Rabu, 16 Maret 2016

Pembelajaran open ended dalam pembelajaran






2.3 Hakikat Model pembelajaran open ended

Model pembelajaran mencakup suatu pendekatan pengajaran yang luas dan menyeluruh, dapat berfungsi sebagai sarana komunikasi bagi guru untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Model pembelajaran memiliki sintaks pembelajaran menggambarkan keseluruhan urutan alur langkah yang pada umumnya diikuti oleh serangkaian kegiatan pembelajaran. Sintaks pembelajaran menunjukkan dengan jelas kegiatan-kegiatan apa yang perlu dilakukan oleh guru atau siswa (Trianto, 2007:6-7). Sintaks dari berbagai model pembelajaran mempunyai komponen-komponen yang sama, tetapi juga mempunyai perbedaan. Perbedaan-perbedaan inilah yang harus dipahami oleh guru, jika model-model pembelajaran tersebut ingin dilaksanakan dengan efektif dan efisien.
Hasil belajar tidak dapat otomatis meningkat apabila hanya dengan memberikan intruksi kepada siswa untuk melaksanakan aktivitas seperti membaca, demonstrasi atau pun belajar dalam kelompok dalam kegiatan pembelajaran tanpa adanya pemberian keleluasaan berfikir bagi siswa. Keleluasaan berfikir divergen untuk memecahkan masalah sangat membantu siswa untuk mampu meningkatkan daya kreatifitas berfikir dan menjadikan pengetahuan yang diperolehnya bermakna, sehingga akan terwujud hasil belajar yang optimal. Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran open ended adalah pembelajaran yang dalam prosesnya dimulai dengan memberi suatu masalah kepada siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Shimada (1997:1) “Model pembelajaran open-ended adalah model pembelajaran yang menyajikan suatu permasalahan yang memiliki metode atau penyelesaian yang benar lebih dari satu”. 
Menurut Suherman dkk (2003; 123) problem yang diformulasikan memiliki multijawaban yang benar disebut problem tak lengkap atau disebut (incomplete problem). Sifat “keterbukaan” dari suatu masalah dikatakan hilang apabila hanya ada satu cara dalam menjawab permasalahan yang diberikan atau hanya ada satu jawaban yang mungkin untuk masalah tersebut.

2.3.1 Tujuan Model Pembelajaran Open ended
Tujuan dari pembelajaran Open ended problem menurut Nohda (Suherman, dkk, 2003; 124) antara lain :
a)     Untuk membantu mengembangkan kegiatan kreatif dan pola pikir siswa melalui problem posing secara simultan. Dengan kata lain, kegiatan kreatif dan pola pikir matematik siswa harus dikembangkan semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan setiap siswa. 
b)     Diberikannya masalah yang bersifat terbuka, siswa terlatih untuk melakukan investigasi berbagai strategi dalam menyelesaikan masalah. Selain itu siswa akan memahami bahwa proses penyelesaian suatu masalah sama pentingnya dengan hasil akhir yang diperoleh.
Berdasarkan tujuan pembelajaran dengan model pembelajaran open ended di atas, model pembelajaran open ended memberi kesempatan kepada siswa untuk berpikir bebas sesuai dengan minat dan kemampuannya. Dengan demikian kemampuan berpikir siswa dapat berkembang secara maksimal dan kegiatan –kegiatan  kreatif siswa dapat terkomunikasikan melalui proses pembelajaran.

2.3.2 Prinsip Dasar Model  Pembelajaran Open ended
Open ended memiliki keterbukaan. Menurut Dahlan (dalam Haryani:2007:13).  Keterbukaan dibagi menjadi tiga, yaitu :
1)     Proses terbuka 
Maksudnya adalah masalah atau soal yang diberikan, memiliki banyak cara penyelesaian yang benar. 
2)     Hasil Akhir Terbuka 
Maksudnya adalah masalah yang memiliki jawaban yang benar. 
3)     Cara Pengembangan Lanjutan Terbuka 
Maksudnya ketika siswa telah menyelesaikan masalahnya, mereka dapat mengembangkan masalah baru yaitu dengan cara merubah kondisi masalahnya.


2.3.3  Mengkonstruksi Masalah  Terbuka dalam Model Pembelajaran Open ended
Menurut Suherman, dkk (2003 : 129-130) mengkonstruksi dan mengembangkan masalah Open-Ended yang tepat dan baik untuk siswa dengan tingkat kemampuan yang beragam tidaklah mudah. Akan tetapi berdasarkan penelitian yang dilakukan di Jepang dalam jangka waktu yang cukup panjang, ditemukan beberapa hal yang dapat dijadikan acuan dalam mengkonstruksi masalah, antara lain sebagai berikut:
a)     Menyajikan permasalahan melalui situasi fisik yang nyata di mana konsep konsep matematika dapat diamati dan dikaji siswa.
b)     Menyajikan soal-soal pembuktian dapat diubah sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan hubungan dan sifat-sifat dari variabel dalam persoalan itu.
c)     Menyajikan bentuk-bentuk atau peta konsep sehingga siswa dapat membuat suatu konjektur.
d)     Menyajikan urutan sebab akibat sehingga siswa dapat menemukan alur permasalahan.
e)     Memberikan beberapa contoh konkrit dalam beberapa kategori sehingga siswa bisa mengelaborasi siifat-sifat dari contoh itu untuk menemukan sifat-sifat dari contoh itu untuk menemukan sifat-sifat yang umum.
f)      Memberikan beberapa latihan serupa sehingga siswa dapat menggeneralisasai dari pekerjaannya.

2.3.4 Langkah-langkah Penerapan Model Pembelajaran Open ended
1 ) Tahapan-tahapan model pembelajaran Open ended
Langkah-langkah pembelajaran open ended  menurut Eko Prasetyo (2010), adalah sebagai berikut : 
a)     Tahapan persiapan (Kegiatan pendahuluan)
Tahapan persiapan pembelajaran adalah tahapan yang digunakan untuk mempersiapkan disi siswa agar siap mengikuti pembelajaran. Dalam tahapan persiapan, model pembelajaran open ended mengisyaratkan dalam guru mengemukakan apersepsi dengan memberikan problem terbuka kepada peserta didik. Problem tersebut dirasakan mampu diselesaikan peserta didik dengan banyak cara dan mungkin juga banyak jawaban sehingga memacu potensi intelektual dan pengalaman peserta didik dalam proses menemukan pengetahuan baru yang berkaitan dengan pembelajaran yang akan dilaksanakan di dalam kelas.
b)    Tahapan pelatihan (Kegiatan inti)
Tahapan pelatihan / kegiatan inti dalam pelajaran dilaksanakan setelah kegiatan pendahuluan. Seharusnya setelah siswa masuk ke kegiatan inti, siswa telah siap secara fisik dan rohani untuk mengikuti pembelajaran. Dalam model pembelajaran open ended  peserta didik diberikan kesempatan untuk menyelesaikan masalah terbuka yang diberikan oleh guru dengan berbagai cara. Peserta didik dapat dibentuk ke dalam kelompok kecil sehingga peserta didik dapat mendiskusikan dan menyelesaikan soal yang diberikan dengan temannya. Selain itu pemanfaatan media juga perlu dilakukan oleh peserta didik dalam mengeksplorasi masalah dan ide untuk memecahkan masalah. Saat peserta didik melakukan berbagai aktivitas dalam rangka memecahkan masalah yang diberikan, guru hendaknya merancang pembelajaran dengan memberikan waktu yang cukup kepada peserta didik, sehingga peserta didik dapat mengeksplorasi ide sebagai solusi pemecahan masalah.
Setelah mengeksplorasi ide, guru dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempresentasikan hasil diskusi dari permasalahan yang diberikan. Kemudian guru dan peserta didik dari kelompok lain berhak untuk memberikan saran dan mengemukakan ide berbeda yang dimilikinya.
c)     Tahapan penampilan hasil (Kegiatan penutup)
Kegiatan penutup adalah kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan untuk mengevaluasi sejauh mana keberhasilan pembelajaran yang telah berlangsung. Kegiatan yang dapat dilakukan yaitu dengan membuat pertanyaan yang akan diundi dan dijawab oleh peserta didik yang lain.Selain itu guru juga dapat  melakukan pertanyaan pertanyaan post tes pada tahap ini.

Quantum Teaching dalam pembelajaran di Sekolah Dasar





2.3 Hakikat Model pembelajaran quantum

Quantum Teaching merupakan penggubahan belajar yang meriah, dengan segala nuansanya. Quantum Teaching juga menyertakan segala kaitan, interaksi dan perbedaan yang memaksimalkan momen belajar. Quantum Teaching berfokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan kelas, interaksi yang mendirikan landasan dan kerangka untuk belajar (De Porter, 2005:3). Quantum adalah interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. Quantum Teaching adalah orkestrasi bermacam-macam interaksi yang ada didalam dan sekitar momen belajar. Interaksi-interaksi ini mencakup unsur-unsur untuk belajar efektif yang mempengaruhi kesuksesan siswa. Interaksi-interaksi ini mengubah kemampuan dan bakat alamiah siswa menjadi lebih baik yang akan bermanfaat bagi mereka sendiri dan orang lain (De Porter, 2005: 5). Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa Quantum Teaching adalah usaha maksimal yang dilakukan oleh warga belajar untuk meningkatkan pengalaman dan hasil belajar dengan menyertakan segala potensi yang ada pada dalam diri dan lingkungan.
Pembelajaran Quantum memiliki prinsip-prinsip yang perlu diterapkan agar tujuan pembelajaran tercapai. Menurut De Porter (dalam Riyanto, 2010: 201) prinsip prinsip Quantum Teaching adalah sebagai struktur dasar dari belajar. Prinsip-prinsip ini adalah :
1)     Bawalah dunia mereka (siswa) ke dalam dunia kita (guru), dan antarkan dunia kita (guru ke dalam dunia mereka (siswa).
2)     Proses pembelajaran bagaikan orkestra simfoni, yang secara spesifik dapat dijabarkan sebagai berikut :
a)     Segalanya berbicara Segalanya yang berada dilingkungan memberikan makna tentang belajar. Bahasa tubuh yang ada pada seseorang sesungguhnya mengirimi pesan tentang belajar.
b)     Segalanya bertujuan Semua yang terjadi dalam pengubahan, semuanya mempunyai tujuan.
c)     Pengalaman sebelum pemberian nama Otak kita berkembang pesat dengan adanya rangsangan kompleks yang akan menggerakkan rasa ingin tahu. Oleh karena itu, proses belajar paling baik terjadi ketika siswa telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh nama untuk apa mereka pelajari.
d)     Akui setiap usaha Pada saat siswa mengambil langkah mereka patut mendapat pengakuan atas kecakapan dan kepercayaan diri mereka.
e)     Jika layak dipelajari layak pula dirayakan Perayaan memberikan umpan balik mengenai kemajuan dan meningkatkan asposiasi emosi positif dalam belajar.
Secara umum, Quantum Teaching (pembelajaran kuantum) mempunyai karakteristik sebagai berikut:
1)     Berpangkal pada psikologi kognitif.
2)     Bersifat humanistik, manusia selaku pembelajar menjadi pusat perhatian. Potensi diri, kemampuan pikiran, daya motivasi dan sebagainya dari pembelajar dapat berkembang secara optimal dengan meniadakan hukuman dan hadiah karena semua usaha yang dilakukan pembelajar dihargai. Kesalahan sebagai manusiawi.
3)     Bersifat konstruktivistis, artinya memadukan, menyinergikan, dan mengolaborasikan faktor potensi diri manusia selaku pembelajar dengan lingkungan (fisik dan mental) sebagai konteks pembelajaran. Oleh karena itu, baik lingkungan maupun kemampuan pikiran atau potensi diri manusia harus diperlakukan sama dan memperoleh stimulant yang seimbang agar pembelajaran berhasil baik.
4)     Memusatkan perhatian pada interaksi yang bermutu dan bermakna. Dalam proses pembelajaran dipandang sebagai penciptaan intekasi-interaksi bermutu dan bermakna yang dapat mengubah energi kemampuan pikiran yang dapat mengubah energi kemampuan pikiran dan bakat alamiah pembelajar menjadi cahaya yang bermanfaat bagi keberhasilan pembelajar.
5)     Menekankan pada pemercepatan pembelajaran dengan taraf keberhasilan tinggi. Dalam prosesnya menyingkirkan hambatan dan halangan sehingga menimbulkan hal-hal yang seperti: suasana yang menyengkan, lingkungan yang nyaman, penataan tempat duduk yang rileks, dan lain-lain.
6)     Menekankan kealamiahan dan kewajaran proses pembelajaran. Dengan kealamiahan dan kewajaran menimbulkan suasana nyaman, segar sehat, rileks, santai, dan menyenangkan serta tidak membosankan.
7)     Menekankan kebermaknaan dan dan kebermutuan proses pembelajaran. Dengan kebermaknaan dan kebermutuan akan menghadirkan pengalaman yang dapat dimengerti dan berarti bagi pembelajar, terutama pengalaman perlu diakomodasi secara memadai.
8)     Memiliki model yang memadukan konteks dan isi pembelajaran. Konteks pembelajaran meliputi suasana yang memberdayakan, landasan yang kukuh, lingkungan yang mendukung, dan rancangan yang dinamis. Sedangkan isi pembelajaran meliputi: penyajian yang prima, pemfasilitasan yang fleksibel, keterampilan belajar untuk belajar dan keterampilan hidup.
9)     Menyeimbangkan keterampilan akademis, keterampilan hidup dan prestasi material.
10) Menanamkan nilai dan keyakinan yang positif dalam diri pembelajar. Ini mengandung arti bahwa suatu kesalahan tidak dianggapnya suatu kegagalan atau akhir dari segalanya. Dalam proses pembelajarannya dikembangkan nilai dan keyakinan bahwa hukuman dan hadiah tidak diperlukan karena setiap usaha harus diakui dan dihargai.
11) Mengutamakan keberagaman dan kebebasan sebagai kunci interaksi. Dalam prosesnya adanya pengakuan keragaman gaya belajar siswa dan pembelajar.
12) Mengintegrasikan totalitas tubuh dan pikiran dalam proses pembelajaran, sehinga pembelajaran bias berlangsung nyaman dan hasilnya lebih optimal.
Langkah-langkah pembelajaran kuantum terdiri dari 6 fase yaitu fase tanamkan, fase alami, fase namai, fase demonstrasikan, fase ulangi dan fase rayakan atau dikenal dengan singkatan TANDUR. Keenam fase dari model pembelajaran quantum diuraikan sebagai berikut.
a)     Tahapan persiapan (Kegiatan pendahuluan)
Tahapan persiapan pembelajaran adalah tahapan yang digunakan untuk mempersiapkan disi siswa agar siap mengikuti pembelajaran. Dalam tahapan persiapan, model pembelajaran quantum fase tumbuhkan yang disisipkan.  Konsep tumbuhkan ini sebagai konsep operasional dari prinsip “bawalah dunia mereka ke dunia kita”. Dengan usaha menyertakan siswa dalam pikiran dan emosinya, sehingga tercipta jalinan dan kepemilikan bersama atau kemampuan saling memahami. Secara umum konsep tumbuhkan adalah sertakan diri mereka, pikat mereka, puaskan keingintahuan, buatlah siswa tertarik atau penasaraan tentang materi yang akan diajarkan. Dari hal tersebut tersirat, bahwa dalam pendahuluan (persiapan) pembelajaran dimulai guru seyogyanya menumbuhkan sikap positif dengan menciptakan lingkungan yang positif, lingkungan sosial (komunitas belajar), sarana belajar, serta tujuan yang jelas dan memberikan makna pada siswa, sehingga menimbulkan rasa ingin tahu.

b)     Tahapan pelatihan (Kegiatan inti)
Tahapan pelatihan / kegiatan inti dalam pelajaran dilaksanakan setelah kegiatan pendahuluan. Seharusnya setelah siswa masuk ke kegiatan inti, siswa telah siap secara fisik dan rohani untuk mengikuti pembelajaran. Fase yang dilaksanakan pada tahapan ini sesuai dengan model pembelajaran quantum adalah fase alami, fase namai, dan fase demonstrasi. Dalam fase alami, guru dalam proses pembelajaran harus memberi pengalaman dan manfaat terhadap pengetahuan yang dibangun siswa sehingga menimbulkan hasrat alami otak untuk menjelajah. Pada konsep alami guru memberikan cara terbaik agar siswa memahami informasi, memberikan permainan atau kegiatan yang memanfaatkan pengetahuan yang sudah mereka miliki, sehingga dapat memfasilitasi siswa untuk memperoleh pengetahuan yang melekat. Setelah melewati fase alami kemudian siswa belajar untuk menamai. Konsep “namai” mengandung maksud bahwa penamaan memuaskan hasrat alami otak (membuat siswa penasaran, penuh pertanyaan mengenai pengalaman) untuk memberikan identitas, menguatkan dan mendefinisikan. Penamaan dalam hal ini adalah mengajarkan konsep, melatih keterampilan berpikir dan strategi belajar. Pertanyaan yang dapat memandu guru dalam memahami konsep “namai” yaitu perbedaan yang perlu dibuat dalam belajar, apa yang harus guru tambahkan pada pengertian siswa, strategi kiat jitu, alat berpikir yang digunakan untuk siswa ketahui atau siswa gunakan. Setelah menamai, siswa diberikan kesempatan untuk menunjukkan tingkat pemahaman terhadap materi yang dipelajari. Strategi yang dapat digunakan adalah mempraktekkan, melakukan percobaan, menyusun laporan, menganalisis data, melakukan gerakan tangan, kaki, gerakan tubuh bersama secara harmonis, dan lain-lain.
c)     Tahapan penampilan hasil (Kegiatan penutup)
Kegiatan penutup adalah kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan untuk mengevaluasi sejauh mana keberhasilan pembelajaran yang telah berlangsung. Pada tahap ini dimasukkan fase ulangi dan rayakan. Fase ulangi dilaksanakan untuk memperkuat koneksi saraf dan menumbuhkan rasa “aku tahu bahwa aku tahu ini”. Kegiatan ini dilakukan secara multimodalitas dan multi kecerdasan. Guru memberikan evaluasi tentang apa yang sudah dipelajari, strategi untuk mengimplementasikan yaitu bisa dengan membuat isian “aku tahu bahwa aku tahu ini” hal ini merupakan kesempatan siswa untuk mengajarkan pengetahuan baru kepada orang lain (kelompok lain), atau dapat melakukan pertanyaan pertanyaan post tes.
Hasil dari evaluasi yang telah dilaksanakan pada fase ulangi kemudian direfleksi bersama oleh guru dan siswa. Fase rayakan diimplementasikan pada tahapan ini. Apabila hasil evaluasi memuaskan maka rayakanlah, apabila kurang rayakanlah dengan memberikan motivasi dan saran kepada siswa. Fase rayakan memberikan rasa puas, untuk menghormati usaha, ketekunan, dan kesuksesan yang akhirnya memberikan rasa kepuasan dan kegembiraan. Dengan kondisi akhir siswa yang senang maka akan menimbulkan kegairahan siswa dalam belajar lebih lanjut. Strategi yang dapat digunakan adalah dengan pujian bernyanyi bersama, pesta kelas, memberikan reward berupa tepukan (De Porter, 2005: 10)


Model Pembelajaran Value Clarification Technique (VCT)




2.3 Hakikat Model Pembelajaran Value Clarification Technique
2.3.1 Model Pembelajaran
Dimyati, (2003 :109) berpendapat bahwa “model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum, merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pengajaran di kelas atau yang lain”.
Winataputra, (2006 :34) juga menyatakan bahwa:
Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pengajaran dan para gurudalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar.

Berdasarkan kedua pengertian di atas, maka dapat diambil suatu simpulan bahwa model pembelajaran adalah kerangka konsep yang melukiskan prosedur yang menjadi pedoman guru dalam melaksanakan suatu pembelajaran untuk mencapai tujuan belajar tertentu.
Ada bermacam-macam model pembelajaran yang disusun oleh para ahli, namun seluruh model pembelajaran memiliki ciri-ciri yang sama. Seperti yang diungkapkan Moedjiono, (2004 :72) menyampaikan beberapa ciri model pembelajaran yakni:
(a) berdasarkan teori pendidikan dan teori belajar para ahli tertentu, (b) mempunyai misi dan dijadikan pedoman untuk tujuan tertentu, (c) dapat digunakan sebagai perbaikan kegiatan belajar mengajar dikelas, (d) memiliki perangkat bagian model yang dinamakan sintaks, prinsip reaksi,  sistem sosial,  dan sistem pendukung.


2.3.2    Hakikat VCT
VCT adalah salah satu teknik pembelajaran yang dapat memenuhi tujuan pancapaian pendidikan nilai.
Siswandi, (2009 :77) mengemukakan  bahwa:
Value Clarification Technique, merupakan sebuah cara bagaimana menanamkan dan menggali/ mengungkapkan nilai-nilai tertentu dari diri peserta didik. Karena itu, pada prosesnya VCT berfungsi untuk: a) mengukur atau mengetahui tingkat kesadaran siswa tentang suatu nilai; b) membina kesadaran siswa tentang nilai-nilai yang dimilikinya baik yang positif maupun y ang negatif untuk kemudian dibina kearah peningkatan atau pembetulannya; c) menanamkan suatu nilai kepada siswa melalui cara yang rasional dan diterima siswa sebagai milik pribadinya.

Mata pelajaran yang lebih menitikberatkan pada ranah afektif seperti pendidikan kewarganegaraan, sangat tepat menggunakan model pembelajaran VCT. Pendidikan kewarganegaraan dan mata pelajaran sejenis berada pada ranah sikap yaitu wahana penanaman nilai, moral dan norma-norma baku seperti rasa sosial nasionalisme, bahkan sistem keyakinan. Pendidikan kewarganegaraan seharusnya mampu mengeksplorasi wilayah dalam diri seseorang (internal side), dan salah satu hasil dari internal side adalah sikap.Sikap merupakan posisi seseorang atau keputusan seseorang sebelum berbuat, sehingga sikap merupakan ambang batas seseorang antara sebelum melakukan sesuatu perbuatan atau berperilaku tertentu.Untuk mengubah sikap inilah maka bisamenggunakan pembelajaran salah satunya adalah VCT.
Teknik mengklarifikasi nilai (Value Clarafication Technique ) atau sering disingkat VCT merupakan teknik pembelajaran untuk membantu siswa dalam mencapai dan menentukan suatu nilai yang dianggap baik dalam menghadapi suatu persoalan melalui proses menganalisis nilai yang sudah ada dan tertanam dalam diri siswa (Taniredja, 2011 :88).
Karakteristik teknik nilai VCT sebagai suatu model dalam strategi pembelajaran sikap adalah proses penanaman nilai dilakukan melalui proses.

2.3.3    Tujuan Menggunakan Value Clarification Technique (VCT) dalam Pembelajaran IPS

Menurut Sanjaya (2010) menjelaskan tujuan penggunaan VCT sebagai berikut.
a) mengetahui dan mengukur tingkat kesadaran siswa tentang suatu nilai, sehingga dapat dijadikan sebagai dasar pijak menentukan target nilai yang akan dicapai, b) menanamkan kesadaran siswa tentang nilai-nilai yang dimiliki baik tingkat maupun sifat yang positif maupun negatif untuk selanjutnya ditanamkan ke arah peningkatan dan pencapaian target nilai,c) menanamkan nilai-nilai tertentu kepada siswa melalui cara yang rasional (logis) dan diterima siswa, sehingga pada akhirnya nilai tersebut akan menjadi milik siswa sebagai proses kesadaran moral bukan kewajiban moral, d) Melatih siswa dalam menerima menilai nilai dirinya dan posisi orang lain, menerima serta pengambil keputusan terhadap suatu persoalan yang berhubungan dengan pergaulannya dan kehidupan sehari-hari.




2.3.4    Prinsip - prinsip Value   Clarification   Technique (VCT)
Taniredja, (2011:89) mengemukakan pendapat bahwa terdapat lima prinsip-prisip VCT, yaitu:
a) Penanaman nilai dan pengubahan sikap dipengaruhi banyak faktor antara lain faktor potensi diri, kepekaan emosi, intelektual dan faktor lingkungan, norma nilai masyarakat, sistem pendidikan dan lingkungan keluarga dan lingkungan bermain; b) sikap dan perubahan sikap dipengaruhi oleh stimulus yang diterima siswa dan kekuatan nilai yang telah tertanam atau dimiliki pada diri siswa; c) nilai, moral dan norma dipengaruhi oleh faktor perkembangan, sehingga guru harus mempertimbangkan tingkat perkembangan moral (moral development) dari setiap siswa. Tingkat perkembangan moral untuk siswa dipengaruhi oleh usia dan pengaruh lingkungan terutama lingkungan sosial; d) pengubahan sikap dan nilai memerlukan keterampilan mengklarifikasi nilai/sikap secara rasional, sehingga dalam diri siswa muncul kesadaran diri bukan karena rasa kewajiban bersikap tertentu atau berbuat tertentu; e) pengubahan nilai memerlukan keterbukaan, karena itu pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan melalui VCT menuntut keterbukaan antara guru dan siswa.


2.3.5    Langkah-langkah Pembelajaran Value Clarification Technique (VCT)

Taniredja, (2011) mengemukakan Langkah-langkah pembelajaran VCT sebagai berikut.
a)     Kebebasan Memilih. Pada tingkat ini terdapat tiga tahap kegiatan yang harus dijalankan, yakni:
1)     Memilih cecara bebas, artinya kesempatan untuk menentukan pilihan yang menurutnya baik. Nilai yang dipaksakan tidak akan menjadi miliknya secara penuh.
2)     Memilih dari beberapa alternatif. Artinya untuk menentukan pilihan dari beberapa alternatif pilihan secara bebas.
3)     Memilih dari beberapa alternatif pertimbangan konsekuensi yang akan timbul sebagai akibat pilihannya.
b)     Menghargai. Tingkat pembelajaran VCT pada kegiatan ini terdiri dari dua tahap, yakni:
1)     Adanya perasaan senang dan bangga dengan nilai  yang menjadi pilihannya, sehingga nilai tersebut akan menjadi bagian dalam dirinya.
2)     Menegaskan nilai yang sudah menjadi bagian integral dalam dirinya di depan umum. Artinya, bila kita menganggap nilai itu suatu pilihan, maka kita akan berani dengan penuh kesadakan untuk menunjukan di depan orang lain.
c)     Berbuat.Tahap terakhir dalam model pembelajaran VCT terdiri dari dua tahap yakni:
1)      Kemauan dan kemampuan untuk mencoba melaksanakannya.
2)     Mengulangi perilaku sesuai dengan nilai pilihannya. Artinya, nilai yang menjadi pilihan itu harus mencerminkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kertawisastra (2003) VCT menekankan bagaimana sebenarnya seorang membangun nilai yang menurut anggapanya baik, yang pada gilirannya nilai-nilai tersebut akan mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Dalam praktik pembelajaran, hendaknya berlangsung dalam suasana santai dan terbuka, sehingga setiap siswa dapat mengungkapkan secara bebas perasaannya. Kertawisastra (2003) menyebutkan beberapa hal yang harus diperhatikan guru dalam mengimplementasikan VCT melalui proses dialog, antara lain:
(a) Hindari penyampaian proses pemberian nasehat, yaitu memberikan pesan-pesan moral yang dianggap guru baik, (b) Jangan memaksakan siswa untuk memberikan respon tertentu apabila memang siswa tidak menghendakinya, (c) Usahakan dialog dilaksanakan secara bebas dan terbuka, sehingga siswa akan mengungkapkan perasaannya secara jujur dan apa adanya, (d) Dialog dilaksanakan kepada individu, bukan kepada kolompok di kelas, (e) Hindari respon yang dapat menyebabkan siswa terpojok, sehingga ia menjadi defensive, (f) Tidak mendesak siswa pada pendirian tertentu, (g) Jangan mengorek alasan siswa lebih dalam. (h) Tidak monoton, guru tidak mendominasi seluruh waktu pesera didik, perataan aktivitas potensi diri serta keanekaragaman kemampuan peserta didik lebih dapat terlayani

Pembelajaran VCT mengundang dan melibatkan serta mendialogkan seluruh struktur potensi afektual peserta didik maupun struktur kognitif dan fsikomotoriknya. Proses kegiatan belajar siswa dengan model VCT dapat melatih kepekaan dan kemantapan keterampilan afektual serta memberikan aneka penalaman.
2.3.6    Sintak Model Pembelajaran Value ClarificationTechnique (VCT)
Model Pembelajaran Value Clarification Technique (VCT) mempunyai sintak pembelajaran sebagai berikut.
Tabel  2.1. Tabel Sintak Model Pembelajaran Value Clarification Technique (VCT)

No
Kegiatan Guru
Kegiatan siswa
1.
Guru membuat atau mencari media stimulus, berupa contoh keadaan/perbuatan yang memuat nilai-nilai kontras sesuai dengan topik atau tema target pembelajaran.


Menentukan pembahasan atau pembuktian argumen pada pase ini sudah mulai ditanamkan target nilai dan konsep sesuai dengan materi pembelajaran.

2.
Guru melontarkan stimulus dengan cara membaca cerita atau menampilkan gambar, foto, atau film.

Siswa menentukan argumen dan klarifikasi pendirian (melalui Pertanyaan guru dan bersifat individual,kelompok, dan klasikal).
3.
Guru memberi kesempatan beberapa saat kepada siswa berdialog sendiri atau sesame teman sehubungan dengan stimulus tadi.
Siswa melaksanakan dialog terpimpin melalui pertanyaan guru, baik secara individual ,kelompok atau klasikal.
4.
Guru mampu merangsang, mengundang, dan melibatkan potensi afektual siswa.
Siswa melaksanakan hal yang terjangkau oleh pengetahuan dan potensi afektual siswa (ada dalam lingkungan kehidupan siswa).
Sumber:(Djajari, 2012:92)
Secara lebih jelas pembelajaran dengan model VCT menurut Siswandi, (2009:92) dapat dilihat pada bagan berikut.


Bagan 2.1. Bagan Model Pembelajaran VCT
Guru
Stimulus cerita gambar
Siswa dalam diskusi kelompok
Hasil pembelajaran
3tingkatan pembelajaran
1.     Memilih
2.     Menghargai
3.     Berbuat
  1. Kesadaran tentang suatu nilai
  2. menanamkan nilai
  3. melatih cara menilai
  4. menghargai dan menerima
Guru memberi pengantar dan motivasi
 













Dari sintak model VCT, dapat dijelaskan karakteristik pembelajaran VCT yakni: (1) siswa terlibat secara aktif  dalam mengembangkan pemahaman dan pengenalannya terhadap nilai-nilai pribadi, mengambil keputusan dan bertindak sesuai dengan keputusan pribadi, (2) mendorong siswa dengan pertanyaan-pertanyaan yang relevan dan mengembangkan ketrampilan siswa dalam melakukan proses menilai, dan (3) menggali dan mempertegas nilai-nilai yang dimiliki oleh siswa.
Sedangkan tujuan secara langsung bagi siswa dalam penerapan model VCT seperti yang disampaikan Siswandi, (2009 :67) yaitu:
(a) membantu siswa untuk menyadari dan mengidentifikasi nilai-nilai mereka sendiri serta nilai-nilai orang lain, (b) membantu siswa agar mereka mampu berkomunikasi secara terbuka dan jujur terhadap orang lain terkait dengan nilai-nilainya sendiri, (c) membantu siswa agar mereka mampu menggunakan secara bersama-sama kemampuan berfikir rasional dan kesadaran emosional untuk memahami perasaan, nilai dan pola tingkah laku mereka sendiri.

Dalam pelaksanaan pembelajaran, hal yang terpenting dalam melaksanakan model VCT agar bisa berjalan efektif adalah perlu adanya siswa yang mau dan mampu terlibat aktif dalam pembelajarannya. Oleh karena itu, dituntut siswa yang secara potensial memiliki kemampuan berfikir secara kritis. Dalam hal ini peranan guru sebagai motivator pembelajaran sangat diperlukan, suasana kekeluargaan yang hangat juga sangat penting.Sehingga siswa tidak malu untuk ikut aktif dalam pembelajaran.

2.4  Kebaikan dan Kelemahan VCT
2.4.1 Kebaikan-KebaikanValue Clarification Technique (VCT)

Menurut Taniredja (2011) VCT memiliki kebaikan untuk pembelajaran afektif karena:
a)     Mampu membina dan menanamkan nilai dan moral pada ranah internal side.
b)     Mampu mengklarifikasi/menggali dan mengungkapkan isi pesan materi yang disampaikan selanjutnya akan memudahkan bagi guru untuk menyampaikan makna/pesan nilai/ moral.
c)     Mampu mengklarifikasi dan menilai kualitas nilai moral diri siswa, melihat nilai yang ada pada orang lain dan memahami nilai moral yang ada dalam kehidupan nyata.
d)     Mampu mengundang, melibatkan, membina, mengembangkan potensi diri siswa terutama mengembangkan potensi sikap.
e)     Mampu memberikan sejumlah pengalaman belajar dari berbagai kehidupan.
f)      Mampu menangkal, meniadakan, mengintervensi dan memadukan berbagai nilai moral dalam sistem nilai dan moral yang ada pada diri seseorang.
g)     Memberi gambaran nilai moral yang patut diterima dan menuntun serta memotivasi untuk hidup layak dan bermoral tinggi.

2.4.2    Kelemahan-Kelemahan Value Clarification Technique (VCT)
Model Pembelajaran Value Clarification Technique (VCT) mempunyai beberapa kelemahan. Terkait hal tersebut, Taniredja (2011:88) menyatakan kelemahan VCT sebagai berikut.
a)     Apabila guru tidak memiliki kemampuan melibatkan peserta didik dengan keterbukaan saling pengertian dan penuh kehangatan maka siswa akan memunculkan sikap semu atau imitasi.
b)     Sistemnilai yang memiliki dan tertanam guru, peserta didik, dan masyarakat yang kurang atau tidak baku dapat mengganggu tercapainya target nilai baku yang ingin dicapai/nilai etik.
c)     Sangat dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam mengajar terutama memerlukankemampuan atau ketrampilan bertanya tingkat tinggi yang mampu mengungkap dan menggali/nilai yang ada dalam diri peserta didik.
d)     Memerlukankreativitas guru dalam menggunakan media yang tersedia dilingkungan terutama yang aktual dan paktual sehingga dekat dengan kehidupan sehari-hari peserta didik.


2.4.3 Cara Mengatasi Kelemahan Value Clarification Technique (VCT)
Berdasarkan kelemahan model pembelajaran Value Clarification Technique (VCT) di atas ada beberapa cara untuk mengatasi kelemahan tersebut. Terkait hal tersebut, Taniredja. (2011 :92) mengemukakan beberapa cara dalam mengatasi kelemahan VCT sebagai berikut.
a)               Guru berlatih dan memiliki ketrampilan mengajar sesuai dengan standar kompetensi guru. Pengalaman guru yang berulangkali menggunakan VCT akan memberikan pengalaman yang sangat berharga karena memunculkan model-model VCT yang merupakan modifikasi sesuai kemampuan dan kreativitas guru.
b)          Dalam setiap pembelajaran mengguanakan tematik atau pendekatan kontekstual, antara lain dengan mangambil topik yang sedang terjadi dan ada disekitar peserta didik, menyesuaikan dengan hari besar nasional, atau mengaitkan dengan program yang sedang dilaksanakan pemerintah


SUMBER :




Akmal, Satia. 2012. Makna Demokrasi Untuk Kehidupan Bangsa. Jakarta: CV. Bangun Nusa Depok.
Andi.2011. Microsoft Office 2011.Yogyakarta. CV. ANDI OFFEST.
Arsyad, Azhar.2011. Media Pembelajaran.Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Darmawan, Deni. 2011. Teknologi Pembelajaran. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya
Dantes. 2006.Evaluasi dan hasil penilaian proses belajar. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Dimyati.2003. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
Djajari. 2012. Model Pembelajaran Inovatif dan Proses Pembelajaran Konvensional. Jakarta: Balai Pustaka.
Erawati, Widya. 2011.Implementasi Model VCT (Values Clarification Technique) Untuk Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Siswa Kelas V Semester 1 SD No. 3 Purwakerthi Kecamatan Abang Kabupaten Karangasem Tahun Pelajaran 2011/2012. Laporan Penelitian (tidak diterbitkan). Singaraja: Undiksha
Gagne, Robert M. 2003. Prinsip-Prinsip Belajar Untuk Pengajaran. Surabaya: Usaha Nasional.
Gunawan,Rudy. 2011. Pendidikan IPS Filosofi, Konsep dan Aplikasi. Bandung:ALFABETA.
Hamalik, Oemar. 2006. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Indriana, Dana. 2011. Ragam Alat Bantu Media Pengajaran. Jogjakarta: DIVA Press.
Kemdiknas. 2011. Standar Kompetensi dan Kompetensi Standar Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah. Jakarta: Kemdiknas.
Kertawisastra. 2003. Strategi Pembelajaran dan Proses Pembelajaran. Jakarta: Gramedia.
Kosasih. 2004. Evaluasi Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.
Lasmawan.2006. Macam Gaya Belajar.Singaraja :Undiksha.
Lasmawan. 2010. Menelisik Pendidikan IPS dalam Perspektif Kontekstual-Empiris. Singaraja: Mediakom Indonesia Press Bali.
Maning. 2004. Model Pembelajaran Efektif dan Strategi Proses Pembelajaran. Jakarta :Gramedia.
Moedjiono. 2004. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Depdikbud.
Munawar, Indra. 2009. “Hasil Belajar (Pengertian dan Definisi)”. Tersedia Pada:http://indramunawar.blogspot.com/2009/06/hasil-belajar-pengertian-dan-definisi.html. (diakses tanggal 12 desember  2012).
Rachim, Diana. 2011. Penerapan Model Pembelajaran VCT (Values Clarification Technique) Berbantuan Media VCD Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Pada Siswa Kelas V Semester 2 SD N.14 Sesetan Kecamatan Denpasar Selatan Tahun Pelajaran 2010/2011. Laporan Penelitian (tidak diterbitkan). Undiksha Singaraja.
Sardiman, dkk.2008.Media Pendidikan.Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sanaky,AH. 2009. Media Pembelajaran. Yogyakarta:SAFIRIA INSANIA PRESS.
Sanjaya, Wina. 2010. Kurikulum danPembelajaran. Jakarta:Kencana Perdana Media Group.
Sarjono. 2003. Model Pembelajaran dan Teknik Pembelajaran Efektif. Jakarta: Gramedia.
Side, Harsidi. 2009. “Skripsi Penggunaan Media Animasi”. Tersedia Pada:http://Harsidi Side.blogspot.com/2009/06/skripsi-penggunaan media-animasi.html (diakses tanggal 12 desember 2012).
Siswandi, A.N. 2009. Model VCT:Landasan Teori,Kerangka Berfikir dan Hipotesis. Tersedia pada http://nazwadzulfa.wordpress.com/2009/11/14/model-vct-landasan-teori-kerangka-berfikir-dan-hipotesis/. (diakses pada 12 desember 2012).
Sudaryo. 2008. Mendesain Model-model Pembelajaran Inovatif Progresif dan Epektif. Jakarta: Balai Pustaka.
Suprijono, Agus. 2009. Cooperative Learning Teori dan Aplikasi Paikem. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Suryani.2004. Motivasi Belajar dan Peningkatan Hasil Belajar. Surabaya: Usaha Nasional.
Suyatno. 2009. Menjelajah Pembelajaran Inovatif. Sidoarjo: Masmedia Buana Pustaka.
Taniredja,Tukiran,dkk. 2011. Model-Model Pembelajaran Inovatif. Bandung : Alfabeta.
UNDANG-UNDANG No.20.2003. Tentang Tujuan Pendidikan Nasional. Jakarta: Sekretaris Negara RI.
Wahab.2007. Evaluasi Pengajaran PKn. Bandung: IKIP Bandung
Winataputra,dkk.2006.Materi dan pembelajaran PKn SD. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka
 

Rabu, 16 Maret 2016

Pembelajaran open ended dalam pembelajaran






2.3 Hakikat Model pembelajaran open ended

Model pembelajaran mencakup suatu pendekatan pengajaran yang luas dan menyeluruh, dapat berfungsi sebagai sarana komunikasi bagi guru untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Model pembelajaran memiliki sintaks pembelajaran menggambarkan keseluruhan urutan alur langkah yang pada umumnya diikuti oleh serangkaian kegiatan pembelajaran. Sintaks pembelajaran menunjukkan dengan jelas kegiatan-kegiatan apa yang perlu dilakukan oleh guru atau siswa (Trianto, 2007:6-7). Sintaks dari berbagai model pembelajaran mempunyai komponen-komponen yang sama, tetapi juga mempunyai perbedaan. Perbedaan-perbedaan inilah yang harus dipahami oleh guru, jika model-model pembelajaran tersebut ingin dilaksanakan dengan efektif dan efisien.
Hasil belajar tidak dapat otomatis meningkat apabila hanya dengan memberikan intruksi kepada siswa untuk melaksanakan aktivitas seperti membaca, demonstrasi atau pun belajar dalam kelompok dalam kegiatan pembelajaran tanpa adanya pemberian keleluasaan berfikir bagi siswa. Keleluasaan berfikir divergen untuk memecahkan masalah sangat membantu siswa untuk mampu meningkatkan daya kreatifitas berfikir dan menjadikan pengetahuan yang diperolehnya bermakna, sehingga akan terwujud hasil belajar yang optimal. Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran open ended adalah pembelajaran yang dalam prosesnya dimulai dengan memberi suatu masalah kepada siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Shimada (1997:1) “Model pembelajaran open-ended adalah model pembelajaran yang menyajikan suatu permasalahan yang memiliki metode atau penyelesaian yang benar lebih dari satu”. 
Menurut Suherman dkk (2003; 123) problem yang diformulasikan memiliki multijawaban yang benar disebut problem tak lengkap atau disebut (incomplete problem). Sifat “keterbukaan” dari suatu masalah dikatakan hilang apabila hanya ada satu cara dalam menjawab permasalahan yang diberikan atau hanya ada satu jawaban yang mungkin untuk masalah tersebut.

2.3.1 Tujuan Model Pembelajaran Open ended
Tujuan dari pembelajaran Open ended problem menurut Nohda (Suherman, dkk, 2003; 124) antara lain :
a)     Untuk membantu mengembangkan kegiatan kreatif dan pola pikir siswa melalui problem posing secara simultan. Dengan kata lain, kegiatan kreatif dan pola pikir matematik siswa harus dikembangkan semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan setiap siswa. 
b)     Diberikannya masalah yang bersifat terbuka, siswa terlatih untuk melakukan investigasi berbagai strategi dalam menyelesaikan masalah. Selain itu siswa akan memahami bahwa proses penyelesaian suatu masalah sama pentingnya dengan hasil akhir yang diperoleh.
Berdasarkan tujuan pembelajaran dengan model pembelajaran open ended di atas, model pembelajaran open ended memberi kesempatan kepada siswa untuk berpikir bebas sesuai dengan minat dan kemampuannya. Dengan demikian kemampuan berpikir siswa dapat berkembang secara maksimal dan kegiatan –kegiatan  kreatif siswa dapat terkomunikasikan melalui proses pembelajaran.

2.3.2 Prinsip Dasar Model  Pembelajaran Open ended
Open ended memiliki keterbukaan. Menurut Dahlan (dalam Haryani:2007:13).  Keterbukaan dibagi menjadi tiga, yaitu :
1)     Proses terbuka 
Maksudnya adalah masalah atau soal yang diberikan, memiliki banyak cara penyelesaian yang benar. 
2)     Hasil Akhir Terbuka 
Maksudnya adalah masalah yang memiliki jawaban yang benar. 
3)     Cara Pengembangan Lanjutan Terbuka 
Maksudnya ketika siswa telah menyelesaikan masalahnya, mereka dapat mengembangkan masalah baru yaitu dengan cara merubah kondisi masalahnya.


2.3.3  Mengkonstruksi Masalah  Terbuka dalam Model Pembelajaran Open ended
Menurut Suherman, dkk (2003 : 129-130) mengkonstruksi dan mengembangkan masalah Open-Ended yang tepat dan baik untuk siswa dengan tingkat kemampuan yang beragam tidaklah mudah. Akan tetapi berdasarkan penelitian yang dilakukan di Jepang dalam jangka waktu yang cukup panjang, ditemukan beberapa hal yang dapat dijadikan acuan dalam mengkonstruksi masalah, antara lain sebagai berikut:
a)     Menyajikan permasalahan melalui situasi fisik yang nyata di mana konsep konsep matematika dapat diamati dan dikaji siswa.
b)     Menyajikan soal-soal pembuktian dapat diubah sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan hubungan dan sifat-sifat dari variabel dalam persoalan itu.
c)     Menyajikan bentuk-bentuk atau peta konsep sehingga siswa dapat membuat suatu konjektur.
d)     Menyajikan urutan sebab akibat sehingga siswa dapat menemukan alur permasalahan.
e)     Memberikan beberapa contoh konkrit dalam beberapa kategori sehingga siswa bisa mengelaborasi siifat-sifat dari contoh itu untuk menemukan sifat-sifat dari contoh itu untuk menemukan sifat-sifat yang umum.
f)      Memberikan beberapa latihan serupa sehingga siswa dapat menggeneralisasai dari pekerjaannya.

2.3.4 Langkah-langkah Penerapan Model Pembelajaran Open ended
1 ) Tahapan-tahapan model pembelajaran Open ended
Langkah-langkah pembelajaran open ended  menurut Eko Prasetyo (2010), adalah sebagai berikut : 
a)     Tahapan persiapan (Kegiatan pendahuluan)
Tahapan persiapan pembelajaran adalah tahapan yang digunakan untuk mempersiapkan disi siswa agar siap mengikuti pembelajaran. Dalam tahapan persiapan, model pembelajaran open ended mengisyaratkan dalam guru mengemukakan apersepsi dengan memberikan problem terbuka kepada peserta didik. Problem tersebut dirasakan mampu diselesaikan peserta didik dengan banyak cara dan mungkin juga banyak jawaban sehingga memacu potensi intelektual dan pengalaman peserta didik dalam proses menemukan pengetahuan baru yang berkaitan dengan pembelajaran yang akan dilaksanakan di dalam kelas.
b)    Tahapan pelatihan (Kegiatan inti)
Tahapan pelatihan / kegiatan inti dalam pelajaran dilaksanakan setelah kegiatan pendahuluan. Seharusnya setelah siswa masuk ke kegiatan inti, siswa telah siap secara fisik dan rohani untuk mengikuti pembelajaran. Dalam model pembelajaran open ended  peserta didik diberikan kesempatan untuk menyelesaikan masalah terbuka yang diberikan oleh guru dengan berbagai cara. Peserta didik dapat dibentuk ke dalam kelompok kecil sehingga peserta didik dapat mendiskusikan dan menyelesaikan soal yang diberikan dengan temannya. Selain itu pemanfaatan media juga perlu dilakukan oleh peserta didik dalam mengeksplorasi masalah dan ide untuk memecahkan masalah. Saat peserta didik melakukan berbagai aktivitas dalam rangka memecahkan masalah yang diberikan, guru hendaknya merancang pembelajaran dengan memberikan waktu yang cukup kepada peserta didik, sehingga peserta didik dapat mengeksplorasi ide sebagai solusi pemecahan masalah.
Setelah mengeksplorasi ide, guru dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempresentasikan hasil diskusi dari permasalahan yang diberikan. Kemudian guru dan peserta didik dari kelompok lain berhak untuk memberikan saran dan mengemukakan ide berbeda yang dimilikinya.
c)     Tahapan penampilan hasil (Kegiatan penutup)
Kegiatan penutup adalah kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan untuk mengevaluasi sejauh mana keberhasilan pembelajaran yang telah berlangsung. Kegiatan yang dapat dilakukan yaitu dengan membuat pertanyaan yang akan diundi dan dijawab oleh peserta didik yang lain.Selain itu guru juga dapat  melakukan pertanyaan pertanyaan post tes pada tahap ini.

Quantum Teaching dalam pembelajaran di Sekolah Dasar





2.3 Hakikat Model pembelajaran quantum

Quantum Teaching merupakan penggubahan belajar yang meriah, dengan segala nuansanya. Quantum Teaching juga menyertakan segala kaitan, interaksi dan perbedaan yang memaksimalkan momen belajar. Quantum Teaching berfokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan kelas, interaksi yang mendirikan landasan dan kerangka untuk belajar (De Porter, 2005:3). Quantum adalah interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. Quantum Teaching adalah orkestrasi bermacam-macam interaksi yang ada didalam dan sekitar momen belajar. Interaksi-interaksi ini mencakup unsur-unsur untuk belajar efektif yang mempengaruhi kesuksesan siswa. Interaksi-interaksi ini mengubah kemampuan dan bakat alamiah siswa menjadi lebih baik yang akan bermanfaat bagi mereka sendiri dan orang lain (De Porter, 2005: 5). Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa Quantum Teaching adalah usaha maksimal yang dilakukan oleh warga belajar untuk meningkatkan pengalaman dan hasil belajar dengan menyertakan segala potensi yang ada pada dalam diri dan lingkungan.
Pembelajaran Quantum memiliki prinsip-prinsip yang perlu diterapkan agar tujuan pembelajaran tercapai. Menurut De Porter (dalam Riyanto, 2010: 201) prinsip prinsip Quantum Teaching adalah sebagai struktur dasar dari belajar. Prinsip-prinsip ini adalah :
1)     Bawalah dunia mereka (siswa) ke dalam dunia kita (guru), dan antarkan dunia kita (guru ke dalam dunia mereka (siswa).
2)     Proses pembelajaran bagaikan orkestra simfoni, yang secara spesifik dapat dijabarkan sebagai berikut :
a)     Segalanya berbicara Segalanya yang berada dilingkungan memberikan makna tentang belajar. Bahasa tubuh yang ada pada seseorang sesungguhnya mengirimi pesan tentang belajar.
b)     Segalanya bertujuan Semua yang terjadi dalam pengubahan, semuanya mempunyai tujuan.
c)     Pengalaman sebelum pemberian nama Otak kita berkembang pesat dengan adanya rangsangan kompleks yang akan menggerakkan rasa ingin tahu. Oleh karena itu, proses belajar paling baik terjadi ketika siswa telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh nama untuk apa mereka pelajari.
d)     Akui setiap usaha Pada saat siswa mengambil langkah mereka patut mendapat pengakuan atas kecakapan dan kepercayaan diri mereka.
e)     Jika layak dipelajari layak pula dirayakan Perayaan memberikan umpan balik mengenai kemajuan dan meningkatkan asposiasi emosi positif dalam belajar.
Secara umum, Quantum Teaching (pembelajaran kuantum) mempunyai karakteristik sebagai berikut:
1)     Berpangkal pada psikologi kognitif.
2)     Bersifat humanistik, manusia selaku pembelajar menjadi pusat perhatian. Potensi diri, kemampuan pikiran, daya motivasi dan sebagainya dari pembelajar dapat berkembang secara optimal dengan meniadakan hukuman dan hadiah karena semua usaha yang dilakukan pembelajar dihargai. Kesalahan sebagai manusiawi.
3)     Bersifat konstruktivistis, artinya memadukan, menyinergikan, dan mengolaborasikan faktor potensi diri manusia selaku pembelajar dengan lingkungan (fisik dan mental) sebagai konteks pembelajaran. Oleh karena itu, baik lingkungan maupun kemampuan pikiran atau potensi diri manusia harus diperlakukan sama dan memperoleh stimulant yang seimbang agar pembelajaran berhasil baik.
4)     Memusatkan perhatian pada interaksi yang bermutu dan bermakna. Dalam proses pembelajaran dipandang sebagai penciptaan intekasi-interaksi bermutu dan bermakna yang dapat mengubah energi kemampuan pikiran yang dapat mengubah energi kemampuan pikiran dan bakat alamiah pembelajar menjadi cahaya yang bermanfaat bagi keberhasilan pembelajar.
5)     Menekankan pada pemercepatan pembelajaran dengan taraf keberhasilan tinggi. Dalam prosesnya menyingkirkan hambatan dan halangan sehingga menimbulkan hal-hal yang seperti: suasana yang menyengkan, lingkungan yang nyaman, penataan tempat duduk yang rileks, dan lain-lain.
6)     Menekankan kealamiahan dan kewajaran proses pembelajaran. Dengan kealamiahan dan kewajaran menimbulkan suasana nyaman, segar sehat, rileks, santai, dan menyenangkan serta tidak membosankan.
7)     Menekankan kebermaknaan dan dan kebermutuan proses pembelajaran. Dengan kebermaknaan dan kebermutuan akan menghadirkan pengalaman yang dapat dimengerti dan berarti bagi pembelajar, terutama pengalaman perlu diakomodasi secara memadai.
8)     Memiliki model yang memadukan konteks dan isi pembelajaran. Konteks pembelajaran meliputi suasana yang memberdayakan, landasan yang kukuh, lingkungan yang mendukung, dan rancangan yang dinamis. Sedangkan isi pembelajaran meliputi: penyajian yang prima, pemfasilitasan yang fleksibel, keterampilan belajar untuk belajar dan keterampilan hidup.
9)     Menyeimbangkan keterampilan akademis, keterampilan hidup dan prestasi material.
10) Menanamkan nilai dan keyakinan yang positif dalam diri pembelajar. Ini mengandung arti bahwa suatu kesalahan tidak dianggapnya suatu kegagalan atau akhir dari segalanya. Dalam proses pembelajarannya dikembangkan nilai dan keyakinan bahwa hukuman dan hadiah tidak diperlukan karena setiap usaha harus diakui dan dihargai.
11) Mengutamakan keberagaman dan kebebasan sebagai kunci interaksi. Dalam prosesnya adanya pengakuan keragaman gaya belajar siswa dan pembelajar.
12) Mengintegrasikan totalitas tubuh dan pikiran dalam proses pembelajaran, sehinga pembelajaran bias berlangsung nyaman dan hasilnya lebih optimal.
Langkah-langkah pembelajaran kuantum terdiri dari 6 fase yaitu fase tanamkan, fase alami, fase namai, fase demonstrasikan, fase ulangi dan fase rayakan atau dikenal dengan singkatan TANDUR. Keenam fase dari model pembelajaran quantum diuraikan sebagai berikut.
a)     Tahapan persiapan (Kegiatan pendahuluan)
Tahapan persiapan pembelajaran adalah tahapan yang digunakan untuk mempersiapkan disi siswa agar siap mengikuti pembelajaran. Dalam tahapan persiapan, model pembelajaran quantum fase tumbuhkan yang disisipkan.  Konsep tumbuhkan ini sebagai konsep operasional dari prinsip “bawalah dunia mereka ke dunia kita”. Dengan usaha menyertakan siswa dalam pikiran dan emosinya, sehingga tercipta jalinan dan kepemilikan bersama atau kemampuan saling memahami. Secara umum konsep tumbuhkan adalah sertakan diri mereka, pikat mereka, puaskan keingintahuan, buatlah siswa tertarik atau penasaraan tentang materi yang akan diajarkan. Dari hal tersebut tersirat, bahwa dalam pendahuluan (persiapan) pembelajaran dimulai guru seyogyanya menumbuhkan sikap positif dengan menciptakan lingkungan yang positif, lingkungan sosial (komunitas belajar), sarana belajar, serta tujuan yang jelas dan memberikan makna pada siswa, sehingga menimbulkan rasa ingin tahu.

b)     Tahapan pelatihan (Kegiatan inti)
Tahapan pelatihan / kegiatan inti dalam pelajaran dilaksanakan setelah kegiatan pendahuluan. Seharusnya setelah siswa masuk ke kegiatan inti, siswa telah siap secara fisik dan rohani untuk mengikuti pembelajaran. Fase yang dilaksanakan pada tahapan ini sesuai dengan model pembelajaran quantum adalah fase alami, fase namai, dan fase demonstrasi. Dalam fase alami, guru dalam proses pembelajaran harus memberi pengalaman dan manfaat terhadap pengetahuan yang dibangun siswa sehingga menimbulkan hasrat alami otak untuk menjelajah. Pada konsep alami guru memberikan cara terbaik agar siswa memahami informasi, memberikan permainan atau kegiatan yang memanfaatkan pengetahuan yang sudah mereka miliki, sehingga dapat memfasilitasi siswa untuk memperoleh pengetahuan yang melekat. Setelah melewati fase alami kemudian siswa belajar untuk menamai. Konsep “namai” mengandung maksud bahwa penamaan memuaskan hasrat alami otak (membuat siswa penasaran, penuh pertanyaan mengenai pengalaman) untuk memberikan identitas, menguatkan dan mendefinisikan. Penamaan dalam hal ini adalah mengajarkan konsep, melatih keterampilan berpikir dan strategi belajar. Pertanyaan yang dapat memandu guru dalam memahami konsep “namai” yaitu perbedaan yang perlu dibuat dalam belajar, apa yang harus guru tambahkan pada pengertian siswa, strategi kiat jitu, alat berpikir yang digunakan untuk siswa ketahui atau siswa gunakan. Setelah menamai, siswa diberikan kesempatan untuk menunjukkan tingkat pemahaman terhadap materi yang dipelajari. Strategi yang dapat digunakan adalah mempraktekkan, melakukan percobaan, menyusun laporan, menganalisis data, melakukan gerakan tangan, kaki, gerakan tubuh bersama secara harmonis, dan lain-lain.
c)     Tahapan penampilan hasil (Kegiatan penutup)
Kegiatan penutup adalah kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan untuk mengevaluasi sejauh mana keberhasilan pembelajaran yang telah berlangsung. Pada tahap ini dimasukkan fase ulangi dan rayakan. Fase ulangi dilaksanakan untuk memperkuat koneksi saraf dan menumbuhkan rasa “aku tahu bahwa aku tahu ini”. Kegiatan ini dilakukan secara multimodalitas dan multi kecerdasan. Guru memberikan evaluasi tentang apa yang sudah dipelajari, strategi untuk mengimplementasikan yaitu bisa dengan membuat isian “aku tahu bahwa aku tahu ini” hal ini merupakan kesempatan siswa untuk mengajarkan pengetahuan baru kepada orang lain (kelompok lain), atau dapat melakukan pertanyaan pertanyaan post tes.
Hasil dari evaluasi yang telah dilaksanakan pada fase ulangi kemudian direfleksi bersama oleh guru dan siswa. Fase rayakan diimplementasikan pada tahapan ini. Apabila hasil evaluasi memuaskan maka rayakanlah, apabila kurang rayakanlah dengan memberikan motivasi dan saran kepada siswa. Fase rayakan memberikan rasa puas, untuk menghormati usaha, ketekunan, dan kesuksesan yang akhirnya memberikan rasa kepuasan dan kegembiraan. Dengan kondisi akhir siswa yang senang maka akan menimbulkan kegairahan siswa dalam belajar lebih lanjut. Strategi yang dapat digunakan adalah dengan pujian bernyanyi bersama, pesta kelas, memberikan reward berupa tepukan (De Porter, 2005: 10)


Model Pembelajaran Value Clarification Technique (VCT)




2.3 Hakikat Model Pembelajaran Value Clarification Technique
2.3.1 Model Pembelajaran
Dimyati, (2003 :109) berpendapat bahwa “model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum, merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pengajaran di kelas atau yang lain”.
Winataputra, (2006 :34) juga menyatakan bahwa:
Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pengajaran dan para gurudalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar.

Berdasarkan kedua pengertian di atas, maka dapat diambil suatu simpulan bahwa model pembelajaran adalah kerangka konsep yang melukiskan prosedur yang menjadi pedoman guru dalam melaksanakan suatu pembelajaran untuk mencapai tujuan belajar tertentu.
Ada bermacam-macam model pembelajaran yang disusun oleh para ahli, namun seluruh model pembelajaran memiliki ciri-ciri yang sama. Seperti yang diungkapkan Moedjiono, (2004 :72) menyampaikan beberapa ciri model pembelajaran yakni:
(a) berdasarkan teori pendidikan dan teori belajar para ahli tertentu, (b) mempunyai misi dan dijadikan pedoman untuk tujuan tertentu, (c) dapat digunakan sebagai perbaikan kegiatan belajar mengajar dikelas, (d) memiliki perangkat bagian model yang dinamakan sintaks, prinsip reaksi,  sistem sosial,  dan sistem pendukung.


2.3.2    Hakikat VCT
VCT adalah salah satu teknik pembelajaran yang dapat memenuhi tujuan pancapaian pendidikan nilai.
Siswandi, (2009 :77) mengemukakan  bahwa:
Value Clarification Technique, merupakan sebuah cara bagaimana menanamkan dan menggali/ mengungkapkan nilai-nilai tertentu dari diri peserta didik. Karena itu, pada prosesnya VCT berfungsi untuk: a) mengukur atau mengetahui tingkat kesadaran siswa tentang suatu nilai; b) membina kesadaran siswa tentang nilai-nilai yang dimilikinya baik yang positif maupun y ang negatif untuk kemudian dibina kearah peningkatan atau pembetulannya; c) menanamkan suatu nilai kepada siswa melalui cara yang rasional dan diterima siswa sebagai milik pribadinya.

Mata pelajaran yang lebih menitikberatkan pada ranah afektif seperti pendidikan kewarganegaraan, sangat tepat menggunakan model pembelajaran VCT. Pendidikan kewarganegaraan dan mata pelajaran sejenis berada pada ranah sikap yaitu wahana penanaman nilai, moral dan norma-norma baku seperti rasa sosial nasionalisme, bahkan sistem keyakinan. Pendidikan kewarganegaraan seharusnya mampu mengeksplorasi wilayah dalam diri seseorang (internal side), dan salah satu hasil dari internal side adalah sikap.Sikap merupakan posisi seseorang atau keputusan seseorang sebelum berbuat, sehingga sikap merupakan ambang batas seseorang antara sebelum melakukan sesuatu perbuatan atau berperilaku tertentu.Untuk mengubah sikap inilah maka bisamenggunakan pembelajaran salah satunya adalah VCT.
Teknik mengklarifikasi nilai (Value Clarafication Technique ) atau sering disingkat VCT merupakan teknik pembelajaran untuk membantu siswa dalam mencapai dan menentukan suatu nilai yang dianggap baik dalam menghadapi suatu persoalan melalui proses menganalisis nilai yang sudah ada dan tertanam dalam diri siswa (Taniredja, 2011 :88).
Karakteristik teknik nilai VCT sebagai suatu model dalam strategi pembelajaran sikap adalah proses penanaman nilai dilakukan melalui proses.

2.3.3    Tujuan Menggunakan Value Clarification Technique (VCT) dalam Pembelajaran IPS

Menurut Sanjaya (2010) menjelaskan tujuan penggunaan VCT sebagai berikut.
a) mengetahui dan mengukur tingkat kesadaran siswa tentang suatu nilai, sehingga dapat dijadikan sebagai dasar pijak menentukan target nilai yang akan dicapai, b) menanamkan kesadaran siswa tentang nilai-nilai yang dimiliki baik tingkat maupun sifat yang positif maupun negatif untuk selanjutnya ditanamkan ke arah peningkatan dan pencapaian target nilai,c) menanamkan nilai-nilai tertentu kepada siswa melalui cara yang rasional (logis) dan diterima siswa, sehingga pada akhirnya nilai tersebut akan menjadi milik siswa sebagai proses kesadaran moral bukan kewajiban moral, d) Melatih siswa dalam menerima menilai nilai dirinya dan posisi orang lain, menerima serta pengambil keputusan terhadap suatu persoalan yang berhubungan dengan pergaulannya dan kehidupan sehari-hari.




2.3.4    Prinsip - prinsip Value   Clarification   Technique (VCT)
Taniredja, (2011:89) mengemukakan pendapat bahwa terdapat lima prinsip-prisip VCT, yaitu:
a) Penanaman nilai dan pengubahan sikap dipengaruhi banyak faktor antara lain faktor potensi diri, kepekaan emosi, intelektual dan faktor lingkungan, norma nilai masyarakat, sistem pendidikan dan lingkungan keluarga dan lingkungan bermain; b) sikap dan perubahan sikap dipengaruhi oleh stimulus yang diterima siswa dan kekuatan nilai yang telah tertanam atau dimiliki pada diri siswa; c) nilai, moral dan norma dipengaruhi oleh faktor perkembangan, sehingga guru harus mempertimbangkan tingkat perkembangan moral (moral development) dari setiap siswa. Tingkat perkembangan moral untuk siswa dipengaruhi oleh usia dan pengaruh lingkungan terutama lingkungan sosial; d) pengubahan sikap dan nilai memerlukan keterampilan mengklarifikasi nilai/sikap secara rasional, sehingga dalam diri siswa muncul kesadaran diri bukan karena rasa kewajiban bersikap tertentu atau berbuat tertentu; e) pengubahan nilai memerlukan keterbukaan, karena itu pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan melalui VCT menuntut keterbukaan antara guru dan siswa.


2.3.5    Langkah-langkah Pembelajaran Value Clarification Technique (VCT)

Taniredja, (2011) mengemukakan Langkah-langkah pembelajaran VCT sebagai berikut.
a)     Kebebasan Memilih. Pada tingkat ini terdapat tiga tahap kegiatan yang harus dijalankan, yakni:
1)     Memilih cecara bebas, artinya kesempatan untuk menentukan pilihan yang menurutnya baik. Nilai yang dipaksakan tidak akan menjadi miliknya secara penuh.
2)     Memilih dari beberapa alternatif. Artinya untuk menentukan pilihan dari beberapa alternatif pilihan secara bebas.
3)     Memilih dari beberapa alternatif pertimbangan konsekuensi yang akan timbul sebagai akibat pilihannya.
b)     Menghargai. Tingkat pembelajaran VCT pada kegiatan ini terdiri dari dua tahap, yakni:
1)     Adanya perasaan senang dan bangga dengan nilai  yang menjadi pilihannya, sehingga nilai tersebut akan menjadi bagian dalam dirinya.
2)     Menegaskan nilai yang sudah menjadi bagian integral dalam dirinya di depan umum. Artinya, bila kita menganggap nilai itu suatu pilihan, maka kita akan berani dengan penuh kesadakan untuk menunjukan di depan orang lain.
c)     Berbuat.Tahap terakhir dalam model pembelajaran VCT terdiri dari dua tahap yakni:
1)      Kemauan dan kemampuan untuk mencoba melaksanakannya.
2)     Mengulangi perilaku sesuai dengan nilai pilihannya. Artinya, nilai yang menjadi pilihan itu harus mencerminkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kertawisastra (2003) VCT menekankan bagaimana sebenarnya seorang membangun nilai yang menurut anggapanya baik, yang pada gilirannya nilai-nilai tersebut akan mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Dalam praktik pembelajaran, hendaknya berlangsung dalam suasana santai dan terbuka, sehingga setiap siswa dapat mengungkapkan secara bebas perasaannya. Kertawisastra (2003) menyebutkan beberapa hal yang harus diperhatikan guru dalam mengimplementasikan VCT melalui proses dialog, antara lain:
(a) Hindari penyampaian proses pemberian nasehat, yaitu memberikan pesan-pesan moral yang dianggap guru baik, (b) Jangan memaksakan siswa untuk memberikan respon tertentu apabila memang siswa tidak menghendakinya, (c) Usahakan dialog dilaksanakan secara bebas dan terbuka, sehingga siswa akan mengungkapkan perasaannya secara jujur dan apa adanya, (d) Dialog dilaksanakan kepada individu, bukan kepada kolompok di kelas, (e) Hindari respon yang dapat menyebabkan siswa terpojok, sehingga ia menjadi defensive, (f) Tidak mendesak siswa pada pendirian tertentu, (g) Jangan mengorek alasan siswa lebih dalam. (h) Tidak monoton, guru tidak mendominasi seluruh waktu pesera didik, perataan aktivitas potensi diri serta keanekaragaman kemampuan peserta didik lebih dapat terlayani

Pembelajaran VCT mengundang dan melibatkan serta mendialogkan seluruh struktur potensi afektual peserta didik maupun struktur kognitif dan fsikomotoriknya. Proses kegiatan belajar siswa dengan model VCT dapat melatih kepekaan dan kemantapan keterampilan afektual serta memberikan aneka penalaman.
2.3.6    Sintak Model Pembelajaran Value ClarificationTechnique (VCT)
Model Pembelajaran Value Clarification Technique (VCT) mempunyai sintak pembelajaran sebagai berikut.
Tabel  2.1. Tabel Sintak Model Pembelajaran Value Clarification Technique (VCT)

No
Kegiatan Guru
Kegiatan siswa
1.
Guru membuat atau mencari media stimulus, berupa contoh keadaan/perbuatan yang memuat nilai-nilai kontras sesuai dengan topik atau tema target pembelajaran.


Menentukan pembahasan atau pembuktian argumen pada pase ini sudah mulai ditanamkan target nilai dan konsep sesuai dengan materi pembelajaran.

2.
Guru melontarkan stimulus dengan cara membaca cerita atau menampilkan gambar, foto, atau film.

Siswa menentukan argumen dan klarifikasi pendirian (melalui Pertanyaan guru dan bersifat individual,kelompok, dan klasikal).
3.
Guru memberi kesempatan beberapa saat kepada siswa berdialog sendiri atau sesame teman sehubungan dengan stimulus tadi.
Siswa melaksanakan dialog terpimpin melalui pertanyaan guru, baik secara individual ,kelompok atau klasikal.
4.
Guru mampu merangsang, mengundang, dan melibatkan potensi afektual siswa.
Siswa melaksanakan hal yang terjangkau oleh pengetahuan dan potensi afektual siswa (ada dalam lingkungan kehidupan siswa).
Sumber:(Djajari, 2012:92)
Secara lebih jelas pembelajaran dengan model VCT menurut Siswandi, (2009:92) dapat dilihat pada bagan berikut.


Bagan 2.1. Bagan Model Pembelajaran VCT
Guru
Stimulus cerita gambar
Siswa dalam diskusi kelompok
Hasil pembelajaran
3tingkatan pembelajaran
1.     Memilih
2.     Menghargai
3.     Berbuat
  1. Kesadaran tentang suatu nilai
  2. menanamkan nilai
  3. melatih cara menilai
  4. menghargai dan menerima
Guru memberi pengantar dan motivasi
 













Dari sintak model VCT, dapat dijelaskan karakteristik pembelajaran VCT yakni: (1) siswa terlibat secara aktif  dalam mengembangkan pemahaman dan pengenalannya terhadap nilai-nilai pribadi, mengambil keputusan dan bertindak sesuai dengan keputusan pribadi, (2) mendorong siswa dengan pertanyaan-pertanyaan yang relevan dan mengembangkan ketrampilan siswa dalam melakukan proses menilai, dan (3) menggali dan mempertegas nilai-nilai yang dimiliki oleh siswa.
Sedangkan tujuan secara langsung bagi siswa dalam penerapan model VCT seperti yang disampaikan Siswandi, (2009 :67) yaitu:
(a) membantu siswa untuk menyadari dan mengidentifikasi nilai-nilai mereka sendiri serta nilai-nilai orang lain, (b) membantu siswa agar mereka mampu berkomunikasi secara terbuka dan jujur terhadap orang lain terkait dengan nilai-nilainya sendiri, (c) membantu siswa agar mereka mampu menggunakan secara bersama-sama kemampuan berfikir rasional dan kesadaran emosional untuk memahami perasaan, nilai dan pola tingkah laku mereka sendiri.

Dalam pelaksanaan pembelajaran, hal yang terpenting dalam melaksanakan model VCT agar bisa berjalan efektif adalah perlu adanya siswa yang mau dan mampu terlibat aktif dalam pembelajarannya. Oleh karena itu, dituntut siswa yang secara potensial memiliki kemampuan berfikir secara kritis. Dalam hal ini peranan guru sebagai motivator pembelajaran sangat diperlukan, suasana kekeluargaan yang hangat juga sangat penting.Sehingga siswa tidak malu untuk ikut aktif dalam pembelajaran.

2.4  Kebaikan dan Kelemahan VCT
2.4.1 Kebaikan-KebaikanValue Clarification Technique (VCT)

Menurut Taniredja (2011) VCT memiliki kebaikan untuk pembelajaran afektif karena:
a)     Mampu membina dan menanamkan nilai dan moral pada ranah internal side.
b)     Mampu mengklarifikasi/menggali dan mengungkapkan isi pesan materi yang disampaikan selanjutnya akan memudahkan bagi guru untuk menyampaikan makna/pesan nilai/ moral.
c)     Mampu mengklarifikasi dan menilai kualitas nilai moral diri siswa, melihat nilai yang ada pada orang lain dan memahami nilai moral yang ada dalam kehidupan nyata.
d)     Mampu mengundang, melibatkan, membina, mengembangkan potensi diri siswa terutama mengembangkan potensi sikap.
e)     Mampu memberikan sejumlah pengalaman belajar dari berbagai kehidupan.
f)      Mampu menangkal, meniadakan, mengintervensi dan memadukan berbagai nilai moral dalam sistem nilai dan moral yang ada pada diri seseorang.
g)     Memberi gambaran nilai moral yang patut diterima dan menuntun serta memotivasi untuk hidup layak dan bermoral tinggi.

2.4.2    Kelemahan-Kelemahan Value Clarification Technique (VCT)
Model Pembelajaran Value Clarification Technique (VCT) mempunyai beberapa kelemahan. Terkait hal tersebut, Taniredja (2011:88) menyatakan kelemahan VCT sebagai berikut.
a)     Apabila guru tidak memiliki kemampuan melibatkan peserta didik dengan keterbukaan saling pengertian dan penuh kehangatan maka siswa akan memunculkan sikap semu atau imitasi.
b)     Sistemnilai yang memiliki dan tertanam guru, peserta didik, dan masyarakat yang kurang atau tidak baku dapat mengganggu tercapainya target nilai baku yang ingin dicapai/nilai etik.
c)     Sangat dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam mengajar terutama memerlukankemampuan atau ketrampilan bertanya tingkat tinggi yang mampu mengungkap dan menggali/nilai yang ada dalam diri peserta didik.
d)     Memerlukankreativitas guru dalam menggunakan media yang tersedia dilingkungan terutama yang aktual dan paktual sehingga dekat dengan kehidupan sehari-hari peserta didik.


2.4.3 Cara Mengatasi Kelemahan Value Clarification Technique (VCT)
Berdasarkan kelemahan model pembelajaran Value Clarification Technique (VCT) di atas ada beberapa cara untuk mengatasi kelemahan tersebut. Terkait hal tersebut, Taniredja. (2011 :92) mengemukakan beberapa cara dalam mengatasi kelemahan VCT sebagai berikut.
a)               Guru berlatih dan memiliki ketrampilan mengajar sesuai dengan standar kompetensi guru. Pengalaman guru yang berulangkali menggunakan VCT akan memberikan pengalaman yang sangat berharga karena memunculkan model-model VCT yang merupakan modifikasi sesuai kemampuan dan kreativitas guru.
b)          Dalam setiap pembelajaran mengguanakan tematik atau pendekatan kontekstual, antara lain dengan mangambil topik yang sedang terjadi dan ada disekitar peserta didik, menyesuaikan dengan hari besar nasional, atau mengaitkan dengan program yang sedang dilaksanakan pemerintah


SUMBER :




Akmal, Satia. 2012. Makna Demokrasi Untuk Kehidupan Bangsa. Jakarta: CV. Bangun Nusa Depok.
Andi.2011. Microsoft Office 2011.Yogyakarta. CV. ANDI OFFEST.
Arsyad, Azhar.2011. Media Pembelajaran.Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Darmawan, Deni. 2011. Teknologi Pembelajaran. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya
Dantes. 2006.Evaluasi dan hasil penilaian proses belajar. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Dimyati.2003. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
Djajari. 2012. Model Pembelajaran Inovatif dan Proses Pembelajaran Konvensional. Jakarta: Balai Pustaka.
Erawati, Widya. 2011.Implementasi Model VCT (Values Clarification Technique) Untuk Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Siswa Kelas V Semester 1 SD No. 3 Purwakerthi Kecamatan Abang Kabupaten Karangasem Tahun Pelajaran 2011/2012. Laporan Penelitian (tidak diterbitkan). Singaraja: Undiksha
Gagne, Robert M. 2003. Prinsip-Prinsip Belajar Untuk Pengajaran. Surabaya: Usaha Nasional.
Gunawan,Rudy. 2011. Pendidikan IPS Filosofi, Konsep dan Aplikasi. Bandung:ALFABETA.
Hamalik, Oemar. 2006. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Indriana, Dana. 2011. Ragam Alat Bantu Media Pengajaran. Jogjakarta: DIVA Press.
Kemdiknas. 2011. Standar Kompetensi dan Kompetensi Standar Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah. Jakarta: Kemdiknas.
Kertawisastra. 2003. Strategi Pembelajaran dan Proses Pembelajaran. Jakarta: Gramedia.
Kosasih. 2004. Evaluasi Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.
Lasmawan.2006. Macam Gaya Belajar.Singaraja :Undiksha.
Lasmawan. 2010. Menelisik Pendidikan IPS dalam Perspektif Kontekstual-Empiris. Singaraja: Mediakom Indonesia Press Bali.
Maning. 2004. Model Pembelajaran Efektif dan Strategi Proses Pembelajaran. Jakarta :Gramedia.
Moedjiono. 2004. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Depdikbud.
Munawar, Indra. 2009. “Hasil Belajar (Pengertian dan Definisi)”. Tersedia Pada:http://indramunawar.blogspot.com/2009/06/hasil-belajar-pengertian-dan-definisi.html. (diakses tanggal 12 desember  2012).
Rachim, Diana. 2011. Penerapan Model Pembelajaran VCT (Values Clarification Technique) Berbantuan Media VCD Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Pada Siswa Kelas V Semester 2 SD N.14 Sesetan Kecamatan Denpasar Selatan Tahun Pelajaran 2010/2011. Laporan Penelitian (tidak diterbitkan). Undiksha Singaraja.
Sardiman, dkk.2008.Media Pendidikan.Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sanaky,AH. 2009. Media Pembelajaran. Yogyakarta:SAFIRIA INSANIA PRESS.
Sanjaya, Wina. 2010. Kurikulum danPembelajaran. Jakarta:Kencana Perdana Media Group.
Sarjono. 2003. Model Pembelajaran dan Teknik Pembelajaran Efektif. Jakarta: Gramedia.
Side, Harsidi. 2009. “Skripsi Penggunaan Media Animasi”. Tersedia Pada:http://Harsidi Side.blogspot.com/2009/06/skripsi-penggunaan media-animasi.html (diakses tanggal 12 desember 2012).
Siswandi, A.N. 2009. Model VCT:Landasan Teori,Kerangka Berfikir dan Hipotesis. Tersedia pada http://nazwadzulfa.wordpress.com/2009/11/14/model-vct-landasan-teori-kerangka-berfikir-dan-hipotesis/. (diakses pada 12 desember 2012).
Sudaryo. 2008. Mendesain Model-model Pembelajaran Inovatif Progresif dan Epektif. Jakarta: Balai Pustaka.
Suprijono, Agus. 2009. Cooperative Learning Teori dan Aplikasi Paikem. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Suryani.2004. Motivasi Belajar dan Peningkatan Hasil Belajar. Surabaya: Usaha Nasional.
Suyatno. 2009. Menjelajah Pembelajaran Inovatif. Sidoarjo: Masmedia Buana Pustaka.
Taniredja,Tukiran,dkk. 2011. Model-Model Pembelajaran Inovatif. Bandung : Alfabeta.
UNDANG-UNDANG No.20.2003. Tentang Tujuan Pendidikan Nasional. Jakarta: Sekretaris Negara RI.
Wahab.2007. Evaluasi Pengajaran PKn. Bandung: IKIP Bandung
Winataputra,dkk.2006.Materi dan pembelajaran PKn SD. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka