakan peletakan dasar (laying the groundwork) bagi pembentukan kelompok (team building) guru dan siswa melakukan berbagai macam kegiatan yang bersifat akademik dan non akademik yang dapat menunjang terbentuknya norma – norma perilaku kooperatif yang sesuai dan dapat dibawa ke dalam kelas. Didalam kelompok yang solid akan dapat memperoleh informasi, fakta, data yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Aisyah, (2006) mengungkapkan, “secara harfiah investigasi diartikan sebagai penyelidikan dengan mencatat atau merekam fakta-fakta, melakukan peninjauan dengan tujuan memperoleh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang suatu peristiwa atau sifat”. Selanjutnya Krismanto (2003) mendefinisikan investigasi atau penyelidikan sebagai kegiatan pembelajaran yang memberikan kemungkinan siswa untuk mengembangkan pemahaman siswa melalui berbagai kegiatan dan hasil yang benar sesuai pengembangan yang dilalui siswa. Investigation berkaitan dengan kegiatan mengobservasi secara rinci dan menilai secara sistematis. Jadi investigasi adalah proses penyelidikan yang dilakukan seseorang, dan selanjutnya orang tersebut mengkomunikasikan hasil perolehannya, dapat membandingkannya dengan perolehan orang lain, karena dalam suatu investigasi dapat diperoleh satu atau lebih hasil. Dengan demikian akan dapat dibiasakan untuk lebih mengembangkan rasa ingin tahu. Hal ini akan membuat siswa untuk lebih aktif berpikir dan mencetuskan ide-ide atau gagasan, serta dapat menarik kesimpulan berdasarkan hasil diskusinya di kelas. Model investigasi kelompok merupakan model pembelajaran yang melatih para siswa berpartisipasi dalam pengembangan sistem sosial dan melalui pengalaman, secara bertahap belajar bagaimana menerapkan metode ilmiah untuk meningkatkan kualitas masyarakat. Model ini merupakan bentuk pembelajaran yang mengkombinasikan dinamika proses demokrasi dengan proses inquiry akademik. Melalui negosiasi siswa-siswa belajar pengetahuan akademik dan mereka terlibat dalam pemecahan masalah sosial. Dengan demikian kelas harus menjadi sebuah miniatur demokrasi yang menghadapi masalah-masalah dan melalui pemecahan masalah, memperoleh pengetahuan dan menjadi sebuah kelompok sosial yang lebih efektif.
Pembelajaran di sekolah dasar harus menitik beratkan pada aktivitas siswa, memperhatikan karakteristik siswa, perkembangan siswa serta situasi lingkungan sekitar. Winataputra (1992:39) mengungkapkan, bahwa model group investigation atau investigasi kelompok dapat digunakan dalam berbagai situasi dan dalam berbagai bidang studi serta berbagai tingkat usia. Pada dasarnya model ini dirancang untuk membimbing para siswa mendefinisikan masalah, mengeksplorasi berbagai cakrawala mengenai masalah tertentu, mengumpulkan data yang relevan, mengembangkan dan mengetes hipotesis. Pada pembelajaran ini guru seyogyanya mengarahkan, membantu para siswa menemukan informasi, dan berperan sebagai salah satu sumber belajar, yang mampu menciptakan lingkungan sosial yang dicirikan oleh lingkungan demokrasi dan proses ilmiah. Sifat demokrasi dalam kooperatif group investigation ditandai oleh keputusan-keputusan yang dikembangkan atau setidaknya diperkuat oleh pengalaman kelompok dalam konteks masalah yang menjadi titik sentral kegiatan belajar. Guru dan siswa memiliki status yang sama dihadapan masalah yang dipecahkan dengan peranan yang berbeda. Jadi tanggung jawab utama guru adalah memotivasi siswa untuk bekerja secara kooperatif dan memikirkan masalah sosial yang berlangsung dalam pembelajaran serta membantu siswa mempersiapkan sarana pendukung. Sarana pendukung yang dipergunakan untuk melaksanakan model ini adalah segala sesuatu yang menyentuh kebutuhan para pelajar untuk dapat menggali berbagai informasi yang sesuai dan diperlukan untuk melakukan proses pemecahan masalah kelompok. Suyatno (2011; 56) mengungkapkan “group investigation merupakan pembelajaran koopertaif yang melibatkan kelompok  dimana siswa bekerja menggunakan inquiry kooperatif, perencanaan, proyek, dan diskusi kelompok, dan kemudian mempresentasikan penemuan mereka kepada kelas.
Investigasi kelompok ini sangat cocok untuk kajian – kajian yang bersifat terpadu yang berkaitan dengan pemerolehan, analisis, dan sintesis informasi untuk menyelesaikan masalahi  – masalah multi dimensi. Tugas akademik harus dapat merangsang berbagai macam masukan (kontribusi) dari seluruh anggota kelompok, dan tidak dirancang hanya untuk memperoleh jawaban – jawaban terhadap pernyataan – pernyataan factual (siapa, apa, kapan, dan sebagainya). Misalnya, investigasi kelompok cocok sekali untuk mengajarkan tentang sejarah dan kebudayaan suatu Negara. Secara umum guru dan siswa menetapkan topik yang luas, dan kemudian dipecah – pecah oleh siswa menjadi beberapa subtopik. Subtopik – subtopik ini merupakan hasil pertumbuhan dari berbagai latar belakang dan minat siswa, sekaligus sebagai pertukaran berbagai gagasan diantara para siswa.
Sebagai bagian dari investigasi, para siswa mencari dan menemukan informasi dari berbagai macam sumber di dalam dan di luar kelas. Sumber – sumber berupa buku, orang, instituti yang dapat memberikan pandangan, masukan, gagasan, opini, data, solusi, atau posisi tentang persoalan yang sedang dikaji. Kemudian para siswa mengevaluai dan mensintesiskan semua informasi yang disampaikan oleh masing-masing kelompok dan akhirnya dapat menghasilkan produk berupa laporan kelompok. Dalam melaksanakan model investigasi kelompok (group investigation), guru berfungsi sebagai narasumber dan fasilitator. Guru berkeliling diantar kelompok – kelompok yang sedang mengerjakan tugas mereka, dan memberikan bimbingan pada kelompok yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugasnya sambil memberikan penilaian proses.
B.  Media Power Point dalam Pembelajaran Group Investigation
Microsoft PowerPoint merupakan program aplikasi persentasi dalam komputer (Susilana, 2007: 99). Sebagai program aplikasi presentasi yang populer, Microsoft PowerPoint paling banyak digunakan untuk berbagai kepentingan persentasi, baik persentasi produk, meeting, seminar, lokakarya, dan dalam pembelajaran. Dengan menggunakan PowerPoint, kita dapat membuat persentasi secara professional dan bahkan jika perlu hasil persentasi dapat ditempatkan di server web untuk diakses sebagai bahan pembelajaran atau informasi yang lainnya. Selain penggunaannya mudah, program PowerPoint dapat diintegrasikan dengan Microsoft yang lainnya seperti Word, Excel, access dan sebagainya (Susilana, 2007: 99)



Menurut Indriana, (2011:16) “media pengajaran mencakup bahan-bahan konvensional seperti papan tulis, buku pegangan, bagan, slide, objek-objek nyata, dan rekaman video atau film”.Salah satu media pembelajaran yang  menarik minat siswa untuk belajar adalah media presentasi powerpoint.
Lebih lanjut Andi, (2011 :96) mengemukakan bahwa :
Media PowerPoint merupakan salah satu bagian dari Microsoft Office.Sejarah PowerPoint berawal pada akhir tahun 1983 dan di penghujung tahun 1987, Forethought dan PowerPoint dibeli oleh Microsoft.Pada tahun 1990 lahirlah PowerPoint persi Windows untuk pertama kali. Di tahun yang samapowerpoint juga resmi bergabung dalam keluarga Microsoft Office.

Microsoft Office PowerPoint adalah sebuah program komputer untuk presentasi yang dikembangkan oleh Microsoft di dalam paket aplikasi kantor. Selain Microsoft Office, Microsoft Word, Excel,Access masih ada beberapa programlainnya.Aplikasi ini sangat banyak digunakan, apalagi oleh kalangan perkantoran dan pembisnis, para pendidik, siswa, dan trainer untuk memudahkan dalam presentasi (Andi, 2011 :101).
Tujuan metode presentasi adalah untuk melatih siswa mengembangkan kemampuan cara berfikir kritis dan analitis sehingga media ini menjadi salah satu alternatif yang sangat baik untuk menarik minat siswa untuk belajar. Penyajian materi akan lebih menarik jika menggunakan teknologi komputer. Teknologi komputer yang paling sering digunakan adalah Software Microsoft PowerPoint.
PowerPoint terdiri atas sejumlah halaman atau slide.Slide-slide tersebut mengandung teks, gambar, grafis, film, dan objek-objek lain yang dapat disusun secara bebas. Dengan berbagai gambar yang tersaji pada powerpoint, melatih kemampuan siswa untuk mengembangkan kemampuan berimajinasi yang dapat merangsang perkembangan mental dan emosi siswa (Sanjaya, 2010 :42). PowerPoint memfasilitasi penggunaan sebuah gaya yang konsisten dalam sebuah presentasi yang menggunakan template atau master slide. Seorang guru dapat mengemas pembelajaran yang menarik melalui tampilan slide pada powerpoint sehingga apa yang hendak disampaikan oleh guru mampu dimengerti melalui powerpoint.
Berdasarkan uraian diatas tentu sudah di ketahaui begitu banyak ke unggulan media power point. Menurut Herlanti (dalam Munadi, 2010: 150), keunggulan multimedia PowerPoint antara lain: (1) mampu menampilkan objek-objek yang sebenarnya tidak ada secara fisik atau diistilahkan dengan imagery. Secara kognitif pembelajaran dengan menggunakan mental imagery akan meningkatkan retensi siswa dalam mengingat materi-materi pelajaran, (2) Mampu mengembangkan materi pembelajaran terutama membaca dan mendengarkan secara mudah, (3) memiliki kemampuan dalam menggabungkan semua unsur media seperti teks, gambar, video, grafik, tabel, suara dan animasi menjadi satu kesatuan penyajian yang terintegrasi, (4) dapat mengakomodasi peserta didik sesuai dengan modalitas belajarnya terutama bagi mereka yang memiliki tipe visual, auditif, kiestetik, atau yang lainnya. Karena menurut Susilana (2007: 100) secara umum, modalitas belajar siswa dibedakan menjadi tiga tipe, yaitu visual, auditif dan kinestetik.
Program Power Point juga merupakan salah satu software yang dirancang khusus untuk menampilkan program multimedia dengan menarik, mudah dalam pembuatan dan penggunaaannya serta relatif murah karena tidak membutuhkan bahan baku selain alat untuk penyimpanan data (Susilana, 2007: 99).
C. Langkah – langkah model pembelajaran kooperatif tipe GI dengan fasilitas power point.
Fase

Kegiatan Guru
Kegiatan Siswa
Mempusatkan perhatian siswa.

a)   Memotivasi siswa (mem- fokuskan perhatian siswa) dengan cara tanya jawab berkaitan dengan materi dalam kehidupan sehari-hari.
b)   Menyampaikan tujuan pembelajaran
Menjawab pertanyaan guru dan mempokuskan pikiran pada satu pokok materi/bahasan yang ingin di bahas hari ini.

Mengidentifikasi topik dan membagi siswa ke dalam kelompok.
a)      Guru memberikan kesempatan bagi siswa untuk memberi kontribusi apa yang akan mereka selidiki.
b)      Kelompok dibentuk berdasarkan heterogenitas.
1)      Memberikan masukan terhadap topik yang akan di teliti dan di inestigasi sesuai materi yang akan dipelajari.
2)      Membentuk kelompok
Merencanakan tugas.
Mempersiapkan dan menata sumber belajar sebagai sarana siswa berinvestigasi
Kelompok akan membagi sub topik kepada seluruh anggota. Kemudian membuat perencanaan dari masalah yang akan diteliti, bagaimana proses dan sumber apa yang akan dipakai.
Membuat penyelidikan.
Memfasilitasi siswa dengan media power point, membimbing serta mengawasi siswa yang sedang berinvestigasi agar setiap kelompok dapat bekerja optimal.
Siswa mengumpulkan, menganalisis dan mengevaluasi informasi, membuat kesimpulan dan mengaplikasikan bagian mereka ke dalam pengetahuan baru dalam mencapai solusi masalah kelompok.
Mempresentasikan tugas akhir.
a)   Memberikan reinforcement pada kelompok yang penampilannya baik dan memberikan motivasi pada kelompok yang kurang baik.
b)  Memberikan penegasan terhadap masing-masing bahasan dari setiap kelompok.
Siswa mempresentasikan hasil kerjanya. Kelompok lain memberikan tanggapan.
Evaluasi pembelajaran
a)   Membantu siswa melaku- kan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dipeajari.
b)   Bersama siswa menyimpulkan pembelajaran.
c)   Mengevaluasi pembelajaran yang telah dilakukan dengan menggunakan test hasil belajar .
1)   Menyimpulkan materi pemebelajaran yang telah dipelajari.
2)   Menjawab tesi yang diberikan guru.













BAB III
PENUTUP

A.    Simpulan
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa; (1) Model pembelajaran kooperatif tipe GI adalah salah satu model pembelajaran inovatif yang di percaya dapat mengoptimalkan hasil belajar siswa. (2) Media power point  merupakan sebuah program computer yang dapat berperan sebagai media pembelajaran efektif dan efisien.

CERAMAH YANG DIANGGAP KONVENSIONAL NAMUN TETAP AXIS DALAM SETIAP FASE PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DASAR



BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang.

Berbagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan telah dan terus dilakukan, mulai dari pelatihan untuk meningkatkan kualitas guru, penyempurnaan kurikulum secara periodik, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan sampai dengan peningkatan manajemen sekolah. Namun, indikator kearah mutu pendidikan belum menunjukkan peningkatan yang signifikan.  Konsep pendidikan pada dasarnya membuat siswa memiliki kompetensi tamatan sesuai jenjang sekolah, yaitu pengetahuan, nilai, sikap, dan kemampuan melaksanakan tugas atau mempunyai kemampuan untuk mendekatkan dirinya dengan lingkungan alam, lingkungan sosial, lingkungan budaya, dan kebutuhan daerah. Sementara itu, kondisi pendidikan di negara kita dewasa ini, lebih diwarnai oleh pendekatan yang menitik beratkan pada model belajar konvensional seperti ceramah sehingga kurang mampu merangsang siswa untuk terlibat aktif dalam proses belajar mengajar. Suasana belajar seperti itu, semakin menjauhkan peran pendidikan dalam upaya mempersiapkan warga negara yang baik dan masyarakat yang cerdas (Djahiri, 1993) Setiap orang selalu punya kewajiban untuk melakukan tugas tertentu seperti halnya seorang guru di tuntut agar menjalankan kewajiban itu sepenuh tanggung jawab. Setiap kewajiban berisi tugas dan setiap tugas harus di laksanakan.  Tugas yang di laksanakan akan dianggap selesai apabila tujuan yang hendak dicapai sudah terwujud. Seorang guru tersebut harus merasa yakin bahwa jalan yang harus ditempuhnya untuk sampai kepada tujuan dapat dilakukan dengan cara atau metode yang tepat dan cocok untuk diterapkan kepada peserta didiknya. Adapun cara atau metode yang terbaik untuk diterapkan itu banyak sekali tergantung pada karakteristik peserta didik masing-masing. Apapun model pembelajaran yang digunakan dalam proses belajar di kelas, guru pasti menggunakan metode ceramah. Entah mengapa para pendidik di Indonesia tak terlepas dari  metode tersebut walau dia telah menggunakan model pembelajaran inovatif dan menganggap ceramah adalah cara membelajarkan siswa secara konvensional. Dari hal tersebut diatas perlu dikaji secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar agar kita paham walau dianggap konvensional tapi ceramah adalah tulang punggung pembelajaran.


B.   Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang maka rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah mengapa metode ceramah yang dianggap konvensional tetap menjadi tulang punggung pembelajaran di Indonesia ?

C.   Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini ialah untuk mengetahui Mengapa metode ceramah yang dianggap konvensional tetap menjadi tulang punggung pembelajaran di Indonesia.
















BAB II
PEMBAHASAN


A.  Peran Metode Ceramah dalam Pembelajaran

Tiap metode mempunyai karakteristik tertentu dengan segala kelebihan dan kelemahan masing masing. Suatu metode mungkin baik untuk suatu tujuan tertentu, pokok bahasan maupun situasi dan kondisi tertentu, tetapi mungkin tidak tepat untuk situasi yang lain. Demikian pula suatu metode yang dianggap baik untuk suatu pokok bahasan yang disampaikan oleh guru tertentu, kadang-kadang belum tentu berhasil dibawakan oleh guru lain.
Metode berasal dari bahasa Yunani Greek   yakni  Metha   berarti melalui , dan  Hadas artinya cara, jalan, alat atau gaya. Dengan kata lain, metode artinya  jalan atau cara yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, susunan Poerwadarminta, bahwa  metode adalah cara yang teratur dan berpikir baik-baik untuk mencapai suatu maksud. Leish (1976), melalui ceramah, dapat dicapai beberapa tujuan. Dengan metode ceramah, guru dapat mendorong timbulnya inspirasi bagi pendengarnya.
Gage dan Berliner (1981:457), menyatakan metode ceramah cocok untuk digunakan dalam pembelajaran dengan ciri-ciri tertentu. Ceramah cocok untuk penyampaian bahan belajar yang berupa informasi dan jika bahan belajar tersebut sukar didapatkan. Metode pembelajaran ceramah adalah penerangan secara lisan atas bahan pembelajaran kepada sekelompok pendengar untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dalam jumlah yang relatif besar.
Ceramah merupakan penuturan atau penerangan secara lisan oleh guru terhadap kelas. Alat interaksi yang terutama dalam hal ini adalah “berbicara". Dalam ceramahnya kemungkinan guru menyelipkan pertanyaan pertanyaan, akan tetapi kegiatan belajar siswa terutama mendengarkan dengan teliti dan mencatat pokok pokok penting, yang dikemukakan oleh guru; bukan menjawab pertanyaan-pertanyaan siswa.

Metode ceramah yang dianggap sebagai penyebab utama dari rendahnya minat belajar siswa terhadap pelajaran memang patut dibenarkan, tetapi juga anggapan itu sepenuhnya kurang tepat karena setiap metode  atau model pembelajaran baik metode pembelajaran klasik termasuk metode ceramah maupun metode pembelajaran modern sama-sama mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing, yang saling melengkapi satu sama lain.
Metode ceramah itu sendiri pada dasarnya memiliki banyak pengertian dan jenisnya. Berikut ini beberapa pengertian dari metode ceramah, antara lain :
1.      Menurut  Surahmad, ceramah adalah penerangan dan penuturan secara lisan oleh guru terhadap kelasnya, sedangkan peranan murid mendengarkan dengan teliti, serta mencatat yang pokok dari yang dikemukakan oleh guru.
2.      Metode ceramah adalah penyajian informasi secara lisan baik formal maupun informal.
3.      Metode ceramah menurut Gilstrap dan Martin 1975 : ceramah berasal dari bahasa latin yaitu Lecturu, Legu (Legree, lectus) yang berati membaca kemudian diartikan secara umum dengan mengajar sebagai akibat dari guru menyampaikan pelajaran dengan membaca dari buku dan mendiktekan pelajaran dengan penggunaan buku.
4.      Metode ceramah yaitu penerapan dan penuturan secara lisan oleh guru terhadap kelasnya, dengan menggunakan alat bantu mengajar untuk memperjelas uraian yang disampaikan kepada siswa. Metode ceramah ini sering kita jumpai pada proses-proses pembelajaran di sekolah, mulai dari tingkat yang rendah sampai ke tingkat perguruan tinggi, sehingga metode seperti ini sudah dianggap sebagai metode yang terbaik bagi guru untuk melakukan interaksi belajar mengajar. Satu hal yang tidak pernah menjadi bahan refleksi bagi guru adalah tentang peran penggunaan metode ceramah yaitu mengenai minat dan motivasi siswa, bahkan akhirnya juga berdampak pada prestasi siswa.
5.      Metode ceramah juga disebut juga kegiatan memberikan informasi dengan kata-kata. Pengajaran sejarah, merupakan proses pemberian informasi atau materi kepada siswa serta hasil dari penggunaan metode tersebut sering tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Makna dan arti dari materi atau informasi tersebut terkadang ditafsirkan berbeda atau salah oleh siswa. Hal ini karena tingkat pemahaman setiap siswa yang berbeda-beda atau dilain pihak guru sebagai pusat pembelajaran kurang pandai dalam menyampaikan informasi atau  materi kepada siswa. Jenis-jenis metode ceramah, terdiri dari metode ceramah bervariasi, metode ceramah campuran dan metode ceramah asli.
Anggapan-anggapan negatif tentang metode ceramah sudah seharusnya patut diluruskan, baik dari segi pemahaman artikulasi oleh guru maupun penerapannya dalam proses belajar mengajar disekolah. Ceramah adalah sebuah bentuk interaksi melalui penerangan dan penuturan lisan dari guru kepada peserta didik, dalam pelaksanaan ceramah untuk menjelaskan uraiannya, guru dapat menggunakan alat-alat bantu media pembelajaran seperti gambar dan audio visual lainnya. Definisi lain ceramah menurut bahasa berasal dari kata lego (bahasa latin) yang diartikan secara umum dengan “mengajar” sebagai akibat guru menyampaikan pelajaran dengan membaca dari buku dan mendiktekan pelajaran dengan menggunakan buku kemudian menjadi lecture method atau metode ceramah. Definisi metode ceramah diatas, bila langsung diserap dan diaplikasikan tanpa melalui pemahaman terlebih dahulu oleh para guru tentu hasil yang didapat dari penerapan metode ini akan jauh dari harapan, seperti halnya yang terjadi dalam problematika saat ini. Hampir setiap guru sejarah menggunakan metode ceramah yang jauh dari kaidah-kaidah metode ceramah seharusnya.
Metode ceramah dalam proses belajar mengajar sesungguhnya tidak dapat dikatakan suatu metode yang salah. Hal ini dikarenakan model pengajaran ini seperti yang dijelaskan diatas terdiri dari beberapa jenis, yang nantinya dapat dieksploitasi atau dikreasikan menjadi suatu metode ceramah yang menyenangkan, tidak seperti pada metode ceramah klasik yang terkesan mendongeng. Alasan mengapa metode ceramah selalu ada dan menjadi tulang punggung pembelajaran karena  dalam memiliki kelebihan sebagai berikut  :
1)      Guru mudah menguasai kelas.
2)      Mudah mempersiapkan dan melaksanakannya.
3)      Guru mudah menerangkan pelajaran dengan baik.
4)      Lebih ekonomis dalam hal waktu.
5)      Memberi kesempatan pada guru untuk menggunakan pengalaman, pengetahuan dan kearifan.
6)      Dapat menggunakan bahan pelajaran yang luas
7)      Membantu siswa untuk mendengar secara akurat, kritis, dan penuh perhatian.
8)      Jika digunakan dengan tepat maka akan dapat menstimulasikan dan meningkatkan keinginan  belajar siswa dalam bidang akademik.
9)      Mudah mengorganisasikan tempat duduk/kelas.
10)  Dapat diikuti oleh jumlah siswa yang besar.
Dalam lingkungan pendidikan modern, ceramah sebagai metode mengajar telah menjadi salah satu persoalan yang cukup sering diperdebatkan. Sebagian orang menolak sama sekali dengan alasan bahwa cara sebagai metode mengajar kurang efisien dan bertentangan dengan cara manusia belajar. Sebaliknya, sebagian yang mempertahankan berdalih, bahwa ceramah lebih banyak dipakai sejak dulu dan dalam setiap pertemuan di kelas guru tidak mungkin meninggalkan ceramah walaupun hanya sekedar sebagai kata pengantar pelajaran atau merupakan uraian singkat di tengah pelajaran.
Kalau kita teliti lebih lanjut, sebenarnya alasan-alasan tersebut di atas tidaklah sama sekali salah, tetapi juga tidak sama sekali benar. Hal yang sebenarnya adalah bahwa dalam situasi-situasi tertentu, metode ceramah merupakan metode yang paling baik, tetapi dalam situasi lain mungkin sangat tidak efisien. Guru yang bijaksana senantiasa menyadari kondisi-kondisi yang berhubungan situasi pengajaran yang dihadapinya, sehingga ia dapat menetapkan bilamanakah metode ceramah sewajamya digunakan, dan bilakah sebaiknya dipakai metode lain.
Suasana belajar mengajar tidak efektif apabila pola komunikasi yang terjadi hanya satu arah, yakni dari guru kepada siswa. Menurut pandangan modern, efektivitas pemelajaran sangat ditentukan oleh pola komunikasi multitrafic (multitrafic communication). Dalam pola komunikasi multitrafic ini, komunikasi terjadi antara guru dan siswa serta siswa dan siswa. Dengan pola komunikasi seperti ini, antara siswa dan guru maupun siswa dan siswa lainnya terjadi pertukaran (sharing) pengetahuan dan pengalaman sehingga proses belajar mengajar lebih bermakna.
Untuk menciptakan pola semacam ini, guru harus memiliki beberapa keterampilan sebagai berikut:
a)      Memiliki keterampilan bertanya yang meliputi pertanyaan menggiring, pertanyaan untuk merangsang siswa berpikir dan mengemukakan gagasan, pertanyaan mengarahkan, dan pertanyaan yang bersifat mengendalikan arus komunikasi.
b)      Memiliki keterampilan memberikan reward dan bentuk-bentuk penghargaan atas pendapat, gagasan, dan pertanyaan siswa.
c)      Terampil dalam memilih dan mempergunakan metode dan media pembelajaran yang mendukung terjadinya pola komunikasi multitrafic.
d)     Memiliki keterampilan memilih dan menyampaikan permasalahan yang dapat merangsang siswa mau berpikir dan melibatkan emosi dalam pemelajaran.
e)      Memahami dan mampu menerapkan pola pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) dengan segenap metode dan media yang mendukungnya.
Dalam kehidupan sehari-hari di sekolah metode ceramah paling populer dikalangan para pendidik. Sebelum metode lain yang dipakai untuk mengajar, metode ceramah yang paling dulu digunakan, hanya bagaimana menggunakan metode ceramah yang efektif dan efisien. Hal ini  menunjukkan bahwa model pembelajaran apapun tetap membutuhkan metode ceramah. Adapun hal biasa yang dilakukan guru dalam pembelajaran dengan metode ceramah :
a)      Melakukan pendahuluan sebelum bahan baru diberikan dengan cara ; (1) Menjelaskan tujuan lebih dulu kepada peserta didik dengan maksud agar peserta didik mengetahui arah kegiatannya dalam belajar, bahkan tujuan itu dapat membangkitkan motivasi belajar jika bertalian dengan kebutuhan mereka. (2) Setelah itu baru dikemukakan pokok-pokok materi yang akan dibahas. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik melihat luasnya bahan pelajaran yang akan dipelajarinya. (3) Memancing pengalaman peserta didik yang cocok dengan materi yang akan dipelajarinya. Caranya ialah dengan pertanyaan-pertanyaan yang menarik perhatian mereka.

b)   Menyajikan bahan baru dengan memperhatikan faktor-faktor ; (1) Perhatian peserta didik dari awal sampai akhir pelajaran harus tetap terpelihara. Semangat mengajar memberi bantuan sepenuhnya dalam memelihara perhatian peserta didik kepada pelajarannya. (2) Menyajikan pelajaran secara sistematis, tidak berbelit-belit dan tidak meloncat-loncat. (3) Kegiatan belajar mengajar diciptakan secara variatif, jangan membiarkan peserta didik hanya duduk dan mendengarkan, tetapi berilah kesempatan untuk berpikir dan berbuat. Misalnya pelatihan mengerjakan tugas, mengajukan pertanyaan, berdiskusi, atau melihat peragaan. (4) Memberi ulangan pelajaran kepada response, jawaban yang salah dan benar perlu ditanggapi sebaik-baiknya. (5) Membangkitkan motivasi belajar secara terus menerus selama perjalanan berlangsung. Motivasi belajar akan selalu tumbuh jika sesuatu belajar menyenangkan. (6) Menggunakan media pelajaran yang variatif, yang sesuai dengan tujuan pelajaran.

c)    Menutup pelajaran pada akhir pelajaran. Kegiatan perlu diperhatikan pada penutupan itu ; (1) Mengambil kesimpulan dari semua pelajaran yang telah diberikan, dilakukan oleh peserta didik di bawah bimbingan guru. (2) Memberikan kesempatan pada peserta didik untuk menanggapi materi pelajaran yang telah diberikan terutama mengenai hubungan dengan pelajaran lain. (3) Melaksanakan penilaian secara komprehensif untuk mengukur perubahan tingkah laku
Dalam memberikan suatu ceramah seharusnya menggunakan gaya percakapan yang antusias, dan ceramah juga harus disampaikan dengan suara yang cukup nyaring. Banyak guru yang berbicara terlalu lemah, sehingga kelas gaduh. Hal ini dapat menimbulkan frustasi pada siswa yang tidak pandai menangkap arti kata-kata yang di ucapkan oleh guru. Bahaya lain yang tersembunyi yaitu kecenderungan guru-guru yang biasa menggunakan bahasa yang hanya dipahami oleh kalangan tertentu. Ini sering dilakukan untuk menunjukan bahwa mereka cerdas, berpendidikan tinggi. Padahal sebenarnya sebagian besar dari mereka tidak memahaminya. Seharusnya jika ingin menggunakan kata-kata baru, terlebih dahulu seorang guru harus memberikan definisinya. Teknik lain yaitu menggunakan gerakan badan, karena banyak guru dalam pelaksanaan mengajar hanya terpaku di mejanya. Mereka tidak pernah berjalan-jalan diantara tempat duduk siswanya. Penceramah seharusnya bebas bergerak, dengan demikian, ia dapat menarik perhatian siswa-siswanya (seperti sasaran yang bergerak), disamping dapat juga mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh siswa-siswanya.
Selanjutnya, begitu memulai pelajaran tataplah muka para siswa, adakanlah kontak mata, mereka akan lebih tertarik bila melihat gurunya memberikan perhatian kepada mereka. Selain itu perlu juga dihindarkan kebiasaan-kebiasaan bicara yang kiranya dapat mengganggu mereka. Karena bila digunakan secara berlebihan sudah pasti sangat merugikan. Jadi metode ceramah adalah metode yang sangat sederhana, tetapi justru karena kesederhanaannya inilah metode ini paling banyak digunakan, dan metode ceramah ini dapat menjadikan proses belajar menjadi menyenangkan apabila digunakan secara efektif dan efisien.




















BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari paparan diatas dapat disimpulkan bahwa metode ceramah adalah metode yang sangat sederhana, tetapi justru karena kesederhanaannya inilah metode ini paling banyak digunakan, menjadi dasar setiap model pembelajaran karena segala ke praktisannya , tidak memerlukan banyak biaya dan metode ceramah ini dapat menjadikan proses belajar menjadi menyenangkan apabila digunakan secara efektif dan efisien.






















DAFTAR RUJUKAN

Anonim. 2013. http://www.duniapendidikan.com/metode-ceramah.html (diakses pada tanggal 14 desember 2013)
Anonim. 2013. http://www.wikipedia.com/definisi-metode-ceramah.html (diakses pada tanggal 14 desember 2013)
Djahiri, (1993).Landasan falsafah dan teori teknologi pendidikan, Media Kencana,  IKIP Jakarta.