Jumat, 21 Maret 2014

taksonomi bloom revisi (katakerja operasional)

"Taksonomi Bloom Baru" demikianlah salah satu judul Makalah yang menjadi tugas saya waktu kuliah, dan inilah mungkin salah satu tugas dari sekian banyak tugas yang pernah saya kerjakan seadanya, hehe... kenapa demikian? karena mendengar dan mengetahuinya saja baru saat diberi tugas selain itu referensi terkait hal itu belum ada yang berbahasa Indonesia. Untungnya ada Mas GOOGLE yang menterjemahkan dan memberi beberapa data.
Revisi Taksonomi Bloom, begitulah penamaan atas revisi yang dilakukan Lorin Anderson atas Taksonomi Bloom. Bagaimana persisnya ?.... berikut ringkasannya...
Benjamin S. Bloom adalah seorang psikologi pendidikan berkebangsaan Amerika Serikat memberikan kontribusi besar di bidang pendidikan dengan menyusun klasifikasi objektif kognitif kependidikan serta teori belajar tuntas (mastery learning). Konsep Taksonomi Bloom dikembangkan pada tahun 1956 oleh Benjamin S. Bloom bersama dengan rekannya Krathwohl.
Taksonomi Bloom membuat suatu klasifikasi berdasarkan urutan keterampilan berpikir dalam suatu proses yang semakin lama semakin tinggi tingkatannya. Mula-mula taksonomi bloom terdiri atas dua bagian yaitu ranah kognitif dan ranah afektif (cognitive domain and affective domain). Bloom tidak menambahkan ranah psikomotor. Akhirnya tahun 1966 Simpson menambahkan ranah psikomotor melengkapi apa yang tekah dibuat oleh Bloom. Dengan demikian menjadi tiga ranah yaitu ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotor. (Ketiga ranah tersebut tidak diuraikan karena merupakan taksonomi bloom yang lama, telah banyak referensi terkait hal itu).
Salah seorang murid Bloom yang bernama Lorin Anderson merevisi taksonomi Bloom pada tahun 1990. Hasil perbaikannya dipublikasikan pada tahun 2001 dengan nama Revisi Taksonomi Bloom. Dalam revisi ini ada perubahan kata kunci, Masing-masing kategori masih diurutkan secara hirarkis dari urutan terendah ke yang lebih tinggi. Pada ranah kognitif kemampuan berpikir analisis dan sintesis diintegrasikan menjadi analisis saja. Dari jumlah enam kategori pada konsep terdahulu tidak berubah jumlahnya karena Lorin memasukan kategori baru yaitu creating yang sebelumnya tidak ada.
Taksonomi  Hasil revisi Anderson pada Ranah Kognitif adalah: 
Mengingat, Kata-kata operasional yang digunakan adalah mengurutkan, menjelaskan, mengidentifikasi, menamai, menempatkan, mengulangi, menemukan kembali.
 Memahami, Kata-kata operasional yang digunakan adalah menafsirkan, meringkas mengklasifikasikan, membandingkan, menjelaskan, membeberkan.
Menerapkan, Kata-kata operasional yang digunakan adalah melaksanakan, menggunakan, menjalankan, melakukan, mempraktekan, memilih, menyusun, memulai, menyelesaikan, mendeteksi. 
Menganalisis, Kata-kata operasional yang digunakan adalah menguraikan, membandingkan, mengorganisir, menyusun ulang, mengubah struktur, mengkerangkakan, menyusun outline, mengintegrasikan, membedakan, menyamakan, membandingkan, mengintegrasikan.
Mengevaluasi, Kata-kata operasional yang digunakan adalah menyusun hipotesi, mengkritik, memprediksi, menilai, menguji, membenarkan, menyalahkan.
Berkreasi, Kata-kata operasional yang digunakan adalah merancang, membangun, merencanakan, memproduksi, menemukan, membaharui, menyempurnakan, memperkuat, memperindah, menggubah.
Dalam berbagai aspek dan setelah melalui revisi, taksonomi Bloom tetap menggambarkan suatu proses pembelajaran, cara kita memproses suatu informasi sehingga dapat dimanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa prinsip didalamnya adalah (1)  Sebelum kita memahami sebuah konsep maka kita harus mengingatnya terlebih dahulu, (2) Sebelum kita menerapkan maka kita harus memahaminya terlebih dahulu, (3) Sebelum kita mengevaluasi dampaknya maka kita harus mengukur atau menilai, (4) Sebelum kita berkreasi sesuatu maka kita harus mengingat, memahami, mengaplikasikan, menganalisis dan mengevaluasi, serta memperbaharui.
Pentahapan berpikir seperti itu bisa jadi mendapat sanggahan dari sebagian orang. Alasannya, dalam beberapa jenis kegiatan, tidak semua tahap seperti itu diperlukan. Contohnya dalam menciptakan sesuatu tidak harus melalui pentahapan itu. Hal itu kembali pada kreativitas individu. Proses pembelajaran dapat dimulai dari tahap mana saja. Namun, model pentahapan itu sebenarnya melekat pada setiap proses pembelajaran secara terintegrasiSebagian orang juga menyanggah pembagian pentahapan berpikir seperti itu karena dalam kenyataannya siswa seharusnya berpikir secara holistik. Ketika kemampuan itu dipisah-pisah maka siswa dapat kehilangan kemampuannya untuk menyatukan kembali komponen-komponen yang sudah terpisah. Model penciptaaan suatu produk baru atau menyelesaian suatu proyek tertentu lebih baik dalam memberikan tantangan terpadu yang mendorong siswa untuk berpikir secara kritis.
 Perbandingan Taksonomi Bloom dan Hasil revisinya untuk ranah kognitif dapat dilihat pada tabel berikut ini.
 
http://2.bp.blogspot.com/-dErptWKOQ3A/UKSVqL2urKI/AAAAAAAAAIA/YkI1VQWgADg/s1600/Bloom.jpg
Dari tabel tersebut maka dapat dikemukakan beberapa kesimpulan sebagai berikut : 
(1) Tingkatan tingkah laku pada taksonomi bloom yang lama menggunakan kata sifat sedangkan Anderson mengubahnya dengan menggunakan kata kerja. (2) Tingkatan terendah (C1) Pengetahuan diganti dengan Mengingat. (3) Tingkatan C5 Sintesa dan tingkatan C6 Evaluasi dilebur menjadi Mengevaluasi yang berkedudukan pada tingkatan C5. (4) Tingkatan C6 digantikan menjadi Berkreasi.
 
 
 
sumber :
Benjamin.S.Bloom

Kamis, 27 Februari 2014

SEKOLAH ALAM SEBAGAI SARANA PENDIDIKAN ANAK DI DAERAH TERBELAKANG

SEKOLAH ALAM SEBAGAI SARANA PENDIDIKAN
ANAK DI DAERAH TERBELAKANG









Oleh

NAMA            :  I PUTU SUTRISNA
NIM                :  1329041045
NO ABSEN    :  05
KELAS           :  B2




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DASAR
PROGRAM PASCA SARJANA
UNDIKSHA
2014


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
            Pendidikan merupakan pondasi pembangunan suatu bangsa, jika pendidikan tidak berjalan dengan maksimal, maka pembangunan tidak akan terlaksana secara optimal. Hal ini dikarenakan pendidikan merupakan media pembangunan yang memiliki posisi paling strategis dalam sebuah negara. Pendidikan juga merupakan sarana transformasi ilmu pengetahuan, yang meliputi sosialisasi ilmu pengetahuan, pengembangan ilmu pengetahuan, sosialisasi norma dan nilai dalam masyarakat, baik budaya, agama, maupun idiologi. Indonesia merupakan negara dunia ketiga yang sedang melakukan pembangunan pendidikan sebagaimana yang diamanatkan Undang-Undang Dasar 1945, namun dalam perjalanannya timbul berbagai penyimpangan dan masalah-masalah didalam proses perealisasiannya. Kualitas pendidikan di Indonesia saat ini dapat dikatakan masih sangat rendah, hal ini dibuktikan dengan data UNESCO (2000) tentang peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kapita yang menunjukkan, bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia semakin menurun.
Pada hakikatnya pendidikan adalah hak dasar bagi setiap warga negara Indonesia untuk dapat menikmatinya. Pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan oleh manusia agar dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran (Munib, 2009:139). Keberadaan pendidikan yang sangat penting tersebut telah diakui dan sekaligus memiliki legalitas yang sangat kuat sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 (1) yang menyebutkan bahwa:” Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan”. Hak memperoleh pendidikan ini diperjelas dengan pasal 31 (2) yang bunyinya:”Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya”. Selanjutnya pada ayat (3) dituangkan pernyataan yang berbunyi:”Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang”. Dari uraian tadi dapat disimpulkan bahwa setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan yang layak terutama pendidikan dasar. Selain membahas tentang pendidikan sebagai suatu hak, pasal 31 juga mempertegas bahwa pendidikan (terutama pendidikan dasar) merupakan kewajiban bagi setiap warga negara dan pemerintah wajib membiayainya.
Akan tetapi belum semua warga negara menikmati pendidikan sebagai hak dasar mereka. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya adalah kurangnya pembangunan prasarana dan sarana pendidikan terutama di daerah terbelakang. Prasarana dan sarana pendidikan ini merupakan salah satu komponen pendidikan yang sangat penting keberadaaannya. Dengan prasarana dan sarana yang memadai seperti buku pelajaran, ruangan yang nyaman, tenaga pengajar yang memadai akan membantu siswa untuk bisa belajar lebih baik bahkan media pembelajaran terkini yang menggunakan LCD dan komputer juga sangat diperlukan untuk zaman sekarang ini. Namun pada kenyataannya jika kita lihat direalita semua itu jauh dari apa yang ada pada konsep, tenaga pengajar yang kurang, gedung sekolah yanag rusak parah, bocor dan tidak layak untuk dipakai, buku pelajaran yang tidak ada  membuat warga nega tidak bisa mendapatkan haknya yang seharusnya mereka dapatkan.
Terdapat berbagai alasan mengapa daerah-daerah pelosok hingga kini masih sulit untuk mendapatkan pendidikan yang layak, dari mulai masalah biaya  sampai akses tempat yang tidak memungkinkan untuk dijangkau pendidikan modern. Dan Sampai kapanpun kita tidak akan pernah bisa menerapkan pendidikan yang lebih baik, jika tidak pernah ada penyelesaian untuk pemerataan distribusi prasarana dan sarana pendidikan ke sekolah-sekolah di pelosok Indonesia. Sebenarnya jika kita lihat anggaran negara sebesar 20% yang dialokasikan untuk pendidikan hanya sia-sia jika tak ada refleks dari para petinggi kita. Semuanya bisa saja dirancang dalam sebuah dokumen dengan perencanaan yang bagus dan matang, tapi penerapan tak pernah ada bahkan disetiap meja terjadi potongan anggaran.
Untuk pendidikan dipulau jawa memang bisa dikatakan cukup mengikuti perkemabangan zaman, namun jika kita lihat saudara-saudara kita yang ada diluar sana seperti dipapua, NTB, NTT dan daerah-daerah lainnya masih sangat jauh dari kata cukup bahkan mungkin memprihatinkan. Jika kita pikirkan lebih jauh timbul berbagai pertanyaan, jika memang yang menjadi kendala untuk majunya pendidikan diderah pelosok tersebut karena sarana transportasi yang tidak memungkinkan (jalan rusak, saran komunikasi yang tidak ada, lokasi yang tidak mungkin dijangkau dengan saran umum) sehingga sangat sulit untuk dijangkau. Jika memang itu permasalahannya maka seharusnya pemerintaih membagun sarana transportasi dan fasilitas lain (jalan, telepon umum) yang lebih baik karena semuanya telah ada anggarannya masih-masing, seharusnya pemerintah bisa memanfaatkan anggaran itu dengan sebaik-baiknya sehingga tidak ada kesana bahwa pusat kemajuan hanya berpusat dipulau jawa saja. Jika hanya menunggu untuk memperoleh bantuan dari pusat maka pembelajaran tidak akan berjalan, semua stakeholder harus bergerak walaupun kita berada di daerah terbelakang, kita harus memiliki upaya untuk dapat melaksanakan pendidikan 9 tahun untuk anak-anak kita didaerah terbelakang. Salah satu upaya tersebut adalah dengan mengagas konsep sarana belajar anak di daerah terbelakang dengan konsep “sekolah alam”.
Sekolah alam tidak menggunakan bangunan gedung yang mewah melainkan menyesuaikan dengan lingkungan di daerah tersebut, karena pembelajaran tidak harus di dalam ruangan kelas tetapi proses pembelajaran dapat dilakukan dimanapun yang terpenting adalah terdapat interaksi siswa dengan sumber belajar yang dalam materi yang sedang didalaminya. Lebih jauh akan diulas dalam makalah ini tentang konsep sekolah alam sebagai sarana pendidikan di derah terbelakang.


B.     Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada makalah ini adalah bagaimana sekolah alam sebagai sarana pendidikan di daerah terpencil?
C.    Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan penelitian pada makalah ini adalah   mengetahui konsep sekolah alam sebagai sarana pendidikan di daerah terpencil.














BAB II
PEMBAHASAN

A.    Hakikat Sekolah Alam
Salah satu bentuk sistem pendidikan yang digagas untuk mengatasi kurangnya sarana pendidikan di daerah terbelakang adalah pendidikan sekolah alam. Alam ciptaan Tuhan adalah sumber pengetahuan yang luas dan berlimpah. Tidak perlu membeli, menyewa, atau mengorbankan materi untuk dapak memanfaatkan alam sebagai sarana pendidikan.  Jadi sistem pendidikan sekolah alam ini berbeda dari sekolah formal umumnya. Sekolah alam hadir dengan konsep pendidikan kontekstual. Dengan konsep pendidikan sekolah alam, yakni: (1)  Alam sebagai ruang belajar. (2) Alam sebagai media dan bahan mengajar. (3) Alam sebagai objek pembelajaran. Ini menciptakan persepsi stakeholder dunia pendidikan di daerah terbelakang bahwa bersekolah bukan lagi beban. Sekolah adalah realitas kehidupan yang mereka jalani dengan penghayatan penuh. Sekolah adalah sumber kegembiraan, sarana bersosialisasi dan menuntut ilmu pengetahuan. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya bukan mengetahuinya, pembelajaran yang berorientasi pada target penguasaan materi yang terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. Hal itulah yang terjadi di kelas-kelas sekolah saat ini.
Dengan hadirnya konsep sekolah alam di daerah terbelakang sebagai pengganti sekolah formal pada umumnya membuat anak-anak yang berada di daerah tersebut dapat mengenyam pendidikan secara baik. Guru dan sumber belajarnya dapat menyesuaikan dengan materi yang dipelajari yang sebisamungkin mengikuti kurikulum pemerintah pusat. Sehingga diharapkan inspirasi dari hadirnya sekolah alam menjadi alternatif dalam menciptakan susana belajar yang menyenangkan dan membuat anak-anak senang dan merasa bahwa belajar adalah suatu kebutuhan dan kesenangan bukan sesuatu yang membosankan dan harus dipaksakan.
Sekolah alam menjadi sebuah impian yang jadi kenyataan bagi mereka yang ingin mengenyam pendidikan diusia anak-anak namun karena terbatasnya sarana, prasarana serta inprastruktur dari pemerintah di daerah mereka yang terbelakang membuat mereka putus sekolah dan bekerja membantu orang tuanya bekerja.
Dalam konsep pembelajaran sekolah alam sangat menyesuaikan dengan lingkungan, karakteristek kenampakan alam, mata pencaharian, serta iklim tempat sekolah tersebut berdiri. Esensinya adalah ketika siswa selesai mengenyam ilmu pengetahuan di sekolah tersebut, dia dapat bertahan hidup memanfaatkan sumberdaya yang ada serta menjadikannya sebagai profesi yang menjanjikan. Sehingga dengan menerapkan moetode yang tepat dengan sumberdaya yang tepat diharapkan akan dapat meningkatkan kemakmuran daerah tersebut dan tidak lagi diberi sebutan daerah terbelakang. Berdasarkan hal tersebut, sangatlah penting untuk mengaplikasikan konsep  pendidikan yang menyelenggarakan sistem pembelajaran yang menghargai setiap potensi yang ada seperti sekolah alam. Dalam pembelajaran dapat diselaraskan dengan kondisi psikologis siswa, sehingga otak mereka akan sangat mudah untuk bekerja sama dalam proses pembelajaran dan proses belajar pun akan menjadi sangat optimal dan efektif.

B.     Ciri khas sekolah alam
Adapun Ciri – ciri sekolah alam adalah sebagai berikut.
1)      Para murid lebih banyak belajar di alam terbuka.
2)      Metode pembelajaran lebih banyak menggunakan metode action learning / konsep learning to do.
3)      Alam adalah
4)       rooh dalam pembelajaran
5)      Pemanfaatan alam sebagai media belajar bertujuan agar murid lebih peduli dengan lingkungan dan bisa menerapkan pengetahuan yang dipelajari dikemudian hari.
6)      Tanpa Sarana dan fasilitas TI aktivitas pembelajaran dapat tetap berjalan.   

C.     Kelebihan Sekolah Alam
1)      Mengatasi kekurangan sarana dan prasarana pembelajaran.
2)      Tidak perlu biaya berupa uang untuk memanfaatkan alam sekitar sebagai fasilitas dan sarana pembelajaran.
3)      Anak tidak hanya terpaku pada teori saja, tetapi bisa mengalami langsung pengetahuan yang dipelajari.
4)      Tidak ada istilah ruangan kelas roboh karena aktivitas pembelajaran tidak selalu di dalam ruangan kelas.

D.    Gambar Pelaksanaan Sekolah Alam








Gambar 01. Siswa Belajar Bercocok tanam
Gambar 02. Siswa Belajar Berkebun
Gambar 03. Siswa Belajar Beternak

Gambar 04. Siswa Belajar di alam (tidak harus dalam ruangan)

BAB III
PENUTUP
A.    Simpulan
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa salah satu solusi yang dapat mengatasi kekurangan sarana dan prasaran pendidikan di daerah terpencil adalah sekolah alam, dengan peran sekolah alam dapat membuat anak-anak usia sekolah mendapatkan pendidikan diluar sekolah guna membangun masa depan meraka yang lebih baik.











Daftar Pustaka
Anonim. 2013. http://aminiarin.blogspot.com/2013/04/hak-warga-negara-untuk-mendapatkan.html (diakses pada tanggal 18 desember 2013)
Anonim. 2013. http://mutiaraendah.wordpress.com/2009/12/11/sekolah-alam/  (diakses pada tanggal 18 desember 2013)

Selasa, 25 Februari 2014

Menumbuhkan Minat Baca Anak Melalui Sarana TIK



Menumbuhkan Minat Baca Anak Melalui Sarana TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi)

            Menumbuhkan minat baca anak sejak dini merupakan kewajiban setiap orang tua yang harus dipenuhi. Budaya gemar membaca dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia karena usaha tersebut berhubungan langsung dengan proses belajar. Dalam era digital membaca merupakan modal utama dalam belajar. Minat membaca harus dimulai sedini mungkin di lingkungan keluarga, karena lebih mudah menanamkan kebiasaan sesuatu yang baik dari sejak kecil agar menjadi suatu kebiasaan dan agar tertanam di usia selanjutnya. Keteladanan orang tua dalam proses menumbuhkan minat baca sejak dini dapat mengurangi hambatan yang ada, seperti memanfaatkan waktu senggang dengan membacakan buku kepada anak akan dapat meningkatkan motivasi dan kemauan minat baca selanjutnya. Dampak orang tua yang suka membaca akan memacu anaknya untuk mengikuti jejaknya, karena berbagai jenis bacaan mengandung ilmu pengetahuan dari yang dasar hingga yang canggih, dari yang sederhana hingga pengetahuan yang kompleks
Hambatan yang muncul berkaitan dengan menumbuhkan minat baca sejak dini adalah terbatasnya buku yang sesuai dengan usia dini (anak) yang menarik dan mahalnya harga buku sangat memberatkan orang tua dalam membangun kebiasaan membaca anak. Selain itu tantangan yang dihadapi di rumah sekarang ini adalah kehadiran media TIK semacam TV, computer, tablet, PS, game online dan ajakan teman-temannya bermain di luar rumah. Media TIK layaknya seperti Pedang yang bermata dua, jika salah dimanfaatkan maka dapat menurunkan minat baca anak, peran kita sebagai orang tua hendaknya mengarahkan media TIK tersebut agar dapat meningkatkan minat baca anak dirumah. Agar dapat memanfaatkan media TIK untuk meningkatkan minat baca anak kita sebagai orang tua hendaknya paham apa itu TIK dan apa saja jenisnya yang dapat kita manfaatkan untuk menumbuhkan minat baca anak. Teknologi Informasi dan Komunikasi, TIK (bahasa Inggris: Information and Communication Technologies; ICT) adalah payung besar terminologi yang mencakup seluruh peralatan teknis untuk memproses dan menyampaikan informasi. TIK mencakup dua aspek yaitu teknologi informasi dan teknologi komunikasi. Teknologi informasi meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi. Sedangkan teknologi komunikasi adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke lainnya. Oleh karena itu, teknologi informasi dan teknologi komunikasi adalah dua buah konsep yang tidak terpisahkan.
Jadi Teknologi Informasi dan Komunikasi mengandung pengertian luas yaitu segala kegiatan yang terkait dengan pemrosesan, manipulasi, pengelolaan, pemindahan informasi antar media. Istilah TIK muncul setelah adanya perpaduan antara teknologi komputer (baik perangkat keras maupun perangkat lunak) dengan teknologi komunikasi pada pertengahan abad ke-20. Perpaduan kedua teknologi tersebut berkembang pesat melampaui bidang teknologi lainnya. Hingga awal abad ke-21 TIK masih terus mengalami berbagai perubahan kearah yang semakin baik. Hal ini hendaknya dimanfaatkan para orang tua untuk dapat memanfaatkan TIK dengan benar yaitu dengan TIK kita menumbuhkan minat baca anak sejak dini. Adapun langkah – langkah yang dapat dilakukan orang tua dalam menumbuhkan minat baca anak melalui sarana TIK yaitu :
A.    Obeservasi kecenderungan kegemaran anak dalam bidang apa. Contohnya binatang.   
B.     Ajak anak mulai membaca melalui benda yang anak senangi. Dengan tablet misalnya.
C.     Berikan tauladan orang tua yang gemar membaca dihadapan anak dalam aktivitas keseharian. Contohnya membaca majalah
D.    Berikan hadiah yang berkaitan dengan aktivitas belajar membaca pada saat anak berulang tahun
E.     Luangkan waktu bersama anak untuk membimbing anak dalam aktivitas membaca dengan berbagai fasilitas yang disukainya.
Dalam merangsang aktivitas membaca tentunya dibutuhkan sarana dan fasilitas penunjang. Berikut ini adalah saran TIK yang dapat dimanfaatkan dalam menumbuhkan minat baca anak.
1.      Dengan Tablet android (computer portebel)
Gambar 1.1 Tablet dengan aplikasi edukatif
 
Sabak elektronik atau komputer tablet (bahasa Inggris: tablet computer), atau ringkasnya tablet, adalah suatu komputer portabel lengkap yang seluruhnya berupa layar sentuh datar. Ciri pembeda utamanya adalah penggunaan layar sebagai peranti masukan dengan menggunakan stilus, pena digital, atau ujung jari, alih-alih menggunakan papan ketik atau tetikus. (http://id.wikipedia.org/wiki/Tablet_computer)

Gambar 1.2 Tablet dengan aplikasi edukatif
 
Description: Description: Description: Description: Description: http://4.bp.blogspot.com/-HGWaOlSs0cE/ThvRjfYT6RI/AAAAAAAAAiY/9Yhsxmp1bBI/s320/Leap1.jpgDengan tablet android orang tua dapat menumbuhkan minat baca anak dengan mengunduhkan aplikasi – aplikasi edukatif yang tersedia dan dapat diunduh secara gratis melalui jaringan internet sehingga pengeluaran untuk pembelian buku dapat ditekan. Tablet disamping dapat menyimpan lebih dari 100 macam game dan aplikasi yang dibuat khusus untuk meningkatkan kreativitas, performa serta prestasi anak dalam dalam kehidupan sehari-hari khususnya pendidikan. Dengan menggunakan sarana TIK ini, anak-anak bisa melakukan banyak hal, dari bermain sambil belajar membaca, menulis, berhitung dan mengembangkan wawasan dibidang geografi, seni, sastra dan lainnya.  
2.      Dengan Buku Elektronik
Buku elektronik (disingkat Buku-e atau e-book) atau buku digital adalah versi elektronik dari buku. Jika buku pada umumnya terdiri dari kumpulan kertas yang dapat berisikan teks atau gambar, maka buku elektronik berisikan informasi digital yang juga dapat berwujud teks atau gambar. Dewasa ini buku elektronik diminati karena ukurannya yang kecil bila dibandingkan dengan buku, dan juga umumnya memiliki fitur pencarian, sehingga kata-kata dalam buku elektronik dapat dengan cepat dicari dan ditemukan. Terdapat berbagai format buku elektronik yang populer, antara lain adalah teks polos, pdf, jpeg, doc lit dan html. Masing-masing format memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan juga bergantung dari alat yang digunakan untuk membaca buku elektronik tersebut. (http://id.wikipedia.org/wiki/Buku_elektronik)
Gambar 1.3 e-book untuk anak-anak
 
            Dibandingkan aplikasi edukatif yang ada dalam computer portebel buku elektronik (e-book)  lebih polos dan tidak bisa bergerak. Tapi dalam menumbuhkan minat baca e-book sangat berperan positif jika orang tua dapat menyediakan e-book yang sesuai dengan minat anak. Mendapatkan e-book pada saat ini tidak terlalu sulit, kita hanya perlu mengunduhnya melalui internet dan hanya beberapa e-book saja yang memerlukan uang untuk mendapatkannya. Tampilan e-book dapat dilihat pada gambar disamping.   
            Jadi TIK merupakan sarana yang sangat membantu manusia dalam segala hal, para ahli teknologi semakin berlomba untuk menemukan alat-alat yang lebih canggih dari sebelumnya. Terkadang TIK memang dapat memberikan kontribusi negatif bagi penggunanya seperti menjadi malas, mengunggah hal-hal porno, kurangnya waktu bersosialisasi dengan lingkungan luar, tetapi ketika kita selaku orang tua dapat mengarahkan TIK sebagai sarana edukasi, maka salah satu point seperti minat membaca anak dapat diasah sejak dini.

DAFTAR RUJUKAN

Anonim. 2013. http://deviselviana3.blogspot.com/  (diakses pada tanggal 14 desember 2013)
Anonim. 2013 https://www.google.com/url?url=http://alvakarana.student.umm.ac.id (diakses pada tanggal 14 desember 2013)
Anonim. 2013. http://id.wikipedia.org/wiki/Teknologi_Informasi_Komunikasi (diakses pada tanggal 14 desember 2013)
Anonim. 2013. http://id.wikipedia.org/wiki/Tablet_computer  (diakses pada tanggal 14 desember 2013)
Anonim. 2013. http://id.wikipedia.org/wiki/Buku_elektronik (diakses pada tanggal 14 desember 2013)
Anonim.2013.http://www.sabda.org/gubuk/macammacam_format_buku_elektronik_ebuku  (diakses pada tanggal 14 desember 2013)

"Taksonomi Bloom Baru" demikianlah salah satu judul Makalah yang menjadi tugas saya waktu kuliah, dan inilah mungkin salah satu tugas dari sekian banyak tugas yang pernah saya kerjakan seadanya, hehe... kenapa demikian? karena mendengar dan mengetahuinya saja baru saat diberi tugas selain itu referensi terkait hal itu belum ada yang berbahasa Indonesia. Untungnya ada Mas GOOGLE yang menterjemahkan dan memberi beberapa data.
Revisi Taksonomi Bloom, begitulah penamaan atas revisi yang dilakukan Lorin Anderson atas Taksonomi Bloom. Bagaimana persisnya ?.... berikut ringkasannya...
Benjamin S. Bloom adalah seorang psikologi pendidikan berkebangsaan Amerika Serikat memberikan kontribusi besar di bidang pendidikan dengan menyusun klasifikasi objektif kognitif kependidikan serta teori belajar tuntas (mastery learning). Konsep Taksonomi Bloom dikembangkan pada tahun 1956 oleh Benjamin S. Bloom bersama dengan rekannya Krathwohl.
Taksonomi Bloom membuat suatu klasifikasi berdasarkan urutan keterampilan berpikir dalam suatu proses yang semakin lama semakin tinggi tingkatannya. Mula-mula taksonomi bloom terdiri atas dua bagian yaitu ranah kognitif dan ranah afektif (cognitive domain and affective domain). Bloom tidak menambahkan ranah psikomotor. Akhirnya tahun 1966 Simpson menambahkan ranah psikomotor melengkapi apa yang tekah dibuat oleh Bloom. Dengan demikian menjadi tiga ranah yaitu ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotor. (Ketiga ranah tersebut tidak diuraikan karena merupakan taksonomi bloom yang lama, telah banyak referensi terkait hal itu).
Salah seorang murid Bloom yang bernama Lorin Anderson merevisi taksonomi Bloom pada tahun 1990. Hasil perbaikannya dipublikasikan pada tahun 2001 dengan nama Revisi Taksonomi Bloom. Dalam revisi ini ada perubahan kata kunci, Masing-masing kategori masih diurutkan secara hirarkis dari urutan terendah ke yang lebih tinggi. Pada ranah kognitif kemampuan berpikir analisis dan sintesis diintegrasikan menjadi analisis saja. Dari jumlah enam kategori pada konsep terdahulu tidak berubah jumlahnya karena Lorin memasukan kategori baru yaitu creating yang sebelumnya tidak ada.
Taksonomi  Hasil revisi Anderson pada Ranah Kognitif adalah: 
Mengingat, Kata-kata operasional yang digunakan adalah mengurutkan, menjelaskan, mengidentifikasi, menamai, menempatkan, mengulangi, menemukan kembali.
 Memahami, Kata-kata operasional yang digunakan adalah menafsirkan, meringkas mengklasifikasikan, membandingkan, menjelaskan, membeberkan.
Menerapkan, Kata-kata operasional yang digunakan adalah melaksanakan, menggunakan, menjalankan, melakukan, mempraktekan, memilih, menyusun, memulai, menyelesaikan, mendeteksi. 
Menganalisis, Kata-kata operasional yang digunakan adalah menguraikan, membandingkan, mengorganisir, menyusun ulang, mengubah struktur, mengkerangkakan, menyusun outline, mengintegrasikan, membedakan, menyamakan, membandingkan, mengintegrasikan.
Mengevaluasi, Kata-kata operasional yang digunakan adalah menyusun hipotesi, mengkritik, memprediksi, menilai, menguji, membenarkan, menyalahkan.
Berkreasi, Kata-kata operasional yang digunakan adalah merancang, membangun, merencanakan, memproduksi, menemukan, membaharui, menyempurnakan, memperkuat, memperindah, menggubah.
Dalam berbagai aspek dan setelah melalui revisi, taksonomi Bloom tetap menggambarkan suatu proses pembelajaran, cara kita memproses suatu informasi sehingga dapat dimanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa prinsip didalamnya adalah (1)  Sebelum kita memahami sebuah konsep maka kita harus mengingatnya terlebih dahulu, (2) Sebelum kita menerapkan maka kita harus memahaminya terlebih dahulu, (3) Sebelum kita mengevaluasi dampaknya maka kita harus mengukur atau menilai, (4) Sebelum kita berkreasi sesuatu maka kita harus mengingat, memahami, mengaplikasikan, menganalisis dan mengevaluasi, serta memperbaharui.
Pentahapan berpikir seperti itu bisa jadi mendapat sanggahan dari sebagian orang. Alasannya, dalam beberapa jenis kegiatan, tidak semua tahap seperti itu diperlukan. Contohnya dalam menciptakan sesuatu tidak harus melalui pentahapan itu. Hal itu kembali pada kreativitas individu. Proses pembelajaran dapat dimulai dari tahap mana saja. Namun, model pentahapan itu sebenarnya melekat pada setiap proses pembelajaran secara terintegrasiSebagian orang juga menyanggah pembagian pentahapan berpikir seperti itu karena dalam kenyataannya siswa seharusnya berpikir secara holistik. Ketika kemampuan itu dipisah-pisah maka siswa dapat kehilangan kemampuannya untuk menyatukan kembali komponen-komponen yang sudah terpisah. Model penciptaaan suatu produk baru atau menyelesaian suatu proyek tertentu lebih baik dalam memberikan tantangan terpadu yang mendorong siswa untuk berpikir secara kritis.
 Perbandingan Taksonomi Bloom dan Hasil revisinya untuk ranah kognitif dapat dilihat pada tabel berikut ini.
 
http://2.bp.blogspot.com/-dErptWKOQ3A/UKSVqL2urKI/AAAAAAAAAIA/YkI1VQWgADg/s1600/Bloom.jpg
Dari tabel tersebut maka dapat dikemukakan beberapa kesimpulan sebagai berikut : 
(1) Tingkatan tingkah laku pada taksonomi bloom yang lama menggunakan kata sifat sedangkan Anderson mengubahnya dengan menggunakan kata kerja. (2) Tingkatan terendah (C1) Pengetahuan diganti dengan Mengingat. (3) Tingkatan C5 Sintesa dan tingkatan C6 Evaluasi dilebur menjadi Mengevaluasi yang berkedudukan pada tingkatan C5. (4) Tingkatan C6 digantikan menjadi Berkreasi.
 
 
 
sumber :
Benjamin.S.Bloom

Diposkan oleh Putu Sutrisna
SEKOLAH ALAM SEBAGAI SARANA PENDIDIKAN
ANAK DI DAERAH TERBELAKANG









Oleh

NAMA            :  I PUTU SUTRISNA
NIM                :  1329041045
NO ABSEN    :  05
KELAS           :  B2




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DASAR
PROGRAM PASCA SARJANA
UNDIKSHA
2014


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
            Pendidikan merupakan pondasi pembangunan suatu bangsa, jika pendidikan tidak berjalan dengan maksimal, maka pembangunan tidak akan terlaksana secara optimal. Hal ini dikarenakan pendidikan merupakan media pembangunan yang memiliki posisi paling strategis dalam sebuah negara. Pendidikan juga merupakan sarana transformasi ilmu pengetahuan, yang meliputi sosialisasi ilmu pengetahuan, pengembangan ilmu pengetahuan, sosialisasi norma dan nilai dalam masyarakat, baik budaya, agama, maupun idiologi. Indonesia merupakan negara dunia ketiga yang sedang melakukan pembangunan pendidikan sebagaimana yang diamanatkan Undang-Undang Dasar 1945, namun dalam perjalanannya timbul berbagai penyimpangan dan masalah-masalah didalam proses perealisasiannya. Kualitas pendidikan di Indonesia saat ini dapat dikatakan masih sangat rendah, hal ini dibuktikan dengan data UNESCO (2000) tentang peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kapita yang menunjukkan, bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia semakin menurun.
Pada hakikatnya pendidikan adalah hak dasar bagi setiap warga negara Indonesia untuk dapat menikmatinya. Pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan oleh manusia agar dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran (Munib, 2009:139). Keberadaan pendidikan yang sangat penting tersebut telah diakui dan sekaligus memiliki legalitas yang sangat kuat sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 (1) yang menyebutkan bahwa:” Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan”. Hak memperoleh pendidikan ini diperjelas dengan pasal 31 (2) yang bunyinya:”Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya”. Selanjutnya pada ayat (3) dituangkan pernyataan yang berbunyi:”Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang”. Dari uraian tadi dapat disimpulkan bahwa setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan yang layak terutama pendidikan dasar. Selain membahas tentang pendidikan sebagai suatu hak, pasal 31 juga mempertegas bahwa pendidikan (terutama pendidikan dasar) merupakan kewajiban bagi setiap warga negara dan pemerintah wajib membiayainya.
Akan tetapi belum semua warga negara menikmati pendidikan sebagai hak dasar mereka. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya adalah kurangnya pembangunan prasarana dan sarana pendidikan terutama di daerah terbelakang. Prasarana dan sarana pendidikan ini merupakan salah satu komponen pendidikan yang sangat penting keberadaaannya. Dengan prasarana dan sarana yang memadai seperti buku pelajaran, ruangan yang nyaman, tenaga pengajar yang memadai akan membantu siswa untuk bisa belajar lebih baik bahkan media pembelajaran terkini yang menggunakan LCD dan komputer juga sangat diperlukan untuk zaman sekarang ini. Namun pada kenyataannya jika kita lihat direalita semua itu jauh dari apa yang ada pada konsep, tenaga pengajar yang kurang, gedung sekolah yanag rusak parah, bocor dan tidak layak untuk dipakai, buku pelajaran yang tidak ada  membuat warga nega tidak bisa mendapatkan haknya yang seharusnya mereka dapatkan.
Terdapat berbagai alasan mengapa daerah-daerah pelosok hingga kini masih sulit untuk mendapatkan pendidikan yang layak, dari mulai masalah biaya  sampai akses tempat yang tidak memungkinkan untuk dijangkau pendidikan modern. Dan Sampai kapanpun kita tidak akan pernah bisa menerapkan pendidikan yang lebih baik, jika tidak pernah ada penyelesaian untuk pemerataan distribusi prasarana dan sarana pendidikan ke sekolah-sekolah di pelosok Indonesia. Sebenarnya jika kita lihat anggaran negara sebesar 20% yang dialokasikan untuk pendidikan hanya sia-sia jika tak ada refleks dari para petinggi kita. Semuanya bisa saja dirancang dalam sebuah dokumen dengan perencanaan yang bagus dan matang, tapi penerapan tak pernah ada bahkan disetiap meja terjadi potongan anggaran.
Untuk pendidikan dipulau jawa memang bisa dikatakan cukup mengikuti perkemabangan zaman, namun jika kita lihat saudara-saudara kita yang ada diluar sana seperti dipapua, NTB, NTT dan daerah-daerah lainnya masih sangat jauh dari kata cukup bahkan mungkin memprihatinkan. Jika kita pikirkan lebih jauh timbul berbagai pertanyaan, jika memang yang menjadi kendala untuk majunya pendidikan diderah pelosok tersebut karena sarana transportasi yang tidak memungkinkan (jalan rusak, saran komunikasi yang tidak ada, lokasi yang tidak mungkin dijangkau dengan saran umum) sehingga sangat sulit untuk dijangkau. Jika memang itu permasalahannya maka seharusnya pemerintaih membagun sarana transportasi dan fasilitas lain (jalan, telepon umum) yang lebih baik karena semuanya telah ada anggarannya masih-masing, seharusnya pemerintah bisa memanfaatkan anggaran itu dengan sebaik-baiknya sehingga tidak ada kesana bahwa pusat kemajuan hanya berpusat dipulau jawa saja. Jika hanya menunggu untuk memperoleh bantuan dari pusat maka pembelajaran tidak akan berjalan, semua stakeholder harus bergerak walaupun kita berada di daerah terbelakang, kita harus memiliki upaya untuk dapat melaksanakan pendidikan 9 tahun untuk anak-anak kita didaerah terbelakang. Salah satu upaya tersebut adalah dengan mengagas konsep sarana belajar anak di daerah terbelakang dengan konsep “sekolah alam”.
Sekolah alam tidak menggunakan bangunan gedung yang mewah melainkan menyesuaikan dengan lingkungan di daerah tersebut, karena pembelajaran tidak harus di dalam ruangan kelas tetapi proses pembelajaran dapat dilakukan dimanapun yang terpenting adalah terdapat interaksi siswa dengan sumber belajar yang dalam materi yang sedang didalaminya. Lebih jauh akan diulas dalam makalah ini tentang konsep sekolah alam sebagai sarana pendidikan di derah terbelakang.


B.     Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada makalah ini adalah bagaimana sekolah alam sebagai sarana pendidikan di daerah terpencil?
C.    Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan penelitian pada makalah ini adalah   mengetahui konsep sekolah alam sebagai sarana pendidikan di daerah terpencil.














BAB II
PEMBAHASAN

A.    Hakikat Sekolah Alam
Salah satu bentuk sistem pendidikan yang digagas untuk mengatasi kurangnya sarana pendidikan di daerah terbelakang adalah pendidikan sekolah alam. Alam ciptaan Tuhan adalah sumber pengetahuan yang luas dan berlimpah. Tidak perlu membeli, menyewa, atau mengorbankan materi untuk dapak memanfaatkan alam sebagai sarana pendidikan.  Jadi sistem pendidikan sekolah alam ini berbeda dari sekolah formal umumnya. Sekolah alam hadir dengan konsep pendidikan kontekstual. Dengan konsep pendidikan sekolah alam, yakni: (1)  Alam sebagai ruang belajar. (2) Alam sebagai media dan bahan mengajar. (3) Alam sebagai objek pembelajaran. Ini menciptakan persepsi stakeholder dunia pendidikan di daerah terbelakang bahwa bersekolah bukan lagi beban. Sekolah adalah realitas kehidupan yang mereka jalani dengan penghayatan penuh. Sekolah adalah sumber kegembiraan, sarana bersosialisasi dan menuntut ilmu pengetahuan. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya bukan mengetahuinya, pembelajaran yang berorientasi pada target penguasaan materi yang terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. Hal itulah yang terjadi di kelas-kelas sekolah saat ini.
Dengan hadirnya konsep sekolah alam di daerah terbelakang sebagai pengganti sekolah formal pada umumnya membuat anak-anak yang berada di daerah tersebut dapat mengenyam pendidikan secara baik. Guru dan sumber belajarnya dapat menyesuaikan dengan materi yang dipelajari yang sebisamungkin mengikuti kurikulum pemerintah pusat. Sehingga diharapkan inspirasi dari hadirnya sekolah alam menjadi alternatif dalam menciptakan susana belajar yang menyenangkan dan membuat anak-anak senang dan merasa bahwa belajar adalah suatu kebutuhan dan kesenangan bukan sesuatu yang membosankan dan harus dipaksakan.
Sekolah alam menjadi sebuah impian yang jadi kenyataan bagi mereka yang ingin mengenyam pendidikan diusia anak-anak namun karena terbatasnya sarana, prasarana serta inprastruktur dari pemerintah di daerah mereka yang terbelakang membuat mereka putus sekolah dan bekerja membantu orang tuanya bekerja.
Dalam konsep pembelajaran sekolah alam sangat menyesuaikan dengan lingkungan, karakteristek kenampakan alam, mata pencaharian, serta iklim tempat sekolah tersebut berdiri. Esensinya adalah ketika siswa selesai mengenyam ilmu pengetahuan di sekolah tersebut, dia dapat bertahan hidup memanfaatkan sumberdaya yang ada serta menjadikannya sebagai profesi yang menjanjikan. Sehingga dengan menerapkan moetode yang tepat dengan sumberdaya yang tepat diharapkan akan dapat meningkatkan kemakmuran daerah tersebut dan tidak lagi diberi sebutan daerah terbelakang. Berdasarkan hal tersebut, sangatlah penting untuk mengaplikasikan konsep  pendidikan yang menyelenggarakan sistem pembelajaran yang menghargai setiap potensi yang ada seperti sekolah alam. Dalam pembelajaran dapat diselaraskan dengan kondisi psikologis siswa, sehingga otak mereka akan sangat mudah untuk bekerja sama dalam proses pembelajaran dan proses belajar pun akan menjadi sangat optimal dan efektif.

B.     Ciri khas sekolah alam
Adapun Ciri – ciri sekolah alam adalah sebagai berikut.
1)      Para murid lebih banyak belajar di alam terbuka.
2)      Metode pembelajaran lebih banyak menggunakan metode action learning / konsep learning to do.
3)      Alam adalah
4)       rooh dalam pembelajaran
5)      Pemanfaatan alam sebagai media belajar bertujuan agar murid lebih peduli dengan lingkungan dan bisa menerapkan pengetahuan yang dipelajari dikemudian hari.
6)      Tanpa Sarana dan fasilitas TI aktivitas pembelajaran dapat tetap berjalan.   

C.     Kelebihan Sekolah Alam
1)      Mengatasi kekurangan sarana dan prasarana pembelajaran.
2)      Tidak perlu biaya berupa uang untuk memanfaatkan alam sekitar sebagai fasilitas dan sarana pembelajaran.
3)      Anak tidak hanya terpaku pada teori saja, tetapi bisa mengalami langsung pengetahuan yang dipelajari.
4)      Tidak ada istilah ruangan kelas roboh karena aktivitas pembelajaran tidak selalu di dalam ruangan kelas.

D.    Gambar Pelaksanaan Sekolah Alam








Gambar 01. Siswa Belajar Bercocok tanam
Gambar 02. Siswa Belajar Berkebun
Gambar 03. Siswa Belajar Beternak

Gambar 04. Siswa Belajar di alam (tidak harus dalam ruangan)

BAB III
PENUTUP
A.    Simpulan
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa salah satu solusi yang dapat mengatasi kekurangan sarana dan prasaran pendidikan di daerah terpencil adalah sekolah alam, dengan peran sekolah alam dapat membuat anak-anak usia sekolah mendapatkan pendidikan diluar sekolah guna membangun masa depan meraka yang lebih baik.











Daftar Pustaka
Anonim. 2013. http://aminiarin.blogspot.com/2013/04/hak-warga-negara-untuk-mendapatkan.html (diakses pada tanggal 18 desember 2013)
Anonim. 2013. http://mutiaraendah.wordpress.com/2009/12/11/sekolah-alam/  (diakses pada tanggal 18 desember 2013)
Diposkan oleh Putu Sutrisna


Menumbuhkan Minat Baca Anak Melalui Sarana TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi)

            Menumbuhkan minat baca anak sejak dini merupakan kewajiban setiap orang tua yang harus dipenuhi. Budaya gemar membaca dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia karena usaha tersebut berhubungan langsung dengan proses belajar. Dalam era digital membaca merupakan modal utama dalam belajar. Minat membaca harus dimulai sedini mungkin di lingkungan keluarga, karena lebih mudah menanamkan kebiasaan sesuatu yang baik dari sejak kecil agar menjadi suatu kebiasaan dan agar tertanam di usia selanjutnya. Keteladanan orang tua dalam proses menumbuhkan minat baca sejak dini dapat mengurangi hambatan yang ada, seperti memanfaatkan waktu senggang dengan membacakan buku kepada anak akan dapat meningkatkan motivasi dan kemauan minat baca selanjutnya. Dampak orang tua yang suka membaca akan memacu anaknya untuk mengikuti jejaknya, karena berbagai jenis bacaan mengandung ilmu pengetahuan dari yang dasar hingga yang canggih, dari yang sederhana hingga pengetahuan yang kompleks
Hambatan yang muncul berkaitan dengan menumbuhkan minat baca sejak dini adalah terbatasnya buku yang sesuai dengan usia dini (anak) yang menarik dan mahalnya harga buku sangat memberatkan orang tua dalam membangun kebiasaan membaca anak. Selain itu tantangan yang dihadapi di rumah sekarang ini adalah kehadiran media TIK semacam TV, computer, tablet, PS, game online dan ajakan teman-temannya bermain di luar rumah. Media TIK layaknya seperti Pedang yang bermata dua, jika salah dimanfaatkan maka dapat menurunkan minat baca anak, peran kita sebagai orang tua hendaknya mengarahkan media TIK tersebut agar dapat meningkatkan minat baca anak dirumah. Agar dapat memanfaatkan media TIK untuk meningkatkan minat baca anak kita sebagai orang tua hendaknya paham apa itu TIK dan apa saja jenisnya yang dapat kita manfaatkan untuk menumbuhkan minat baca anak. Teknologi Informasi dan Komunikasi, TIK (bahasa Inggris: Information and Communication Technologies; ICT) adalah payung besar terminologi yang mencakup seluruh peralatan teknis untuk memproses dan menyampaikan informasi. TIK mencakup dua aspek yaitu teknologi informasi dan teknologi komunikasi. Teknologi informasi meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi. Sedangkan teknologi komunikasi adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke lainnya. Oleh karena itu, teknologi informasi dan teknologi komunikasi adalah dua buah konsep yang tidak terpisahkan.
Jadi Teknologi Informasi dan Komunikasi mengandung pengertian luas yaitu segala kegiatan yang terkait dengan pemrosesan, manipulasi, pengelolaan, pemindahan informasi antar media. Istilah TIK muncul setelah adanya perpaduan antara teknologi komputer (baik perangkat keras maupun perangkat lunak) dengan teknologi komunikasi pada pertengahan abad ke-20. Perpaduan kedua teknologi tersebut berkembang pesat melampaui bidang teknologi lainnya. Hingga awal abad ke-21 TIK masih terus mengalami berbagai perubahan kearah yang semakin baik. Hal ini hendaknya dimanfaatkan para orang tua untuk dapat memanfaatkan TIK dengan benar yaitu dengan TIK kita menumbuhkan minat baca anak sejak dini. Adapun langkah – langkah yang dapat dilakukan orang tua dalam menumbuhkan minat baca anak melalui sarana TIK yaitu :
A.    Obeservasi kecenderungan kegemaran anak dalam bidang apa. Contohnya binatang.   
B.     Ajak anak mulai membaca melalui benda yang anak senangi. Dengan tablet misalnya.
C.     Berikan tauladan orang tua yang gemar membaca dihadapan anak dalam aktivitas keseharian. Contohnya membaca majalah
D.    Berikan hadiah yang berkaitan dengan aktivitas belajar membaca pada saat anak berulang tahun
E.     Luangkan waktu bersama anak untuk membimbing anak dalam aktivitas membaca dengan berbagai fasilitas yang disukainya.
Dalam merangsang aktivitas membaca tentunya dibutuhkan sarana dan fasilitas penunjang. Berikut ini adalah saran TIK yang dapat dimanfaatkan dalam menumbuhkan minat baca anak.
1.      Dengan Tablet android (computer portebel)
Gambar 1.1 Tablet dengan aplikasi edukatif
 
Sabak elektronik atau komputer tablet (bahasa Inggris: tablet computer), atau ringkasnya tablet, adalah suatu komputer portabel lengkap yang seluruhnya berupa layar sentuh datar. Ciri pembeda utamanya adalah penggunaan layar sebagai peranti masukan dengan menggunakan stilus, pena digital, atau ujung jari, alih-alih menggunakan papan ketik atau tetikus. (http://id.wikipedia.org/wiki/Tablet_computer)

Gambar 1.2 Tablet dengan aplikasi edukatif
 
Description: Description: Description: Description: Description: http://4.bp.blogspot.com/-HGWaOlSs0cE/ThvRjfYT6RI/AAAAAAAAAiY/9Yhsxmp1bBI/s320/Leap1.jpgDengan tablet android orang tua dapat menumbuhkan minat baca anak dengan mengunduhkan aplikasi – aplikasi edukatif yang tersedia dan dapat diunduh secara gratis melalui jaringan internet sehingga pengeluaran untuk pembelian buku dapat ditekan. Tablet disamping dapat menyimpan lebih dari 100 macam game dan aplikasi yang dibuat khusus untuk meningkatkan kreativitas, performa serta prestasi anak dalam dalam kehidupan sehari-hari khususnya pendidikan. Dengan menggunakan sarana TIK ini, anak-anak bisa melakukan banyak hal, dari bermain sambil belajar membaca, menulis, berhitung dan mengembangkan wawasan dibidang geografi, seni, sastra dan lainnya.  
2.      Dengan Buku Elektronik
Buku elektronik (disingkat Buku-e atau e-book) atau buku digital adalah versi elektronik dari buku. Jika buku pada umumnya terdiri dari kumpulan kertas yang dapat berisikan teks atau gambar, maka buku elektronik berisikan informasi digital yang juga dapat berwujud teks atau gambar. Dewasa ini buku elektronik diminati karena ukurannya yang kecil bila dibandingkan dengan buku, dan juga umumnya memiliki fitur pencarian, sehingga kata-kata dalam buku elektronik dapat dengan cepat dicari dan ditemukan. Terdapat berbagai format buku elektronik yang populer, antara lain adalah teks polos, pdf, jpeg, doc lit dan html. Masing-masing format memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan juga bergantung dari alat yang digunakan untuk membaca buku elektronik tersebut. (http://id.wikipedia.org/wiki/Buku_elektronik)
Gambar 1.3 e-book untuk anak-anak
 
            Dibandingkan aplikasi edukatif yang ada dalam computer portebel buku elektronik (e-book)  lebih polos dan tidak bisa bergerak. Tapi dalam menumbuhkan minat baca e-book sangat berperan positif jika orang tua dapat menyediakan e-book yang sesuai dengan minat anak. Mendapatkan e-book pada saat ini tidak terlalu sulit, kita hanya perlu mengunduhnya melalui internet dan hanya beberapa e-book saja yang memerlukan uang untuk mendapatkannya. Tampilan e-book dapat dilihat pada gambar disamping.   
            Jadi TIK merupakan sarana yang sangat membantu manusia dalam segala hal, para ahli teknologi semakin berlomba untuk menemukan alat-alat yang lebih canggih dari sebelumnya. Terkadang TIK memang dapat memberikan kontribusi negatif bagi penggunanya seperti menjadi malas, mengunggah hal-hal porno, kurangnya waktu bersosialisasi dengan lingkungan luar, tetapi ketika kita selaku orang tua dapat mengarahkan TIK sebagai sarana edukasi, maka salah satu point seperti minat membaca anak dapat diasah sejak dini.

DAFTAR RUJUKAN

Anonim. 2013. http://deviselviana3.blogspot.com/  (diakses pada tanggal 14 desember 2013)
Anonim. 2013 https://www.google.com/url?url=http://alvakarana.student.umm.ac.id (diakses pada tanggal 14 desember 2013)
Anonim. 2013. http://id.wikipedia.org/wiki/Teknologi_Informasi_Komunikasi (diakses pada tanggal 14 desember 2013)
Anonim. 2013. http://id.wikipedia.org/wiki/Tablet_computer  (diakses pada tanggal 14 desember 2013)
Anonim. 2013. http://id.wikipedia.org/wiki/Buku_elektronik (diakses pada tanggal 14 desember 2013)
Anonim.2013.http://www.sabda.org/gubuk/macammacam_format_buku_elektronik_ebuku  (diakses pada tanggal 14 desember 2013)

Diposkan oleh Putu Sutrisna